Senin, 29 Desember 2008

Tunggu Bapepam_LK
PT ROYAL OAK DEVELOPMENT ASIA TBK SEGERA RIGHT ISSUE

JAKARTA – PT Royal Oak Development Asia Tbk (RODA) segera lakukan PUT II awal tahun 2009. Nilai yang ditargetkan diperoleh dari right issue sebesar Rp 5.389.920.000.000. Jumlah saham yang dilepas mencapai 53.899.200.000. “Saat ini sudah ada standby buyer yang commit sampai 6 triliun” kata Andrew Leong, Direktur Keuangan RODA, usai RUPS RODA beberapa waktu lalu.

Dana hasil right issue tersebut rencananya akan digunakan untuk kegiatan akuisisi perusahaan baru. Sebesar 73,63 persen dana hasil pelaksanaan HMETD akan digunakan untuk pembelian saham sebagai penyertaan pada Cozmo International. Nilainya setara dengan Rp 3.769.948.665.000. Sementara itu sisa dana right issue 26,23 persen, senilai Rp 1.343.255.702.022, akan dipakai untuk membeli saham PT Agrindo Indonesia Jaya.

Dalam PUT II tersebut juga akan diterbitkan Waran seri III sejumlah 4.491.600.000, dengan nilai sebesar Rp 449.160.000.000. Rasionya adalah setiap pemegang 12 saham baru hasil HMETD, berhak atas 1 waran baru ini. Namun begitu Andrew mengakui bahwa pihaknya saat ini masih menunggu pernyataan efektif dari Bapepam-LK. “Kita berharap keputusan bisa cepat, tapi mungkin baru Januari-Februari 2009” jelasnya.

Awal tahun 2008 ini RODA juga sempat melakukan PUT I. Dari PUT I tersebut jumlah modal RODA naik menjadi Rp 1,347 triliun. Dana tersebut kemudian digunakan untuk pengembangan usaha property menengah dan sector jasa keuangannya. Dana PUT I RODA tersebut, digunakan untuk akuisisi perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, yakni PT Trans Mutual Capita (TMC). Dalam RUPS beberapa waktu lalu, pemegang saham RODA juga menyetujui penambahan modal ke TMC menjadi Rp 40 miliar. “Ini hanya sebagai syarat untuk memenuhi ketentuan PP No 39/2008” kata Andrew. Total asset dari TMC sendiri mencapai Rp 755 miliar.

Dalam bidang property, saat ini RODA tengah mengembangkan beberapa proyek hunian. Diantaranya adalah Stupa Residence di Menteng dan Oakwood Premier Cozmo. Untuk Stupa Residence nilai investasinya mencapai Rp 145 miliar. Sejak dipasarkan awal 2008 lalu, kini baru terjual 10 unit dengan nilai penjualan mencapai Rp 20,91 miliar. Tingkat kolektivitasnyapun baru mencapai 22,37 persen. Selain kedua proyek tersebut, RODA juga berencana membangun 375 unit apartemen dan townhouse melalui proyek City Hill Residence Pejaten. “Kita juga sedang mengembangkan beberapa proyek di Bali” kata Subianto Satmaka, Dirut RODA.

RODA adalah salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan holding company Trans Pacific. Sektor usahanya adalah property dan jasa keuangan. Asset RODA per September 2008 mencapai Rp 1,589 triliun. Sebelumnya di tahun 2007 total assetnya hanya sebesar Rp 73,23 miliar. Pertumbuhan aktiva sebesar 2.070,1 persen ini adalah akibat adanya konsolidasi laporan keuangan dengan TMC. Nilai ini kemungkinan juga akan terus bertambah, karena selain adanya rencana PUT II, RODA juga telah mendapat persetujuan untuk menjual tanahnya yang berada di Tangerang. Diperkirakan dari penjualan tanah ini RODA akan mendapat tambahan dana Rp 33 miliar.

Subianto mengatakan jika memang benar PUT II jadi terlaksana, maka akan ada pengembangan sector usaha baru, yakni bioresources. Hal ini akibat dari akuisisi PT Agrindo Indonesia Jaya, yang bergerak di bidang proyek pemanfaatan hutan sagu dan pengolahannya. Pati yang dihasilkan dari sagu, jika diolah lebih lanjut akan menghasilkan ethanol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternative.

Jumlah kewajiban RODA per September 2008 mencapai Rp 261,69 miliar. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 2,97 miliar. Total ekuitas Q3 2008 ini menjadi Rp 1,315 triliun, setelah sebelumnya hanya sebesar Rp 70,25 miliar di tahun 2007. Peningkatan ekuitas ini adalah akibat dari penerimaan dana RP 1,288 triliun hasil PUT I awal tahun ini. RODA sendiri sampai September 2008, masih membukukan rugi bersih sebesar RP 460 juta. Tahun sebelumnya rugi bersih hanya sebesar Rp 38 juta. Namun begitu, sampai akhir tahun 2008, RODA berani menargetkan akan mandapat revenue di atas Rp 40 miliar.






Jumat, 26 Desember 2008

Garap Perkebunan
PT CITRA KEBUN RAYA AGRI BELANJAKAN DANA RP 1,1 TRILIUN SELAMA 2008

JAKARTA – Lebih dari 90 persen dana hasil PUT II PT Citra Kebun Raya Agri Tbk (CKRA) telah digunakan untuk investasi perkebunan dan pembangunan pabrik. Total dana hasil PUT adalah sebesar RP 1,22 triliun. Salah satu investasinya adalah akuisisi PT Horizon Agro Industri dengan 5 anak perusahaannya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa CKRA telah melakukan 2 kali right issue selama periode Januari-September 2008. Total dana yang berhasil dihimpun adalah Rp 1,22 triliun. Total akusisi pada sektor perkebunan sendiri mencapai Rp 1,1 triliun. Horizon memiliki perkebunan di beberapa tempat yakni Jambi, Bengkulu dan Palembang.

Perincian penggunaan dana PUT II adalah Rp 746.895.303.000 digunakan untuk melakukan pendanaan pembelian 749.999 saham PT Horozon Agro Industry. Nilai tersebut setara dengan kepemilikan 99,99 persen saham PT Horizon Agro Industry. Sisa dana Rp 213.896.697.000 digunakan untuk modal kerja PT Horizon Agro Industry melalui penanaman dan pembuatan pabrik.

PT Horizon Agro Industry sendiri adalah perusahaan yang usahanya bergerak di bidang perkebunan dan manufaktur. Lahan yang dimiliki PT Horizon Agro Industry adalah seluas 80.000 ha, dengan 5000 ha diantaranya telah ditanami. CKRA juga telah membangun pabrik tepung cassava di daerah Lampung dan Bengkulu. Pabrik dengan total investasi Rp 80 miliar itu diperkirakan selesai akhir 2009. Saat ini CKRA memang tengah fokus dalam pengembangan usaha perkebunannya. Komoditas yang menjadi unggulannya adalah kelapa sawit dan cassava. Dari total lahan 142.500 ha yang dimiliki CKRA, 57.000 ha diantaranya digunakan untuk perkebunan cassava. Sisa 85.000 ha ditanami kelapa sawit. Pasarnya sendiri saat ini 100 persen ekspor.

Direktur Utama CKRA, Hendri Soetjipto, Jumat (26/12), mengatakan, bahwa meskipun harga CPO turun, namun ia tetap optimis karena sudah ada pasar ekspor potensial. Ia memeperkirakan permintaan CPO dunia akan turun 30-40 persen akibat menurunnya industri makanan dan otomotif khususnya di USA."Demand USA saat ini mungkin turun, tapi untuk India, China dan Pakistan cukup bagus karena adanya program biofuel" katanya.

Harga CPO sendiri memang mengalami penurunan terpengaruh oleh krisis keuangan. Pada maret lalu harganya pernah mencapai 1.300 Dollar per ton, namun kini hanya berada pada kisaran 300 Dollar per ton. Untuk cassava sendiri penjualannya banyak dilakukan ke pasar China. Total produksi cassava per hektar mencapai 30-40 ton. Hendri mengatakan bahwa untuk usaha perkebunannya memang belum bisa memberikan kontribusi, karena baru saja mulai.

Kinerja keuangan Q3 2008 ini lebih banyak dipengaruhi oleh usaha property yang dulu digarap CKRA. Proyeksi penjualan sampai akhir tahun 2008 adalah Rp 13,4 miliar. Laba bersih juga diproyeksikan mencapai Rp 9,98 miliar. "Tahun 2009 kemungkinan juga tidak akan jauh--jauh dari itu" jelas Hendri.

Beban usaha Q3 2008 adalah sebesar Rp 7.736.165.780. Naik signifikan dari 2007 yang hanya sebesar Rp 2.060.537.882. Total aktiva yang dimiliki sampai September 2008 adalah Rp 1,4 triliun. Jumlah tersebut naik drastis 2.385 persen dari september 2007 yakni Rp 56,41 miliar. Hal ini akibat adanya akuisisi PT Horizon Agro Industri yang masuk konsolidasi. Pada pos kewajiban dari Rp 8,79 miliar pada 2007, kini mencapai Rp 170,76 miliar. menurut Hendri hal tersebut disebabkan oleh investasi pengembangan perkebunan di beberapa anak perusahaannya. Kewajiban lancarnya sendiri, per September 2008 mencapai Rp 19.910.546.426. Naik dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 8.345.005.009. Jumlha ekuitas CKRA per September 2008 adalah sebesar Rp 1.220.865.353.549. Naik drastic dari tahun 2007 sebesar Rp 47.619.383.551.

Susunan pemegang saham CKRA saat ini adalah 80 persen oleh Citra Group Pte Ltd, 12,11 persen dimiliki PT Kurnia Cemerlang, 1,78 persen oleh PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk, sebesar 1,12 persen dimiliki Oakfield Group Ltd, dan sisanya 4,99 persen beredar di masyarakat.


Kamis, 25 Desember 2008

Akuisisi Oleh Anak Usaha
PT NEW CENTURY DEVELOPMENT TBK AKUISISI 51 PERSEN SAHAM PT PETRA TANGERANG

JAKARTA – PT New Century Development Tbk (PTRA) melalui anak usahanya PT Putra Sewaya Persada telah mengakuisisi 51 persen saham PT Petra Tangerang. Akuisisi ini sendiri dilakukan PT Putra Sewaya Persada juga melalui anak usahanya yakni PT Sinar Surya Mandiri.

Terhitung sejak 22 Desember 2008, PT Sinar Surya Mandiri telah memiliki 255 lembar saham PT Petra Tangerang. Harga pembeliannya sendiri mencapai Rp 127.500.000 dengan harga nominal Rp 500.000 per lembar saham. Sebelumnya saham PT Petra Tangerang itu dimiliki oleh PT Faduma Jaya Indonesia.

PT Patra Tangerang sendiri adalah perusahaan yang kegiatan usahanya adalah property dan real estate. Saat ini PT Petra Tangerang juga tengah melakukan pembangunan proyeknya di daerah Curug, Tangerang. Proyeknya antara lain adalah pembangunan rumah sederhana, pergudangan, serta ruko. Proyek tersebut dibangun diatas lahan seluas 2,80 Ha yang terletak di Jalan Raya Cukanggalih.

Sebelumnya di bulan Februari lalu, juga pernah tersiar kabar bahwa PTRA akan melakukan merger dengan PT Faduma Jaya Indonesia. Kala itu proses merger belum bisa dilakukan karena belum tercapai kesepakatan final belum tercapai terkait apakah akan melalui merger atau right issue. PT Faduma Jaya adalah perusahaan yang juga bergerak di bidang property dan rela estate, yang memiliki 10 anak perusahaan. Total tanah yang dimilikinya mencapai 500 hektar yang digunakan untuk proyek perumahan dan apartemen (rusunawa).

PTRA saat ini memiliki 2 anak perusahaan yakni PT Putra Sewaya Persada dan PSP IF (BV). PT Putra Sewaya Persada juga memiliki 2 anak perusahaan yaitu PT Mercu Agung Graha Realty dan PT Sinar Surya Mandiri. PT Mercu Agung graham Realty saat ini memiliki asset berupa tanah seluas 26,7 Ha yang terletak di Cikarang. Selain tanah tersebut PTRA juga memiliki lahan pengembangan lain yang berlokasi di Maja Kabupaten Lebak. Namun pada 2007 dan 2008, tanah tersebut digunakan sebagai jaminan kepada kantor Pelayanan Pajak Masuk Bursa. Hal itu dilakukan sebagai pemenuhan persyaratan pembayaran angsuran atas Tunggakan pajak Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Lahannya sendiri bernilai Rp 64.221.521.728.

Komposisi kepemilikan saham PTRA adalah 15,29 persen dimiliki Gunawan Angkawibawa, 12,17 persen oleh Danny Tanoto, 7,39 persen oleh PT Ciptadana Securities, 8,49 persen dimiliki perusahaan asing Grand Plus Investments Ltd, dan sisanya 55,66 persen beredar di public. Pada 2 Desember lalu saham PTRA sempat dihentikan perdagangannya oleh otoritas bursa. Hal itu karena adanya ketidakpastian atas kelangsungan usaha PTRA.

Kinerja PTRA sampai Q3 tahun 2008 ini masih terlihat kurang. Belum tercatat pendapatan bersih sampai triwulan III 2008. Padahal pada periode yang sama di tahun 2007, PTRA memperoleh penjualan bersih sebesar Rp 18.181.818.182. Hal ini diakui PTRA sebagai akibat dari slow down penjualan apartemen Paladian Park. Total aktiva yang dimiliki sampai dengan Q3 2008 adalah sebesar Rp 540.897.617.769. Sedikit meningkat dari tahun sebelumnya yakni RP 540.397.905.209.

Sampai dengan tahun 2008 dan 2007, PTRA dan anak usahanya telah melakukan penyelesaian sebagian kewajiban pembayaran pinjaman. Hal tersebut dilakukan melalui penerbitan obligasi, obligasi konversi, debt to equity swap, serta penjualan beberapa aktivanya. Namun masih tersisa kewajiban pinjaman sejumlah Rp 82.165.178.360. PTRA sendiri belum menentukan mekanisme penyelesaiannya. Namun PTRA tetap akan melanjutkan pelaksanaan restrukturisasi atas hutang obligasi biasa, obligasi konversi serta kewajiban lainnya. Buruknya kondisi perekonomian membuat PTRA mengalami penurunan kinerja. Khusunya untuk permodalan, PTRA tengah menjajaki kemungkinan adanya right issue. Selain itu untuk lebih memperkuat operasionalnya, PTRA menyatakan akan lebih mengintensifkan penjajakan untuk bergabung dengan perusahaan lokal dan asing. Sampai September 2008 ini PTRA masih mencatatkan rugi bersih Rp 1.841.457.802 pada laporan keuangannya. Jumlah tersebut sedikit membaik dari rugi bersih tahun 2007 yang mencapai Rp 6.644.173.325 untuk periode yang sama.


Selasa, 23 Desember 2008

Rambah Berbagai Sektor
PT ANCORA INDONESIA RESOURCES TBK SAMBUT 2009 DENGAN EKSPANSI

JAKARTA – Menghadapi tahun 2009, ekspansi besar-besaran akan ditempuh PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS). Salah satunya adalah rencana akuisisi salah satu perusahaan kontraktor pengeboran minyak di Indonesia. “Kita sedang dalam tahap pendekatan dengan perusahaan itu” kata Usman H Darus, Presiden Direktur OKAS, Senin (23/12).

Namun begitu, Usman belum bersedia memberikan keterangan perusahaan mana yang akan menjadi target akuisisinya. Ia hanya menyampaikan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan lokal yang memiliki potensi bagus. “Mereka berpengalaman lebih dari 25 tahun, dan mengoperasikan 11 on-shore rigs, 10 persen on-shore rigs yang ada di Indonesia” terangnya. Perusahaan tersebut juga menjadi penyedia jasa pelayanan pemeliharaan bagi perusahaan lain. Usman menargetkan proses ini selesai di bulan Juni atau Juli 2009.

Rencana ekspansi lainnya adalah upaya kepemilikan atas Kuasa Penambangan (KP) batubara di Kalimantan. Targetnya adalah KP dengan cadangan batubara besar dan dengan nilai kalori di atas 6.000 Kcal/kg. Menurut Usman, saat ini pihaknya tengah dalam proses due dilligent dengan 5 pengelola atau pemilik KP. Opsi yang ditawarkan adalah dengan akuisisi penuh atau berupa KSO. “Kita berupaya semuanya bisa kita dapatkan paling tidak sampai kuartal I 2009” paparnya.

Rencana ini adalah konsekuensi dari tawaran agency batubara oleh 3 perusahaan asal Jepang dan Malaysia. Bahkan perusahaan asing tersebut juga telah menawarkan kerjasama joint venture untuk membuat perusahaan yang juga bergerak di bidang pertambangan.

Perusahaan mitra dagang tersebut telah memberikan jaminan melalui perjanjian pengambilan pasti (off-take agreement) dari hasil produksi KP batubara OKAS. Besarnya permintaan off-take dari masing-masing perusahaan diperkirakan, untuk perusahaan asal Jepang sebesar 1 s/d 3 juta MT per tahun. Sementara itu 2 perusahaan asal Malaysia masing-masing meminta 0,6 s/d 1 juta MT per tahun dan 5 s/d 7 juta per tahun. Bulan Januari 2009 direncanakan akan menjadi transaksi pertama kerjasama agency OKAS. Total volume pengiriman tahun 2009 sendiri ditargetkan sebesar 1 juta sampai 3 juta MT per tahun. “MoU sampai sekarang memang belum ada, tapi kami tetap yakin akan terlaksana” kata Usman.

Belum cukup sampai di situ, OKAS juga telah merencanakan untuk membangun bisnis baru di sector waste management (pengelolaan sampah). Untuk rencana ini, OKAS telah melakukan penjajakan dengan di beberapa daerah di Sumatera dan Jawa. Khusus lokasi wasted company di Sumatera, OKAS telah melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kota setempat. Kerjasamanya tertuang dalam perjanjian konsesi pengoperasian pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir. “Tahap awal kita di Sumatera dulu, baru setelah perkembangan bagus kita mulai garap yang di Jawa” jelas Usman. Bisnis ini nampaknya akan sangat menguntungkan, karena disamping dukungan dari pemerintah, partisipasi mendapatkan karbon kredit dari PBB melalui clean development mechanism, juga bisa dikonversi menjadi nilai materiil.

Ekspansi Anak Usaha
Saat ini OKAS memiliki 2 anak usaha yakni PT Navindo Geosat dan PT Multi Nitrotama Kimia (MNK). Kepemilikan sahamnya masing-masing sebesar 99 persen dan 40 persen. Khusus untuk MNK, OKAS baru memilikinya Oktober lalu. Kala itu OKAS melakukan PUT I dalam rangka HMETD sebanyak 832.500.000 saham dengan harga Rp 170 per saham. Seluruh dana yang diperoleh dari right issue tersebut digunakan untuk membeli 40 persen saham MNK. MNK sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi, import dan distribusi ammonium nitrat. Bahan baku eksplosif komersil ini banyak digunakan untuk mendukung kegiatan pertambangan, industri semen dan konstruksi lainnya. Pasar ammonimum nitrat MNK saat ini menjadi yang terbesar di tanah air dengan 70 persen market share. Kapasitas produksinya mencapai 37.000 MT per tahun.

Melalui MNK, OKAS juga akan melakukan kebijakan ekspansi, walaupun kepemilikan sahamnya hanya 40 persen saja. Sebagai pemegang saham pengendali MNK, OKAS telah menetapkan akan membangun pabrik baru, guna memenuhi permintaan ammonium nitrat yang semakin meningkat. Rencananya pabrik baru tersebut akan dibangun di Cikampek dengan perkiraan kebutuhan dana USD 56,5 juta. “Core business kita tetap pertambangan, namun kita berusaha membuatnya integrated” jelas Usman.

Mekanisme pendanaannya sendiri akan diupayakan melalui kas internal, pembiayaan bank serta penerbitan obligasi. “Yang pasti tidak lebih dari 70 persen pendanaan dari bank atau obligasi” kata Aulia M Oemar, Direktur Keuangan dan Administrasi MNK. Menurutnya hal yang paling feasible dilakukan saat ini adalah melalui penerbitan obligasi. “Tapi tetap kita kaji apakah melalui pinjaman bank, penerbitan obligasi atau kombinasi keduanya” tambahnya. Untuk bahan baku industri, selama ini MNK mendapat pasokan dari PT Pupuk Kujang, pemegang 30 persen saham MNK. Dengan selesainya proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi ammonium nitrate sebesar 100.000 MT per tahun. Sehingga ditargetkan akan diperoleh produk ammonium nitrate sebanyak 137.000 MT per tahun dari MNK.

Sebagai akibat dari konsolidari MNK dengan OKAS, pos penjualan bersih OKAS terjadi kenaikan sebesar 6.753 persen. Sebelumnya pada 2007 penjualan bersih adalah Rp 11 miliar, namun kini menjadi Rp 753 miliar. Konsolidasi tersebut juga membuat aktiva OKAS naik menjadi Rp 606 miliar di tahun 2008, setelah di tahun 2007 hanya Rp 25 miliar. Sampai Oktober tahun 2008 posisi net cash adalah Rp 126 miliar, karena memang OKAS tidak memiliki hutang bank. Dalam 5 tahun belakangan tren yang dicapai OKAS cukup positif. Laba kotornya tahun 2004 sebesar Rp 624 juta terus naik hingga tahun ini mencapai Rp 160 miliar.


Prospek Infrastruktur Bagus
PT NUSANTARA INFRASTRUCTURE TBK RENCANAKAN AKUISISI BARU

JAKARTA – PT Nusantara Infrsructure Tbk (META) akan perluas usahanya dengan akuisisi salah satu perusahaan nasional. Direktur Utama META, M Ramdani Basri mengatakan bahwa pihaknya saat ini telah mendapat tawaran dari perusahaan tersebut untuk mengakuisisi 50,5 persen sahamnya.

Ia sendiri belum berani menyebutkan perusahaan sasaran akuisisi karena masih dalam tahap NDA. Menurut Basri, perusahaan tersebut adalah salah satu joint venture lokal dengan asing yang memiliki revenue di atas Rp 800 miliar dengan laba bersih mencapai Rp 200 miliar. “Tahun depan kita harapkan akan dapat 1 atau 2 perusahaan lagi” jelasnya.

Senada dengan Basri, Direktur META Danni Hasan mengatakan bahwa sebenarnya telah ada 5 perusahaan yang dijajaki tahun ini. Namun dalam perkembangannya, 2 perusahaan ternyata tidak memenuhi criteria. Semuanya adalah perusahaan yang bergerak di bidang ifrastruktur baik toll road, infrastructure carrier to logistic dan infrastructure carrier to distribution.

Selain dari akuisisi tersebut, META juga akan membangun lagi jalur jalan tol baru di daerah Serpong. Melalui anak usahanya Bintaro Serpong Damai, META telah memiliki ruas jalan tol sepanjang 7,25 km yang menghubungkan Serpong dan Pondok Aren dan tersambung dengan JORR. Sampai dengan Desember 2008, tiap hari rata-rata volume kendaraan yang masuk sebanyak 57.000 kendaraan per hari.

Menurut Ruswin Nazsir, Direktur META, pembangunan jalur baru ini adalah konsekuensi dari PPJT yang mensyaratkan volume 70.000 kendaraan. “Sekarang kita baru 80 persen, jadi kita bangun lagi agar izin kita tidak dicabut” jelas Rusmin. Danni Hasan juga meyakini dengan pembangunan jalur baru ini akan memberi kontribusi yang bagus bagi META. “Di situ kan kawasan industri seluas 6.000 hektar dan baru 2.100 yang baru dibangun, prospeknya akan bagus karena we growth together” katanya.

META memang selama ini fokus pada proyek tol, setelah usaha produksi semennya terhenti. Saat ini META memiliki 3 anak perusahaan yang semuanya pada sector jalan tol, yakni PT Bintaro Serpong Damai, PT Bosowa Marga Nusantara dan PT JTSE yang baru beroperasi September lalu. Sampai dengan akhir tahun 2008 ini META memperkirakan penjualan masing-masing anak usahanya tersebut adalah Rp 78 miliar untuk BSD, Rp 20,4 miliar untuk PT Bosowa Marga Nusantara, dan Rp 700 juta untuk JTSE.

Selama ini bisnis toll road memang memberikan kontribusi yang besar bagi META. Sampai akhir 2008 ini diperkirakan pendapatan dari jalan tol akan naik 45 persen. Tahun 2009 proyeksi kenaikannya hampir sama sekitar 40 persen. Total pendapatan yang diharapkan dicapai tahun 2008 adalah sebesar Rp 180 miliar. Khusus untuk jalan tol sendiri proyeksinya bisa mencapai Rp 100 miliar akhir tahun 2008. Sedang untuk tahun 2009 dari usaha jalan tol META berharap akan memperoleh pendapatan Rp 150 miliar. Untuk usaha di bidang semennya, tahun 2009 META merencanakan akan mereview lagi usahanya tersebut. “kita akan lakukan kontrak paling tidak untuk 1 tahun lagi” jelas Danni.

Rusmin mengatakan bahwa untuk melakukan semua rencana ekspansi tersebut, META akan memerlukan dana sekitar Rp 150 miliar. Dana sebesar Rp 100 miliar akan diambil dari kas internal dan sisanya dari pinjaman bank. Menurut Rusmin, saat ini posisi pinjaman META kepada bank mencapai Rp 500 miliar. Dari jumlah itu, Rp 350 miliar diantaranya adalah pinjaman dari Bank Mega, yang temponya bisa 8 sampai 10 tahun. Lebih jauh lagi, Rusmin mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan right issue untuk mencari sumber pendanaan baru. “Tapi kondisinya sekarang kan tidak memungkinkan, dan lagi posisi kas kita saat ini masih cukup kuat” jelasnya. Ia mengatakan bahwa saat ini META punya kas sekitar Rp 388 miliar.

Kinerja META selama September ini terlihat mengalami perbaikan. Total aktiva per September 2008 adalah sebesar Rp 1.518.885.000.000. Terjadi kenaikan signifikan dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 631.355.000.000. Laba usaha yang dicatat juga mengalami kenaikan signifikan. Tahun 2007 laba usaha sebesar Rp 19.038.000.000, namun di tahun 2008 meningkat menjadi Rp 34.438.000.000. EBITDA tahun 2008 sendiri mencapai Rp 54.710.000.000, setelah di tahun 2007 hanya sebesar Rp 39.999.000.000.

Menurut Rusmin, META memang tengah memanfaatkan momentum kebangkitan sector infrastruktur yang telah mendapat dukungan dari pemerintah. Senada dengan Rusmin Danni juga mengatakan bahwa META akan mengejar growth tahun depan. “Secara organic growth, pendapatan kita naik 45 persen, biaya berkurang sehingga margin tinggi dan laba bersih diharapkan juga tinggi” jelasnya. Selain itu dengan adanya rencana akuisisi baru, ia yakin kinerja META ke depan akan terus terdongkrak. META saat ini memiliki margin usaha sebesar 46,49 persen, margin bersih 7,21 persen, dan margin EBITDA sebesar Rp 7.,86 persen.



Minggu, 21 Desember 2008

PRIMEPETROSERVICE TETAP OPTIMIS IPO

JAKARTA – Initial Public Offerring PT Prime Petroservice tetap akan dilakukan sambil menunggu kondisi ekonomi yang membaik. Hal tersebut disampaikan oleh Rosan Ruslani, Direktur PT Recapital Securities, kepada Indonesia Business Today, Minggu (21/12). Recapital Securities adalah salah satu dari tiga underwriter IPO PT Prime Petroservice. Dua lainnya adalah PT Madani Securities dan PT Ciptadana Securities.

Adanya IPO ini sebenarnya sudah sejak lama terdengar. Bahkan pada Oktober 2008 telah dilakukan penawaran saham, namun kemudian dihentikan karena kondisi ekonomi sedang tidak menguntungkan. Salah satu sebabnya adalah anjloknya IHSG kala itu hingga mencapai level 1.400an yang memaksa kegiatan bursa dihentikan sementara. Rencananya dari penerbitan IPO dan waran prime tersebut akan diperoleh dana sekitar Rp 400 miliar. Jumlah saham yang ditawarkan adalah sebanyak 1,78 juta saham, dengan waran yang disertakan sebanyak 1,43 juta. Sehingga setiap 5 saham akan mendapat 4 waran. Harga waran maksimal adalah 25 persen dari harga saham perdana.

Dana hasil IPO sendiri akan digunakan untuk keperluan investasi sebesar 90 persen, dan sisa 10 persen digunakan untuk modal kerja. Belanja investasi antara lain untuk pembangunan fasilitas minyak dan gas yang baru baru, pembangunan rig baru dan drilling equipment, serta untuk konstruksi LNG. Menurut Rosan, keyakinan untuk segera melakukan IPO adalah karena sector minyak dan gas yang diprediksi akan mengalami peningkatan tahun mendatang. “IPO tetap jalan terus, tapi masih menunggu saat yang tepat dan kondisi membaik” katanya.

Pemegang saham utama dari PT Prime Petroservice saat ini adalah PT Eclipse Pacific Service dan PT Barata Makmur. Masing-masing memiliki penyertaan sebesar 79 persen dan 9.8 persen. PT Prime Petroservice sendiri adalah perusahaan di bidang penyediaan fasilitas energi dan penyedia jasa energi. Berdiri pada 2002 dengan nama PT Dwi Prima Sembada, Prime mempunyai tiga kategori layanan mencakup fasilitas energi, jasa energi, dan jasa drilling. PT Prime Petroservice dan 10 anak perusahaannya telah mengalirkan gas bumi melalui pipa, CNG (Compressed Natural Gas) yang dikenal sebagai Bahan Bakar Gas (BBG) dan akan dikembangkan pendistribusian gas bumi melalui LNG (Liquified Natural Gas).

Sampai dengan akhir tahun ini PT Prime Petroservice menargetkan penjualananya naik menjadi Rp 400 miliar. Pada tahun 2007 sendiri PT Prime Petroservice mencapai penjualan sebesar Rp 168 miliar. Untuk laba bersih, forecast sampai akhir tahun 2008 ini adalah sebesar Rp 42 miliar. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari pencapaian laba bersih tahun 2007 sebesar Rp 32 miliar. Pencapaian sampai dengan kuartal pertama tahun ini, perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 9,54 miliar atau 30% dari laba sepanjang 2007. Sedangkan laba usaha dan pendapatan kuartal pertama 2008 mencapai masing-masing 25% dan 39% dibandingkan 2007.

Data Survey IMS Bagus
PT TEMPO SCAN PACIFIC TBK OPTIMIS PENJUALAN NAIK

JAKARTA – PT Tempo Scan Pacific Tbk (TPSC) yakin penjualannya tahun depan tidak akan mengalami penurunan. Paulus Harianto, Wakil Presiden Direktur TPSC, mengatakan bahwa walaupun krisis financial masih terjadi, namun sector consumer goods tak akan banyak mengalami perubahan. “Sektor obat dan makanan kan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi ekonomi” katanya beberapa waktu lalu di Jakarta.

Hal yang cukup memperkuat keyakinan Palus adalah, adanya hasil riset dari IMS mengenai industri farmasi terkait krisis keuangan global yang terjadi. Dalam risetnya IMS menyebutkan bahwa makin melemahnya daya beli akibat krisis keuangan, maka akan terjadi peningkatan self medication.

Adanya self medication ini ke depan akan membuat penjualan obat khususnya obat OTC (Over The Counter) mengalami peningkatan. Produk obat dari TPSC memang terbagi menjadi dua kategori yakni ethical (resep dokter) dan OTC (obat bebas). Sampai dengan September 2008, penjualan produk obat TPSC melalui divisi farmasinya adalah sebesar Rp 1.023.675 juta. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 920.098 juta untuk periode yang sama.

Namun begitu Paulus juga tidak memungkiri bahwa adanya krisis keuangan sedikit banyak telah mempengaruhi kinerja TPSC. Bahan baku yang masih harus diimpor, membuat biaya bahan baku juga mengalami peningkatan. Dengan kanaikan kurs dollar yang digunakan dalam transaksi, tentu menambah beban usaha meningkat. “Indonesia saat ini belum bisa penuhi bahan baku farmasi dan sediaan” katanya.

Guna menyiasati kenaikan harga bahan baku TPSC juga mengambil kebijakan menaikkan harga jual. Paulus mengakui, bahwa pihaknya telah melakukan peningkatan harga produk secara konservatif. Ia mengatakan bahwa langkah tersebut ditempuh untuk meningkatkan elastisitas harga demi menjaga persaingan dengan competitor. Karena itulah di tahun 2009 mendatang, TPSC berupaya mengkonsolidasikan pembelian bahan kemasan dan bahan baku. “Dengan mengupayakan alternative sourcing diharapkan TPSC akan mendapat harga, kualitas dan termin pembayaran yang terbaik” jelasnya.

Divisi Distribusi
Sejauh ini TPSC memiliki 3 divisi usaha yakni divisi farmasi, divisi perawatan kesehatan dan kosmetika, serta divisi distribusi. Sampai dengan kuartal III 2008, sumbangan tiap divisi terhadap penjualan TPSC masing-masing sebesar Rp 1.023.675 juta, Rp 647.311 juta dan Rp 1.040.210 juta. Semuanya mengalami peningkatan dari tahun 2007 untuk periode yang sama, yakni sebesar 11,26 persen, 40,91 persen, dan 19,19 persen.

Khusus untuk divisi distribusi, ke depan TPSC akan meningkatkan armada darat yang dimilikinya, guna mempercepat pengiriman produknya. Tahun 2008 ini lebih dari 40 persen distribusi produk TPSC didistribusikan melalui jalur darat menggunakan armada anak perusahaannya. Saat ini TPSC memiliki 560 kendaraan roda dua, dan sekitar 448 kendaran roda empat atau lebih.

Tahun mendatang TPSC juga akan meningkatkan penjualan ekspornya. Menurut Paulus, sumbangan penjualan ekspor terhadap net sales masih terlalu kecil yakni hanya sebesar 6 persen. Sedang sumbangan penjualan ekspor terhadap net profit-nya hanya 7 persen. Salah satu produk yang menjadi unggulan TPSC adalah produk minuman suplemen dengan merek Hemaviton. “Susah untuk menyebutkan market share kita, tapi yang jelas merek Hemaviton di posisi dua setelah Extra Jos” jelas Paulus.

Laba bersih yang berhasil dibukukan TPSC dari semua divisi usahanya, sampai dengan kuartal III 2008 adalah sebesar Rp 273.528 juta. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 4,89 persen dari tahun 2007. EBITDA per September 2008 sebesar Rp 365.454 juta, meningkat 9 persen dari 2007 yang hanya Rp 335.286 juta. Total ekuitas yang dimiliki sampai dengan Q3 2008 adalah sebesar Rp 2.094.575 juta. Naik 1 persen dari tahun sebelumnya. Total aktivanya sendiri adalah sebesar Rp 2.856.321 juta di Q3 tahun ini. Meningkat 5,83 persen dari Q3 2007 yang sebesar Rp 2.698.977. Sementara itu pada pos kewajiban terjadi kenaikan yang cukup signifikan. Pada Q3 tahun 2008 jumlah kewajiban adalah sebesar Rp 607.026 juta. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 25,31 persen dari Q3 2007 yang hanya sebear Rp 484.431 juta. Kenaikan jumlah kewajiban ini nampaknya banyak disumbang oleh pos hutang bank. “Pinjaman jangka pendek kita saat ini sekitar Rp 30 miliar, semua untuk modal kerja” kata Paulus. Jumlah pinjaman dengan menggunakan comfort letter dan corporate guarantee itu, mengalami kenaikan 15 persen dari tahun Q3 tahun 2007. Kala itu jumlah pinjaman bank TPSC adalah sebesar Rp 26.787 juta.

Saat ini kepemilikan saham TPSC 95 persen oleh PT Bogamulia Nagadi dengan jumlah saham 4.275.109.818. Selebihnya, 5 persen saham dimiliki institusi dan perorangan baik lokal maupun asing. Terkait dengan sedikitnya saham yang beredar di public, Paulus tidak berani mengatakan apakah akan ada kebijakan go private. “Semua itu menjadi wewenang RUPS, kami hanya pelaku saja” sanggahnya.

Jumat, 19 Desember 2008

Targetkan Akuisisi Perusahaan Lokal
PT BERLINA TBK MASIH INGIN EKSPANSI DI CHINA

JAKARTA – PT Berlina Tbk (BRNA) telah melakukan kontrak pembelian tanah di Heifei, China senilai 10 juta Yuan. Tanah seluas 4 hektar tersebut adalah bagian dari kegiatan ekspansi BRNA ke China. Di lahan tersebut rencananya akan dibangun pabrik baru BRNA dengan total investasi diperkirakan mencapai Rp 25 juta Yuan. “Saat ini telah dilakukan pembangunan tahap 1 dan kemungkinan selesai Q4 2009” kata Rudy Sugiarto, Direktur Utama BRNA, Jumat (19/12).

Pembeliaan tanahnya sendiri dilakukan dengan term of payment pendanaan 50:50. Dimana 5 juta Yuan dari internal perusahaan, dan sisanya dari pinjaman Bank ICBC. Sementara itu, Lioe Cu Ling, Direktur Keuangan BRNA mengakui bahwa pihaknya telah mendapatkan pinjaman dari Bank lokal China senilai 15 Juta Yuan untuk pendanaan investasi sebesar 25 juta Yuan tersebut. “Dari Bank ICBC kita dapat 5 juta Yuan dan dari Bank Huishang 10 juta Yuan” jelasnya. Untuk sisa pendanaan sebesar 5 juta Yuan, BRNA berencana menggunakan dana internalnya disamping mencari pinjaman dari bank lain.

Dengan adanya investasi tersebut, BRNA memperkirakan tahun 2009 kapasitas produksinya akan meningkat menjadi 4.000 metrik ton. Saat ini kapasitas produksinya mencapai 3.000 metrik ton. Pembangunan pabrik di China tersebut direncanakan juga akan berlanjut sampai tahap 2. Diperkirakan pembangunan tahap 2 akan selesai tahun 2012. Pembangunan pabrik di China ini sebagai upaya BRNA untuk lebih mendekatkan diri dengan pasarnya. Menurut Rudy, demand di China tak akan pernah berkurang sebagai kosekuensi besarnya jumlah penduduk China.

Selain investasi ke China, di dalam negeri BRNA juga tengah dalam proses akuisisi atas salah satu perusahaan nasional. Rudy belum mau menyebutkan perusahaan apa yang akan diakuisisi. Namun ia menyatakan bahwa perusahaan yang akan diakuisisi, adalah perusahaan nasional yang bergerak di bidang packaging. Akuisisi tersebut direncanakan akan selesai pertengahan tahun 2009. “Semua kan perlu proses, sekarang kita masih tahap non disclosure agreement dan masih ada due dilligent juga” papar Rudy.

Size Is Matter
Kebijakan ekspansi agresif nampaknya menjadi strategi BRNA di tahun 2009. Tahun 2009 sendiri BRNA akan mengangarkan capex sebesar Rp 60 miliar dengan Rp 20 miliar diantaranya dari kas perusahaan. Rp 35 miliar dari dana capex tersebut akan digunakan untuk pembelian mesin baru dan pembayaran L/C. Pembelian mesin rencananya akan diimpor dari Eropa dan Taiwan. “Di Industri ini size is matter, tentu kita tidak akan bisa bersaing dengan perusahaan lain dengan pembelian yang lebih besar kan?” jelas Rudy.

Akhir tahun 2008 ini BRNA memproyeksikan penjualannya akan mengalami kenaikan 27 persen di banding tahun 2007. Menurut Rudy, hal tersebut disebabkan karena kenaikan volume penjualan plastic sebesar 19 persen, dan kenaikan penjualan tube sebesar 6 persen. Kenaikan penjualan tersebut juga dipicu oleh kebijakan BRNA yang menaikkan harga jual produknya akibat harga bahan baku yang juga naik. Harga bahan baku plastic sendiri sangat terpengaruh pada volatilitas harga minyak mentah. Walau saat ini harga minyal turun, namun harga rata-rata minyak di tahun 2008, mengalami kenaikan 18 persen dari tahun 2007. “Cost for material kita sekarang bisa 50 persen lebih” kata Rudy.

Kenaikan bahan baku ini juga yang menjadi penyebab naiknya beban pokok penjualan BRNA sebesar 28 persen. Selain itu kenaikan upah tenaga kerja dan biaya energi dari peningkatan volume penjualan, ikut memperbesar nilai beban pokok penjualan BRNA. BRNA memperkirakan akan terjadi kenaikan beban pokok penjualan sebesar 28 persen.

Pada pos biaya usaha juga diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 12 persen di tahun 2008. Adanya peningkatan volume penjualan pada gilirannya juga meningkatkan biaya angkut untul distribusi. Sementara itu biaya lain-lain, sampai akhir tahun 2008 ini diprediksi akan naik sampai 40 persen. Melemahnya Rupiah terhadap Dollar membuat kerugian kurs juga bertambah. Pelemahan Rupiah saat ini rata-rata sekitar Rp 9.000 – Rp 9.500 ke arah Rp 11.000 – Rp 12.000. Biaya bunga sendiri sebenarnya mengalami penurunan, setelah selesainya pembayaran obligasi pokok sebesar Rp 43 juta di akhir tahun 2008.

BRNA memperkirakan laba bersihnya sampai akhir tahun ini akan mencapai Rp 24,432 miliar. Peningkatan laba bersih sebesar 85 persen dari tahun 2007 ini, terkait dengan pertumbuhan penjualan yang juga naik sebesar 27 persen. Sementara forecast laba bersih tahun 2009, akan terjadi penurunan mencapai level Rp 20,913 miliar.

BRNA adalah perusahaan produsen plastic dan fiberglass yang kini telah memiliki 3 anak perusahaan. PT Lamipak Primula Indonesia di bidang usaha laminasi plastic dan kemasan, PT Berlina Thailand di bidang usaha plastic dan perdagangan, serta satu anak usaha yang berkedudukan di China yakni Hefei Paragon Plastic Packaging Co Ltd (HPPP) di bidang usaha tube plastic dan sikat gigi. HPPP sebelumnya berkedudukan di Shanghai, namun akhirnya dipindah sebagai bagian dari rencana investasi.

Analis (Gina Novrina Nasution)
Tindakan ekspansi bisa adi langkah yang tepat untuk menyiasati demand yang turun Namun tahun depan tampaknya penjualan akan tergerus sebagai konsekuensi krisis keuangan global. Ekspansi ke China bisa jadi tepat jika memang tepat pula sasaran konsumennya. Transaksi rutin dengan beberapa produsen besar seperti Unilever bisa menjadi kekuatan tersendiri. Apalagi industrinya ada di consumer goods. Jika dilihat dari kinerja tahun ini masih cukup bagus, dan nampaknya tahun depan juga masih bisa net profit. Usahanya yang paling potensial saat ini adalah di bidang packaging. Namun begitu harga sahamnya akan mengalami tren menurun akibat dari sentiment pasar. Saat ini sahamnya berada di level Rp 230. P/E 1,8 dan PBV 0,18. Rekomendasi sell saat ini, dan buy di level Rp 200.


Kamis, 18 Desember 2008

Bayar Hutang Ke Bukopin
PT KIMIA FARMA TBK TUNGGU PEMBAYARAN PEMBELIAN OBAT DARI PEMERINTAH

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengakui bahwa sampai saat ini pemerintah masih menunggak pembayaran pembelian obat sebesar Rp 140 miliar. Total pembelian dari pemerintah sendiri mencapai Rp 200 miliar. “Seharusnya pelunasannya sudah harus dilakukan akhir tahun ini, tapi kemungkinan akan ditunda sampai Januari 2009” Jelas, Syamsul Arifin, Direktur PT Kimia Farma Tbk, Kamis (18/12).

Dana dari pembayaran pemerintah ini rencananya akan digunakan untuk melunasi hutang KAEF kepada Bank Bukopin sebesar Rp 10 miliar. Fasilitas untuk kredit modal kerja tersebut sebenarnya sudah jatuh tempo pada 17 Desember lalu. KAEF sampai saat ini memiliki kewajiban atas pinjaman dari 3 Bank yakni Bank Bukopin sebesar 30 miliar, Bank BCA sebesar 40 miliar dan Bank Mandiri sebesar 70 miliar. Terkait masalah pinjaman dari Bank, Direktur Keuangan KAEF, Rusdi Rusman, mengatakan bahwa plafon pinjaman KAEF dibatasi pemerintah hanya sampai Rp 180 miliar saja. “memang ada tawaran dari beberapa bank nasional yang tentu masih kita pertimbangkan” Jelas Rusdi.

Namun begitu, tahun 2009 nampaknya KAEF akan lebih fokus mencari pendanaan dari luar negeri. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian akibat volatilitas rupiah. Menurut Syamsul Arifin, selama ini yang menjadi kendala adalah mahalnya harga bahan baku. Bahan baku industri KAEF 90 persen diantaranya adalah impor antara lain dari India, China dan Korea. “Kita akan mencari pola pembiayaan baru dengan principal luar negeri, misalnya dengan perpanjangan L/C” katanya.

Syamsul juga mengatakan bahwa selama ini pemerintah hanya menetapkan patokan kurs Rp 9.000 untuk pembelian bahan baku, sehingga harga jual produk KAEF juga mengacu pada asumsi kurs tersebut. Padahal pada kenyataannya KAEF melakukan transaksi pembelian bahan baku dengan kurs Rp 13.000. Selisih kurs yang cukup besar inilah yang dirasa KAEF cukup berat. Per tahun nilai pembelian bahan baku industri KAEF mencapai USD 100 juta. Karena hal inilah, KAEF sendiri juga berencana meminta penyesuaian nilai kewajaran harga dari pemerintah. “Tidak benar kalau kita dapat subsidi atau PSO (Public Service Obligation) dari pemerintah, kita hanya akan mengusulkan adanya dana talangan, namun ini kan perlu proses yang panjang” jelas Syamsul.

Laba Bersih Turun
Tahun 2009 dihadapi KAEF dengan cukup optimis. KAEF menargetkan penjualan tahun 2009 bisa mencapai Rp 3,08 triliun. Nilai tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 15,7 persen dari prognosa penjualan tahun 2008. Sampai akhir tahun 2008 sendiri KAEF menargetkan penjualan RP 2.660.377.000.000. Namun begitu KAEF juga cukup realistis dalam menghadapi krisis keuangan global. KAEF memperkirakan tahun 2009 laba setelah pajaknya akan mengalami penurunan 9,2 persen dari prognosa 2008 menjadi Rp 48,7 miliar. Tahun 2008 KAEF memperkirakan akan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 53.640.000.000. jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,78 persen dari laba bersih tahun 2007 yang sebesar Rp 52.189.000.000.

Pemasaran produk KAEF memang hampir 100 persen ke pasar domestic. Pemerintah sendiri selama ini membelanjakan USD 100 juta untuk pembelian produk obat dari BUMN farmasi termasuk KAEF. Segmen yang menjadi fokus KAEF adalah konsumen kelas menengah ke bawah. Menurut Syamsul, konsumen yang biasa mengkonsumsi produk mahal kemungkinan akan akan turun menjadi kelas medium akibat krisis. Sama halnya dengan konsumen kelas bawah yang kehilangan daya beli, akhirnya akan memanfaatkan program JAMKESMAS pemerintah. “Jadi kita tidak kehilangan permintaan kan? produk medium laku, produk kelas bawah juga dibeli pemerintah” jelas Syamsul.

Tahun 2009 KAEF akan menganggarkan capex sebesar Rp 50 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk penambahan apotek, klinik, dan laboratorium klinik. Saat ini KAEF telah memiliki 350 apotek, 36 klinik dan 35 laboratorium klinik. Selain itu di tahun 2009 KAEF juga akan meningkatkan penjualan ekspor dan pengembangan produk baru. Beberapa produk obat yang akan dikembangkan adalah obat ARV, TB dan Cancer. Bahan baku obat ARV sendiri banyak rencananya akan diimpor dari Korea, China dan India. Bahan baku obat TB akan diimpor dari India, dan bahan baku obat cancer akan diimpor dari India dan Korea. “Pasar kita saat ini kebanyakan kan lokal, ekspor sekarang cuma 1 persen saja” kata Rusdi Rusman.

Analis (Akhmad Nurcahyadi/BNI Securities)
Industri farmasi ke depan nampaknya akan mengalami sunset. Terkait dengan adanya krisis global yang membuat daya beli masyarakat rendah. Di samping itu juga masih rendahnya kepedulian msyarakat akan kesehatan, tentu membuat konsumsi obat menjadi menurun. Adanya pembelian dari pemerintah bias menjadi penopang penjualan. Namun yang harus diperhatikan adalah sampai sejauh mana pemerintah mampu menanggung pembelian khususnya untuk obat murah bagi masyarakat. Adanya kenaikan harga bahan baku impor secara logis akan membuat beban semakin bertambah. Pasar juga akan mengalami penurunan demand termasuk juga di loka. Sahamnya masih belum cukup menarik bagi investor. Preferensi investor akan saham ini masih cukup kurang walaupun pada kenyataannya fundamental perusahaan cukup bagus. Sebaiknya hindari dulu membeli saham ini.

Rabu, 17 Desember 2008

RUPS Beri Restu
PT GOODYEAR INDONESIA TBK TAMBAH INVESTASI USD 20.360.250

JAKARTA – PT Goodyear Indonesia Tbk tambah anggaran USD 20.360.250 untuk rencana pembelian mesin dan peralatan produksi tahap dua. Kepastian ini didapat setelah kemarin, Rabu (17/12) rencana tersebut mendapat persetujuan dari RUPS PT Goodyear Indonesia Tbk. Selain digunakan untuk pembelian mesin dan peralatan baru, dana tersebut juga akan dialokasikan untuk instalasi mesin dan peralatan tersebut. Instalasinya sendiri diperkirakan akan memakan waktu 6 bulan.

Sebelumnya pada bulan April 2008, RUPS Goodyear juga telah menyetujui alokasi dana senilai USD 31.319.181 untuk pembelian mesin dan peralatan baru. Namun kemudian manajemen Goodyear meminta adanya penambahan alokasi dana pembelian tersebut. Transaksi itu sendiri dilakukan dalam upaya peningkatan kapasitas produksi ban radial. “Dengan demikian produksi ban akan meningkat sebesar 47 persen, dan hal ini akan berpengaruh pada performa keuangan perseroan” kata Chandra Wuisantono, Direktur PT Goodyear Indonesia Tbk, dalam keterbukaan informasi BEI, beberapa waktu lalu.

Saat ini kapasitas produksi ban Goodyear adalah 8.500 ban per hari. Setelah adanya rencana transaksi diperkiran kapasitas produksi ban akan meningkat menjadi 12.500 ban per hari. Hal tersebut disebabkan karena ditargetkan ada peningkatan produksi ban radial sebanyak 4.000 ban per hari setelah transaksi selesai.

Selama ini Goodyear memproduksi tiga jenis ban, yaitu ban radial untuk kendaraan penumpang, ban radial untuk truk ringan, serta ban bias. Sampai dengan Juni tahun 2008 sendiri produksi Goodyear untuk tiga jenis ban tersebut masing-masing adalah 920.531 ban radial kendaraan penumpang, 117.683 ban radial truk ringan, dan 415.227 untuk ban bias.

Rencananya pembiayaan atas transaksi tersebut dilakukan dengan dua mekanisme yakni dari dana internal dan pendanaan dari perbankan. Dana sendiri dialokasikan sebesar USD 2.360.250, dan sisanya USD 18.000.000 dari pinjaman bank. Goodyear sendiri sudah mengajukan permohonan fasilitas dengan beberapa bank. Untuk agunannya sendiri, RUPS telah menyetujui penggunaan kekayaan perseroan berupa mesin dan peralatan produksi yang akan dibeli, yang memiliki nilai lebih dari 50 persen.

Rencana transaksi ini juga akan melibatkan pihak-pihak yang terafiliasi dan pihak yang tidak terafiliasi. Untuk pihak yang terfiliasi transaksi akan dilakukan dengan The Goodyear & Rubber Company (GTRC) Amerika selaku pemegang 85 persen saham PT Goodyear Indonesia Tbk. GTRC sendiri juga telah merekomendasikan Goodyear International Corporation, Shanghai (GIC) sebagai salah satu pihak terafiliasi dalam transaksi ini. Rencana transaksi dengan GTRC adalah sebesar USD 5.244.678 untuk pembelian, dan USD 3.609.672 untuk biaya instalasi. Sementara rencana transaksi dengan GIC adalah sebesar USD 1.392.089 untuk pembelian mesin. Untuk pihak-pihak yang tidak terafiliasi, Goodyear merencanakan transaksi pembelian mesin dan peralatan sebesar USD 2.923.874. Sedang untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi, rencana transaksinya sebesar USD 7.189.937. Pihak-pihaknya sendiri rencananya akan ditentukan melalui proses tender terbatas.

Goodyear adalah perusahaan produsen ban kendaraan bermotor dengan kategori produk konsumen dan komersial. Penjualan produk bermerek dagang Goodyear itu sendiri adalah 56 persen ekspor dan 44 persen pasar domestik. Sampai dengan Q3 tahun 2008 ini penjualan bersih yang berhasil dibukukan adalah Rp 971.556.046.000. Meningkat dari tahun 2007 sebesar Rp 818.155.265.000 untuk periode yang sama. Total aktiva yang dibukukan sampai Q3 2008 adalah sebesar Rp 874.263.646.000. Naik signifikan dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 501.767.169.000. Kewajiban lancar per September 2008 adalah sebesar Rp 342.119.684.000. Naik drastis dari tahun 2007 yang hanya mencapai Rp 176.283.833.000. Total kewajiban dan ekuitasnya sendiri adalah Rp 874.263.646.000 di Q3 tahun 2008, dan Rp 501.767.169.000 pada Q3 tahun 2007. Namun pada pos laba bersih juga terjadi kenaikan sebesar 5 persen. Triwulan III 2007 laba bersih adalah Rp 31.742.192.000, sementara pada tahun 2008 mencapai Rp 33.295.848.000 untuk periode yang sama.

Analis (Deo Rawendra/Reliance)
Harga sahamnya belakangan mengalami penurunan. Ke depan trennya juga masih akan menurun. Harga sahamnya sendiri sebenarnya masih terlalu mahal. Saat ini levelnya sekitar Rp 5.900. Perdagangan sebelumnya di level Rp 6.650. Range selama 52 minggu terakhir Rp 22.750-Rp 3.000, P/E 7,27. Pinjaman bank tentu harus dicermati masalah nilai rate yang dipakai. Komoditas karet sendiri juga tengah mengalami penurunan harga.

Selasa, 16 Desember 2008

Kelapa Sawit Menurun
PT INTI AGRI RESOURCE TBK TETAP INGIN AKUISISI PT INTI PLANTATION

JAKARTA - PT Inti Agri Resource Tbk (IIKP) masih terus upayakan akuisisi PT Inti Plantation. "Kita masih berupaya akuisisi PT Inti Plantation sampai di atas 90 persen" kata Sandjaja, Direktur IIKP, Selasa (16/12). Saat ini kepemilikan IIKP atas PT Inti Plantation adalah 5 persen.

PT Inti Plantation sendiri pada Juli lalu telah melakukan akuisisi atas PT Anam Koto senilai USD 12,5 juta. PT Anam Koto adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Pasaman, Sumatera Barat. Lahan perkebunannya seluas 4.777 Ha dengan 2.298 Ha diantaranya adalah lahan produktif. PT Anam Koto saat ini juga tengah melakukan pembicaraan untuk mengakuisisi PT Dendy Marker Indah Lestari yang juga bergerak di perkebunan. Selama ini proses akuisisi tersbut terkendala belum disetujuinya cara pembayaran oleh PT ???, perusahaan asal Malaysia pemilik Dendy Marker. "Sekarang kan kita baru punya 5 persen di Inti Plantation, jadi kita hanya tunggu hasil saja" kata Sandjaja. Apalagi sektor perkebunan kelapa sawit juga tengah menurun, membuat IIKP hanya bisa wait and see saja.

Lebih lanjut lagi Heria Machdi, Direktur Utama IIKP menyebutkan bahwa untuk akuisisi Inti Plantation sendiri, paling tidak dibutuhkan dana USD 12,5 juta. Untuk itu pihaknya saat ini tengah mengupayakan mencari pendanaan dari pihak lain. "Kita belum bisa menentukan mekanisme pendanaan dari mana, tapi kita berharap bisa dari perbankan" kata Heria. Menuruntnya saat ini sudah ada beberapa Bank yang sedang mempelajari rencana komitmen dengan IIKP.

Beberapa waktu lalu IIKP memang sempat dikabarkan akan right issue, namun belakangan ternyata hal itu tidak terjadi. "Right issue kan hanya salah satu alternatif dan belum menjadi pilihan" papar Heria.

Selain dana USD 12,5 juta itu IIKP juga masih berupaya mendapatkan dana lagi sebesar USD 7,5 juta. Dana itu rencananya akan menjadi capex untuk pengembangan lahan PT Anom Koto yang masih kosong seluas 2.490,6 Ha. Tahun 2009 IIKP juga menganggarkan capex sebesar Rp 6 miliar untuk pembelian indukan baru pada bisnis perikanannya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa IIKP akan lebih fokus pada industri perikanannya. Pemasaran ikan arwana IIKP saat ini 70 persen untuk ekspor. "Sejak 6 bulan lalu kita sudah lakukan penjajakan pasar Dubai" terang Heria.

Penjualan Turun
Pembukaan pasar baru di Timur Tengah memang menjadi strategi IIKP menghadapi situasi ekonomi tahun 2009. Selain itu IIKP juga akan menurunkan harga jual produknya tahun depan. Namun begitu, Alfian Permana, Direktur IIKP, menyatakan bahwa tahun depan penjualannya akan turun 30 sampai 40 persen. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah efisiensi semaksimal mungkin dan berupaya menaikkan penjualan sebaik mungkin" katanya. Guna mencapai target ini menurut Sandjaja, selain perluasan pasar ekspor ke Timur Tengah, pihaknya akan memperluas jaringan melalui agen-agen. “Selama ini kita distribusi kita kebanyakan kan melalui proshop yang membutuhkan biaya besar untuk membangunnya” katanya.

Akhir tahun 2008 ini IIKP menargetkan penjualan sebesar Rp 80 miliar. Jumlah tersebut lebih sedikit dari penjualan bersih 2007 yang mencapai Rp 80,89 miliar. Posisi penjualan bersih IIKP per September 2008 sendiri adalah sebesar Rp 63,40 miliar. "Penjualan kita di 2009 akan lebih dicerminkan oleh penjualan arwana" terang Alfian.

Sampai Q3 tahun 2008 ini, laba bersih yang dibukukan IIKP adalah Rp 15,92 miliar. Naik dari Q3 tahun 2007 yang sebesar Rp 15,51 miliar. Total aktiva sebesar Rp 420,13 miliar pada tahun 2008 mengalami kenaikan dari tahun 2007 yang sebesar Rp 407,07 miliar. Kewajiban lancar Q3 tahun 2008 turun menjadi Rp 1,88 miliar, setelah pada Q3 tahun 2007 tercatat kewajiban lancar sebesar Rp 6 miliar. Jumlah ekuitas juga mengalami kenaikan menjadi Rp 417,27 miliar di tahun 2008. Sebelumnya di tahun 2007 ekuitas IIKP sebesar Rp 400,16 miliar.

Selain kepemilikan saham 5 persen di PT Inti Plantation, IIKP juga memiliki penyertaan di 2 perusahaan lain, yakni PT Inti Kapuas International (IKI) sebesar 99,09 persen dan PT Bahari Istana Al Kausar (BIA) sebesar 99,975 persen. Sementara untuk komposisi kepemilikan saham IIKP sendiri adalah PT Maxima Agro Industri 9,15 persen, PT Bumiputera Capital Indonesia QQ NSB sebesar 8,15 persen, PT Atria Axes Management sebesar 8,26 persen, dan sisanya 74,44 persen beredar di public. IIKP adalah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan khususnya arwana, dan perkebunan kelapa sawit.

Analis (Erwin S Widjojo/Sinergy Asset Management)
Akuisi atas PT Inti Plantation bisa jadi merupakan langkah tepat untuk jangka panjang. Namun begitu harus juga diperhatikan pergerakan harga komoditi, khususnya terkait kelapa sawit. Saat ini kelapa sawit sedang mengalami penurunan seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Pada bisnis perikanannya sendiri kemungkinan memang terjadi penurunan akibat lesunya ekonomi ke depan. Hal yang juga harus menjadi perhatian adalah nilai kelangkaan arwana semakin lama-semakin berkurang akibat adanya penangkaran. Bisa saja hal ini memicu terjadinya penurunan demand. Mengenai rencana pendanaan sebaiknya perusahaan menghindari right issue. Karena pasar kemungkinan tidak bisa menyerapnya. Investor saat ini akan melihat pada fundamental dan kinerja perusahaan bersangkutan. Pada sektor perikanan, strategi untuk menembus pasar Timur Tengah bisa dilakukan karena di sana permintaan relative tidak terpengaruhi oleh krisis ekonomi. Tapi tidak hanya untuk beberapa negara Timur Tengah saja. Untuk investor jangka panjang, saham IIKP layak koleksi. Paling tidak untuk 3 sampai 5 tahun mendatang, kemungkinan sektor komoditi ini akan membaik.


Senin, 15 Desember 2008

Program Listrik 10.000 MW PLN
PT VOKSEL ELECTRIC TBK RAUP UNTUNG RP 400 MILIAR

JAKARTA - PT Voksel Electric Tbk dapatkan 60 persen proyek transmisi dari program pembangunan PLTU 10.000 MW oleh PLN. "Tahun ini beberapa proyek tersebut telah kita supply, nilainya sekitar Rp 400 miliar" kata Heru Gondokusumo, Direktur Marketing Voksel, Senin (15/12). Supply itu sendiri sendiri berupa konduktor untuk kebutuhan transmisi listrik.

Selama ini produk yang menjadi andalan dari Voksel adalah alumunium conductor. Ke depan Voksel sendiri masih optimis mendapatkan besaran yang sama untuk proyek yang sama pula. “Tahun 2009 pembangunan PLTU kan masih berlanjut, seperti di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Kalimantan” kata Heru.

Sejauh ini pasar produk Voksel memang dominan lokal. Komposisi per September adalah 62,8 persen pasar lokal, dan 37,2 persen pasar ekspor. "Tahun depan kita akan upayakan peningkatan ekspor menjadi 45 persen" kata Heru. Senada dengan Heru, Ferry Tjandrawinata, Dirut Voksel, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan penjajakan ekspor ke negara-negara Timur Tengah. "Selama ini pasar Voksel memang lebih banyak di Timur Tengah seperti Dubai" kata Ferry.

Namun Ferry juga mengatakan bahwa tahun depan pasar Dubai kemungkinan akan turun. Sehingga pihaknya mengupayakan untuk mencari pasar baru di negara-negara yang masih dalam tahap pertumbuhan dan mendapat windfall profit dari penurunan harga minyak. "Sejak Juli lalu sudah kita lakukan penjajakan di 4 negara Timur Tengah" lanjutnya.

Adanya penurunan harga minyak memang tak diragukan lagi ikut berpengaruh pada kinerja Voksel. Demand dari Timur Tengah diprediksi akan turun akibat turunnya harga minyak. Lain halnya dengan beberapa bulan lalu ketika harga minyak sempat mencapai peak. Tercatat penjualan bersih Voksel per 30 September 2008 mencapai Rp 1,566.82 triliun. Jumlah tersebut naik drastis 59,8 persen dari tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 980.66 miliar.

Ferry mengakui bahwa selama ini faktor yang paling berpengaruh pada kinerja Voksel adalah harga bahan baku dan volatilitas nilai tukar. "Bahan baku utama kita adalah copper dan alumunium yang dipengaruhi harga energi serta PE dan PVC yang merupakan derivatif minyak" jelasnya. Karena itulah tahun depan Voklsel telah membuat forecast dengan skenario harga alumunium USD 2.250/ton, copper di USD 4.500/ton dan kurs pada level Rp 11.000/dollar. Dengan skenario terbut Voksel memperkirakan dalam kondisi terburuk maka penjualannya akan turun 30 persen menjadi Rp 1,7 triliun. "Namun jika kondisinya bagus kita perkirakan ada kenaikan penjualan 10 persen menjadi 2,1 triliun"papar Ferry. Sampai akhir tahun 2008 ini sendiri Voksel memperkirakan penjualan sebesar Rp 2,2 triliun. Dari skenario tersebut Voksel juga memperkirakan EBITDA 2009 pada kondisi terburuk adalah Rp 94 miliar dan pada kondisi bagus sebesar Rp 113 miliar. Posisi EBITDA sampai dengan September 2008 sendiri adalah Rp 85,46 miliar.

Tahun 2009 sendiri Voksel menganggarkan capex sebesar USD 3,6 juta. Jumlah tersebut lebih sedikit dari capex 2008 sebesar USD 10 juta. "Dana itu akan kita gunakan untuk perbaikan mesin, overhaul, dan penggantian pembangkit listrik ke gas" kata Ferry. Sampai dengan triwulan III 2008, kinerja Voksel mengalami peningkatan. Pada pos aktiva lancar, Q3 2008 sebesar Rp 984,42 milliar. Naik 82 persen dari 2007 sebesar Rp 540,75 miliar. Laba bersih Q3 2008 adalah sebesar Rp 45,17 miliar, naik 1 persen dari tahun 2007 sebesar Rp 44,71 miliar. Namun pada pos kewajiban lancar terjadi kenaikan yang cukup signifikan. Tahun 2007 kewajiban lancar adalah sebesar Rp 336,54 miliar. Namun Q3 tahun ini, pos tersebut terisi Rp 808,07 miliar atau naik 140,1 persen. Voksel memang telah mendapatkan komitmen dari Bank BNI dengan plafon senilai USD 63 juta. Menurut Direktur Keuangan Voksel, Linda Lius, saat ini dana tersebut sudah digunakan sebesar USD 35 juta untuk refinancing, LC dan Bank guarantee. "Kita juga mendapat pinjaman lagi dari BNI dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) kurang lebih USD 9,6 juta" lanjutnya.

Tahun 2009 sendiri dihadapi manajemen Voksel dengan cukup optimis. “Adanya kebijakan pemerintah yang akan fokus pada sektor riil khususnya pembangunan infrastruktur adalah hal yang bagus untuk kita” Kata Ferry. Pemerintah memang berencana menganggarkan dana Rp 35,7 triliun untuk pembangunan infrastruktur di tahun 2009. Termasuk di dalamnya adalah kelanjutan program pembangunan listrik 10.000 MW.





ADHI BELUM BERENCANA CORPORATE ACTION

JAKARTA – PT ADHI KARYA TBK untuk 3 bulan ke depan belum berencana melakukan corporate action. Dalam keterbukaan yang disampaikan kemarin, Senin (15/12) corporate secretary ADHI, Kurnadi Gularso mengatakan bahwa ADHI belum memiliki rencana untuk menjual/mengalihkan satu unit usaha/asset perusahaan yang nilainya cukup material kepada pihak lain. ADHI juga belum berencana untuk mendapatkan kontrak baru yang nilainya cukup material.

Ketentuan Bapepam-LK memang menyebutkan bahwa jika perusahaan melakukan transaksi material, maka setidak-tidaknya diumumkan minimal di satu surat kabar nasional berbahasa Indonesia, 28 hari sebelum pelaksanaan RUPS. Yang termasuk dalam kategori transaksi material sendiri adalah setiap pembelian, penjualan atau penyertaan saham, dan/atau pembelian, penjualan, pengalihan, tukar menukar aktiva atau segmen usaha, yang nilainya sama atau lebih besar dari salah satu hal berikut, 10% (sepuluh perseratus) dari pendapatan (revenues) perusahaan atau 20% (dua puluh perseratus) dari ekuitas.

Selain hal tersebut Kurnadi juga mengungkapkan bahwa selama periode 10 sampai 12 Desember 2008, pemegang saham tertentu tidak mengalami perubahan atas kepemilikan saham perseroan. Pihak yang dimaksud adalah Direktur dan Komisaris. “Untuk pemegang saham yang memiliki 5 persen atau lebih saham disetor, kita belum dapatkan pelaporan publiknya” jelas Kurnadi.

Menyebut nama ADHI tentu ingatan kita akan menuju ke proyek monorail di Jakarta. ADHI adalah pemegang saham sekaligus kontraktor atas proyek yang saat ini mandeg itu. ADHI sendiri saat ini tengah menunggu kepastian kelanjutan proyek monorail tersebut. Pemprov DKI kini tengah melakukan audit atas proyek monorail itu melalui BPKP.

Pada tahun 2008 ini ADHI menargetkan pendapatan sebesar Rp 5,8 triliun dengan net income Rp 138 miliar. Sedang untuk tahun 2009 ADHI membuat prognosa pendapatan sebesar Rp 6,7 triliun dengan net income Rp 160 miliar. Target kontrak yang diproyeksikan ADHI tahun ini adalah Rp 14,268 triliun. Sampai dengan 30 September 2008 jumlah tersebut telah tercapai, bahkan kini telah melebihi 14, 645 persen dari target. Pada perdagangan saham di BEI kemarin (15/12) saham ADHI berada pada level Rp 200 per lembar saham.

Minggu, 14 Desember 2008

Beli 11 Persen Saham Pendopo
PT DARMA HENWA TBK HARAPKAN LEVERAGE SAHAMNYA

JAKARTA – Pembelian 11 persen saham Pendopo Coal Ltd oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) adalah sebagai upaya leverage atas saham DEWA. Hal tersebut disampaikan Corporate Secretary DEWA, Muhammad Baskoro, kepada Indonesia Business Today Minggu (14/12).

Dengan adanya kepemilikan saham atas Pendopo Coal Ltd tersebut Baskoro mengharapkan mengurangi ketergantungan DEWA pada pihak lain dalam operasionalnya. “Dengan konsesi yang kita miliki seperti kontraktor dan lainnya, ke depan akan membuat perusahaan semakin mandiri” katanya. Selain itu, adanya transaksi ini adalah salah satu upaya peningkatan kinerja perusahaan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, bahwa pada 5 Desember 2008 HENWA melalui anak usahanya PT DH Energy telah melakukan transaksi pembelian terhadap 11 persen saham Pendopo Coal Ltd. Pembelian 11 persen saham Pendopo Coal Ltd tersebut bernilai USD 5,5 juta. DEWA juga telah menandatangani shares option agreement yang menyatakan bahwa DEWA memiliki opsi untuk melakukan pembelian lagi 50 persen sampai 60 persen saham tambahan.

Baskoro sendiri mengatakan bahwa kondisi ekonomi sekarang mungkin sedang tidak bagus, karena itu perlu berhati-hati dalam melakukan corporate action. Namun walaupun begitu ia cukup yakin bahwa sektor pertambangan khususnya batubara masih dalam kondisi yang bagus. “Dibanding harga minyak yang anjlok, batubara masih cukup stabil harganya sekitar 70-80 Dollar per ton” jelasnya. Harga batubara memang sempat mengalami penurunan periode 2007. Namun pada akhir Desember 2007 harganya terus mengalami kenaikan. Januari 2008 harga batubara mencapai level Rp 310.000 per ton . Bulan Februari naik menjadi Rp 320.000 per ton. Awal Desember ini harganya telah mencapai Rp 550.000 per ton. Harga minyak sendiri saat ini berada pada kisaran USD 45 per barrel.

Permintaan batubara sendiri ke depan nampaknya masih cukup bagus. Seiring dengan adanya proyek coal fired power plant steam (PLTU Batubara) 10.000 MW yang dicanangkan PLN. Proyek senilai Rp 130 triliun itu sendiri mulai dikerjakan sejak September 2006 lalu. Dan diperkirakan akan mulai beroperasi awal tahun 2009. Hal ini tentu saja menjadi sinyal positif bagi produsen batubara termasuk DEWA. “Tahun depan kita targetkan untuk meningkatkan produksi namun belum ada kepastian angkanya” jelas Baskoro. Sampai dengan Akhir tahun 2008 ini DEWA mentargetkan untuk mencapai produksi batubara sebesar 6 juta metric ton. “Per Desember ini produksi kita telah mencapai sekitar 5,7 metrik ton, jadi cukup feasible” lanjut Baskoro.

Kinerja DEWA sampai paruh pertama tahun ini, terbilang bagus. Laba bersih yang berhasil dibukukan adalah sebesar USD 3,45 juta. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 30 persen dari tahun 2007. Tahun 2007 sendiri laba bersih DEWA adalah USD 2,41 juta. Hal ini sendiri didukung oleh oleh laba sebelum taksiran perseroan yang meningkat 39,46 persen dari USD2,81 juta per Juni 2007 menjadi USD4,65 juta per Juni 2008. Pencapaian laba bersih ini cukup bagus mengingat pada pos pendapatan DEWA terjadi penurunan sebesar 6 persen. Paruh pertama tahun 2008 pendapatan DEWA adalah USD 105,69 juta. Sebelumnya di tahun 2007 pendapatannya adalah USD 112,53 juta.

Analis (Andrew Siahaan/Reliance Securities)
Adanya akuisisi tersebut cukup bagus bagi internal DEWA, karena membuktikan bahwa fundamental keuangannya cukup bagus. Adanya upaya leverage yang dilakukan sudah tepat karena dengan adanya akuisisi tentu akan berpengaruh pada kinerja. Kinerja yang bagus akhirnya akan berpengaruh pada fundamental perusahaan. Fundamental perusahaan inilah yang akan tercermin pada harga saham walaupun tidak secara direct. Namun yang harus diperhatikan adalah situasi ekonomi sekarang yang membuat pasar tertekan dan akhirnya mempengaruhi investor. Ke depan pertambangan masih akan mengalami penurunan termasuk batubara. Apalagi jika pasarnya adalah ekspor. Penurunan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tujuan akan membuat demand juga terpangkas. Proyek PLTU 10.000 MW bisa jadi merupakan berita bagus bagi DEWA jika memang DEWA mendapat jatah dari proyek tersebut. Jadi harus dilihat portofolio pasar DEWA. Sebaiknya investor wait and see bila ingin membeli saham ini. Menunggu hingga terjadi perkembangan bagus adalah tindakan yang tepat. Diperkirakan perbaikan pada sektor ini akan terjadi mulai Q3 dan Q4 tahun 2009.

Jumat, 12 Desember 2008

Andalkan Modal Investor Dan Refinancing
POLYSINDO TARGETKAN PENJUALAN USD 380 JUTA

JAKARTA - PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (POLY) targetkan penjualan USD 380 juta sampai akhir tahun ini. Penjualan di tahun 2007 sendiri adalah sebesar Rp 3,6 triliun. Sampai dengan 30 September 2008 total penjualan yang sudah dicapai POLY adalah Rp 3.042.220 juta. "Permintaan polyester sekarang kan meningkat, dan kita punya 25 persen market share domestik" kata V. Ravi Shankar, Direktur Utama POLY, Jumat (12/12).

Namun begitu, Ravi memperkirakan sampai akhir tahun ini POLY masih akan mengalami kerugian. "Tapi untuk EBITDA masih bisa positif atau paling tidak sama" lanjutnya. Per 30 September 2008 POLY mencatat kerugian bersih sebesar Rp 402.561 juta. Sementara EBITDA POLY per 30 September 2008 adalah sebesar Rp 109,61 miliar. Pada 31 Desember 2007 rugi bersih dan EBITDA POLY masing-masing sebesar Rp 1.028.032 juta dan USD 13.63 juta.

Penjualan POLY sendiri selama 2 bulan terakhir mengalami penurunan. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah adanya penurunan harga bahan baku industri sebagai akibat dari penurunan harga minyak dunia. Dengan penurunan harga bahan baku tersebut, mau tak mau membuat POLY juga menurunkan harga jual untuk menjaga persaingan. Bahan baku utama industri kimia dan serat sintetis POLY adalah PX, MEG dan A.ACID. Semuanya sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia. Pada September lalu harga PX, MEG dan A.ACID masing-masing adalah USD 1.247, USD 825 dan USD 672. Namun Desember ini harga ketiga bahan baku derivatif minyak tersebut diproyeksikan turun menjadi USD 750 untuk PX, USD 450 untuk MEG dan USD 500 untuk A.ACID. "Harga PX saat ini kan sekitar 700an" kata Ravi. Mengenai imbas krisis yang masih akan berlangsung, Ravi menjamin perusahaannya tidak akan melakukan PHK karyawan. “Sebagai respon krisis, kita hanya akan mengurangi produksi saja” jelasnya.

Sementara itu Tunaryo, Corporate Secretary POLY mengatakan, bahwa kerugian yang terjadi adalah sebagai akibat dari konversi hutang dengan mata uang asing. Hal tersebut membuat pos kewajiban POLY mengalami kenaikan per 30 September 2008 sebesar Rp 12.729.752.000.000. "Hutang dalam dollar tapi balance sheet kita dalam rupiah" jelas Tunaryo. POLY memeperkirakan bahwa kuartal I dan II tahun 2009, pasar akan sedikit lesu, namun setelah itu akan menguat.

Penjualan produk POLY ke depan juga akan difokuskan ke pasar lokal. "Tahun ini komposisinya 75 persen lokal dan 25 persen ekspor" kata Tunaryo. Walaupun begitu POLY juga tetap akan mencari pasar ekspor baru antara lain ke Amerika Selatan dan Timur Tengah. Tahun depan POLY tidak menganggarkan capex. Hal ini disebabkan adanya ketentuan untuk tidak menganggarkan capex selama 5 tahun, terhitung mulai tahun 2005, sebagai bagian dari restrukturisasi utang POLY.

Restrukturisasi Utang
POLY saat ini memang tengah menyelsaikan rekstrukturisasi utang dengan PPA atas hutang berjaminan senilai USD 1 miliar. "Sebesar 23 persen sekarang ada di PPA, dan bondholder sendiri sudah menyetujui" kata Tunaryo. Diperkirakan awal tahun 2009 restrukturisasi tersebut sudah selesai. Restrukturisasi ini sendiri menjadi pengahambat upaya POLY untuk mendapatkan pinjaman dari perbankan. “Sebelum restrukturisasi selesai, kita belum bisa pinjam ke perbankan selain yang sudah ada dari Damiano” jelas Tunaryo.

Selama ini POLY mengandalkan pendanaan dari Damiano Invesment BV, pemegang 69 persen saham POLY. Sejak tahun 2005 sampai saat ini Damiano Investment BV, telah mengucurkan dana sebesar USD 77,68 juta dimana USD 25,68 juta sebagai fasilitas modal kerja dan USD 52 juta dalam bentuk letter of credit untuk pembelian bahan baku. POLY memang tengah mengupayakan mencari pinjaman dari perbankan, khususnya bank asing, karena hal tersebut paling rasional dilakukan sekarang. “Tapi semua tetap kita perhatikan perkembangan suku bunganya” kata Tunaryo. Selain pendanaan dari Damiano Investment BV, POLY juga mengusahakan untuk mendapat refinancing dari pelanggannya. Penyelesaian restrukturisasi yang terlalu lama ini menurut Tunaryo, disebabkan karena PPA ingin menyelesaikan semua kasus restrukturisasi sekaligus. “Apalagi dengan adanya pergantian jajaran direksi PPA beberapa bulan lalu, waktunya jadi tertunda sebentar” jelas Tunaryo.

Menanggapi rendahnya harga saham POLY saat ini, Tunaryo mengatakan bahwa kala itu ketika BPPN dibubarkan tahun 2004, banyak yang mengira POLY juga telah ditutup. Karena saat itu restrukturisasi utang POLY masih dalam penanganan BPPN. Akhirnya ekspektasi atas saham POLY menjadi rendah. POLY sendiri sebenarnya telah melakukan reverse stock Februari lalu, dimana jumlah sahamnya saat itu adalah 12.357.255.040 lembar, dengan nilai Rp 16 triliun. Setelah adanya reverse stock saham POLY memang sempat naik, namun kemudian perlahan turun hingga saat ini berada di level Rp 50 per lembar.

Kamis, 11 Desember 2008

Capex Rp 450 Miliar
PT SUMBER ALFARIA TRIJAYA TBK TERAPKAN STRATEGI EKSPANSI AGRESIF

JAKARTA - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) anggarkan capex 450 miliar tahun 2009. Capex tersebut rencananya akan didanai dari kas internal perusahaan serta dari IPO Januari mendatang. Perusahaan ritel dengan merek dagang Alfamart ini, memang telah memutuskan untuk listing di bursa. Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 343.177.000 atau sekitar 10 persen modal disetor perseroan dengan harga nominal Rp 100.

Pendaftaran ke Bapepam LK sudah dilakukan sejak 19 November 2008 lalu. Pencatatan umum pada 7-9 Januari 2009, sehingga diperkirakan bisa listing tanggal 15 Januari 2009. Selaku penjamin efek IPO tersebut, Alfamart telah menunjuk PT Ciptadana Securities dan PT Indoprimer Securities. “Range harga 425-475 sehingga ditargetkan akan ada dana sekitar 160an miliar dari IPO” kata Hans Prawira, Finance Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Kamis (11/12).

Sampai saat ini SAT telah melakukan premarketing dan sudah ada investor institusi asal singapura dan hongkong yang tertarik. "Memang mayoritas akan ke investor institusional" kata Ferry Budiman Tanja, Presdir PT Ciptadana Securities. Untuk saham SAT, target PE nya tahun 2009 sekitar 8 sampai 10 kali, namun tahun 2010 akan turun menjadi 6 sampai 8 kali. Dana belanja modalnya sendiri akan digunakan untuk membangun Distribution Centre (DC) dan penambahan gerai Alfamart, minimarket milik SAT. Sampai dengan Juni 2008 SAT sudah memiliki 2.505 gerai dan 11 DC untuk Alfamart. "Sampai akhir tahun ini kita tergetkan gerai menjadi 2.750" kata Hans. Tahun 2009, SAT juga sudah merencanakan untuk menambah gerai lagi sebanyak 400 gerai.

SAT adalah perusahaan ritel berformat minimarket dan waralaba, yang mendistribusikan berbagai produk consumer goods melalui minimarket Alfamart. Antara lain produk-produk dari PT Unilever Indonesia Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Frisian Flag Indonesia, PT Sayap Mas Utama, PT Sari Husada, PT HM Sampoerna Tbk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Smart Tbk, PT Djarum dan PT Nirwana Lestari. Kesepuluh pemasok tersebut memberikan 37,4 persen dari penjualan bersih SAT paruh pertama tahun ini. Format franchise Alfamart sendiri memberikan kontribusi signifikan pada penjualan SAT. Pada peruh pertama tahun 2008 diperoleh pemasukan Rp 678 miliar dari franchise, naik 68 persen dari sebelumnya. Saat ini total ada 532 franchise store yang tersebar di berbagai wilayah.

Gerai Baru
Saat ini SAT tengah mengembangkan 3 DC baru yang berlokasi di Palembang, Bali dan satu lagi di pulau jawa. Sebagai informasi untuk membangun satu gerai Alfamart, dibutuhkan dana sekitar Rp 500 juta. Dan perlu dana minimal Rp 50 miliar untuk membangun satu DC. Jika dikalkulasikan maka dana yang dibutuhkan SAT untuk target pembangunan gerai dan DC adalah sekitar Rp 350 miliar.

Untuk tahun ini, minimarket Alfamart mentargetkan penjualannya naik 30 persen. Sedang tahun 2009 sendiri target penjualannya adalah 20 persen. "Penurunan itu karena starting-nya kan juga sudah bertambah" kata Hans. Meskipun kondisi ekonomi masih sulit, namun SAT justru akan melakukan ekspansi agresif tahun depan. Menurut Henry Komala, Vice President Director SAT, justru saat ini banyak peluang bagus yang harus segera diambil. Menurut Nielsen Research tahun ini industri ritel tumbuh 17 persen. Pangsa pasar dari minimarket Alfamart sendiri saat ini adalah sekitar 30 sampai 40 persen. Henry sendiri cukup yakin dengan kabijakan tersebut. “Bisnis ritel demand nya tetap akan bagus, dilihat dari target, tiap hari kita bisa buka 2 gerai, siapa cepat dia dapat” kata Henry.

Kinerja SAT paruh pertama tahun 2008 menunjukkan adanya perbaikan. Laba bersih 6 bulan pertama 2008 sudah mencapai Rp 44.008 juta. Padahal pada Desember 2007, laba bersihnya Rp 126.289 juta pada Desember 2007. Pada pos total aktiva, tahun 2008 menunjukkan Rp 1.899.369 juta, mengalami kenaikan dari aktiva per 31 Desember 2007 yang sebesar Rp 1.591.587 juta. Penjualan bersih mengalami peningkatan dari per 31 Desember 2007 Rp 6.056.255 juta, per Juni 2008 penjualan bersih sudah mencapai Rp 3.606.062 juta.

Penjualan produk makanan memberikan kontribusi terbesar pada penjualan SAT yakni 70,16 persen. Jumlah kewajiban 2008 menjadi Rp 1.382.178 juta dari sebelumnya Rp 1.591.587 juta per 31 Desember 2007. Kenaikan sebesar 23,6 persen ini sebagai akibat kenaikan kewajiban lancar SAT sebesar Rp 171.536 juta atau sekitar 15,9 persen. Pada pos hutang bank jangka pendek memang terdapat kewajiban Rp 145.000 juta, terdiri dari fasilitas time loan insidentil Rp 100.000 juta dan fasilitas time loan sebesar Rp 45.000 juta. Fasilitas pinjaman ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2007, dengan kreditur Bank BCA. Saat itu SAT mendapat fasilitas time loan dan time loan insidentil masing-masing sebesar Rp 150.000 juta dan Rp 120.000 juta. Fasilitas time loan kini telah lunas, namun time loan insidentil diperpanjang lagi sampai 26 Januari 2009 dengan jumlah maksimum Rp 100.000 juta. Lalu pada April 2008 SAT mendapatkan fasilitas time loan lagi dari Bank BCA dengan jumlah Rp 145.000 juta, yang akan jatuh tempo pada 18 Oktober 2009.

Analis Deo Rawendra, Reliance Securities
Strategi ekspansif memang sudah seharusnya dilakukan oleh perusahaan sector ritel. Karena sesungguhnya yang menjadi competitor dari Alfamart adalah pasar-pasar dan toko tradisional. Yang harus dicermati adalah jika di kemudian hari pemerintah mengeluarkan regulasi untuk melindungi pasar dan took tradisional tersebut. Hal ini tentu akan menghambat pertumbuhan Alfamart yang formatnya minimarket. Namun walaupun begitu pada kenyataannya bahwa industri ritel adalah industri yang selalu punya demand, karena produknya consumer goods. Hampir tidak ada penurunan signifikan walau kondisi ekonomi sedang buruk. Biasanya orang jika hendak membeli sesuatu di pasar modern maka ia akan terkena impulse buying. Barang yang sebenarnya tidak ingin dibeli akhirnya dibeli juga akibat display yang menarik. Hal-hal inilah yang bisa digunakan toko ritel dalam usahanya. Karena biasanya ritel penerimaannya tidak langsung besar, namun sedikit-sedikit tapi konstan. Frekuensi transaksi inilah yang harus dikembangkan Alfamart. Salah satunya dengan pembukaan gerai-gerai baru di wilayah-wilayah yang baru juga. Untuk sahamnya ke depan akan sedikit bagus. Karena brand Alfamart sudah lama dikenal orang. Tapi kenaikan harganya tidak akan terlalu tinggi.


Rabu, 10 Desember 2008

Pasang Target Tinggi
PT BUMI CITRA PERMAI TBK IPO JANUARI 2009

JAKARTA - PT Bumi Citra Permai Tbk rencanakan listing di bursa tanggal 14 Januari 2009. Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 350 juta lembar dengan nilai nominal Rp 100 per lembar. Range harga penawarannya sendiri adalah Rp 105 sampai Rp 120. Selain itu juga akan diterbitkan waran seri 1 sejumlah 175 juta dengan rasio IPO 2:1, dimana setiap pembeli 2 saham baru akan memeperoleh 1 waran. "Dengan adanya IPO ini saham publik menjadi sebesar 33,3 persen"demikian yang disampaikan Rudi Wijaya, Direktur PT Bumi Citra Permai Tbk, Rabu (10/11).

Rencananya dana yang dihimpun dari IPO ini 70 persen akan digunakan untuk pembebasan lahan, 20 persen untuk pembiayaan infastruktur dan sisa 10 persen untuk tambahan modal kerja. Sebenarnya IPO ini telah direncanakan sejak tahun 2005 lalu, namun karena belum siap maka akhirnya ditunda. "PT Bumi Citra Permai sebenarnya telah mengganti anggaran dasar menjadi Tbk tahun 2005, tapi 2008 akhirnya dihapus karena masih terlalu berat"kata Rudy Tuahunse, Director Investment Banking Overseas Securities, selaku penjamin pelaksana emisi efek. PT Bumi Citra Permai adalah perusahaan yang bergerak di bidang real estate khususnya pembangunan kawasan industri.

Saat ini perusahaan tersebut tengah mengembangkan kawasan industri di Cikupa Tigaraksa, Tangerang, Banten. Kawasan bernama Millenium Industrial Estate itu memiliki luas 77 hektar. Menurut Rudi, dari lahan tersebut sudah terjual 21 hektar atau 27,3 persen. "Kita masih akan menambah 25 hektar lagi untuk pembangunan tahap 2" kata Rudi.

Walau kondisi ekonomi sedang sulit namun, PT Bumi Citra Permai Tbk cukup yakin dengan prospek bisnisnya ke depan. Bahkan mereka berani memasang target laba bersih akhir 2008 sebesar Rp 2.358.097.000. Jumlah tersebut meningkat drastis 112 persen dari laba bersih tahun 2007 yang sebesar Rp 1,085 miliar. Sampai dengan 30 Juni 2008 laba bersih yang berhasil dibukukan oleh perusahaan adalah Rp 1,15 miliar. "Kita cukup yakin target tersebut tercapai, bahkan untuk 2009 kita targetkan 5 miliar"jelas Edward Halim, Direktur Keuangan PT Bumi Citra Permai Tbk.

Senada dengan Edward, Rudi juga merasa optimis karena telah ada kerjasama dengan berbagai pihak. Gardu listrik berkapasitas 2x360 MW telah dikembangkan sampai 2009 hasil kerjasama dengan PLN. Saluran telepon dan internet juga telah tersedia hasil kerjasama dengan TELKOM. Pipa gas juga sudah terpasang, kerjasama dengan PGS. "Kuartal 3 tahun depan kita akan lakukan kerjasama water treatment, namun belum kita tentukan dengan siapa"jelas Rudi.

Guna menyiasati persaingan usaha yang ketat, PT Bumi Citra Permai Tbk berani pasang tarif rendah. "Untuk LOT tertentu, harga kita pasang sekitar 300 sampai 400 ribu per m2, lebih rendah dari rata-rata harga sekarang 500 ribuan" kata Rudi. "Bisnis property real estate dan kawasan industri adalah hal yang berbeda"lanjutnya. Beberapa perusahaan yang telah menjadi pelanggan PT Bumi Citra Permai adalah PT Sanex Steel, PT Tira Marga Trakindo Group, PT Sanggar Sarana Baja dan PT Chakra Jawara.

Kinerja PT Bumi Citra Permai Tbk sampai paruh kedua 2008 terbilang cukup bagus. Total aktiva tengah tahun pertama 2008 adalah Rp 89,942 miliar. Naik 12,8 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 79,751 miliar. Pendapatan bersih 2008 sebesar Rp 15,185 miliar. Turun 11,7 persen dari tahun 2007 sebesar Rp 17,200 miliar. Beban usaha 2008 sebesar Rp 2,554 miliar, turun drastis tahun 2007 yang mencapai Rp 5,755 miliar. Total kewajiban dan ekuitas tahun 2008 adalah Rp 89,942 miliar. Naik 12,8 persen dari 2007 sebesar Rp 79,751 miliar. Maret lalu PT Bumi Citra Permai Tbk memang mendapatakan komitmen pinjaman dari Bank Capital senilai Rp 5 miliar. Namun menurut Edward, pinjaman dengan tenor 1 tahun terbut, baru sekitar Rp 2,5 miliar yang digunakan.


Selasa, 09 Desember 2008

BUDI ACID BUYBACK RP 3 MILIAR

JAKARTA – Budi Acid Jaya Tbk (BUDI) lakukan buyback terhadap sahamnya. Aksi korporasi ini telah dilakukan sejak 21 Oktober lalu. Sampai dengan Desember ini saham yang telah di buyback berjumlah 22.751.000 lembar saham. Jumlah dana yang digunakan untuk buyback mencapai Rp 3,409 miliar.


Proses buyback sendiri terakhir dilakukan dalam tiga periode yakni 21 Oktober sampai 31 Oktober, 3 November samapai 28 November, dan terakhir 1 Desember sampai 5 Desember lalu. Masing-masing dengan jumlah maksimal pembelian 19 persen dari modal disetor, dengan jumlah dana maksimum pembelian adalah Rp 70 miliar. Pada periode pertama jumlah dana yang digunakan dipakai untuk buyback adalah Rp 2,178 miliar. Periode ke dua sebesar Rp 985 juta, dan period eke tiga Rp 268 juta. Sehingga total dana sisa alokasi buyback maksimum tiga periode adalah Rp 201,270 miliar. Kebijakan melakukan buyback ini sebenarnya telah disetujui oleh RUPS tanggal 19 Juni 2008 untuk melakukan pembelian kembali atas 5 persen dari jumlah saham yang ditempatkan di sector penuh. Jika dikalkulasikan sejak Juni, maka total pembelian buyback adalah Rp 9,095 miliar untuk 28.625.000 lembar saham. Aksi buyback saham itu sendiri adalah sebagai antisipasi atas kondisi pasar yang berpotensi krisis. Sampai dengan September 2008 ini jumlah saham BUDI yang beradar adalah 3.754.944.833 lembar dengan harga pasar Rp 240 per lembar.

BUDI adalah perusahaan yang bergerak pada produksi dan penjualan tapioca, asam sitrat, karung plastic, asam sulfat dan bahan kimia lain. Kinerja BUDI sampai triwulan III tahun 2008 terlihat cukup bagus. Pada pos laba bersih, tahun ini terjadi peningkatan sebesar 123 persen. Tahun 2008 laba bersih BUDI adalah Rp 70,128 miliar, sedang pada tahun 2007 adalah Rp 31,484 miliar. Pada pos penjualan juga tercatat nilai yang cukup fantastis yakni sebesar Rp 1.219.373.000.000 pada tahun 2008. Tahun 2007 sendiri penjualan bersih hanya mencapai Rp 933,682 miliar. Padahal pada sisi beban usaha juga terjadi kenaikan 26 persen yakni dari tahun 2007 Rp 49,243 miliar menjadi Rp 61,965 miliar. Begitu juga dengan jumlah kewajiban dan ekuitas yang menunjukkan kenaikan dari tahun 2007. Tahun ini jumlah kewajiban dan ekuitas BUDI adalah sebesar Rp 1.667.306.000.000, meningkat 20 persen dari 2007 yang sebesar Rp 1.389.576.000.000.

Sampai saat ini BUDI memiliki 7 anak perusahaan yakni PT Indo Bangna Prima yang bergerak pada bidang investasi, PT Budi Starch International, PT Budi Lumbung Ciptatani, PT Budi Saktira Starch ketiganya produsen tepung tapioca, PT Ve Wong Budi Indonesia produsen monosodium glutamate, PT Associated British Budi produsen glukosa dan fruktosa serta Budi Acid Jaya Singapore Pte. Ltd yang bergerak di bidang perdagangan.

Dalam beberapa tahun belakangan ini BUDI fokus dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas dengan kerjasama dari berbagai pihak. Salah satunya adalah proyek PLTBG di Gunungbatin Lampung Tengah. Proyek senilai USD 7 juta tersebut didanai dari pinjaman oleh Sumitomo Corporation senilai USD 3,5 juta dan sisanya dari pendanaan internal. PLTBG itu sendiri memiliki kapasitas sebesar 5,7 MW. Proyek-proyek yang dibangun di lokasi pabrik BUDI tersebut, nampaknya adalah bagian dari strategy BUDI untuk menekan beban biaya energy. Dengan memiliki PLTBG tersebut akan meningkatkan efisiensi biaya daripada jika menggunakan solar atau batubara.

Jumat, 05 Desember 2008

SARA LEE OPTIMIS PENJUALAN NAIK 10 PERSEN


JAKARTA – PT Sara Lee Body Care Indonesia Tbk (PROD) targetkan penjualan naik 10 persen tahun depan. Keyakinan ini diungkapkan oleh Johnson Parhusip, corporate secretary PROD. Menurutnya, hal yang mendasari semua itu adalah adanya push target dari share holder yakni Sara Lee/DE NV anak usaha dari PT Sara Lee Corporation USA. Lembaga ini saat ini menguasai 89,3 persen saham PROD.


Guna mendukung pencapaian target tersebut PROD telah menginvestasikan uang pada beberapa pos. Beberapa peralatan produksi telah diperbaharui, yang semula menggunakan tenaga manual kini diganti dengan mesin. Pelaksanaannya sendiri telah dimulai awal tahun 2008 dengan memakan biaya Rp 1,5 miliar. Selain melalui optimalisasi mesin baru, Sara Lee juga menggiatkan promosi atas produk-produknya. “Tahun 2009 nanti alokasi untuk promosi ada kurang lebih 20 miliar” kata Johnson.


Produk yang menjadi unggulan dari PROD sendiri adalah produk dengan merek dagang “SHE”. Tahun 2008, Produk cologne wanita ini mengalami pertumbuhan 4 persen atau senilai Rp 2,561 miliar. Namun belakangan produk ini mendapat persaingan ketat dari PT Mandom Indonesia Tbk yang dulu bernama PT Tancho Indonesia. PROD sendiri mengakui pertumbuhan yang ditargetkan untuk produk “SHE” adalah 10-20 persen. Untuk menyiasatinya PROD memfokuskan diri untuk membuat peroduk tersebut dengan kemasan baru sesuai pasar. Salah satunya adalah produk SHE mini yang diakui Johnson mendapat respon yang baik dari konsumen. Strategy lain yang ditempuh oleh PROD adalah dengan push target pada produk Zwitsal. Produk ini tahun ini mengalami peningkatan sebesar 17 persen berdasar volume dan 25 persen secara value. Nilainya sendiri mencapai Rp 15,655 miliar.


Namun Johnson menyatakan bahwa tahun depan PROD tidak akan melakukan diversifikasi produk. PROD hanya akan menjaga efisiensi produk. “Kalau penjualannya turun tentu kita juga akan mengurangi promosi produk tersebut” kata Johnson. Penjualan produk-produk PROD saat ini adalah 25 persen untuk ekspor dan 75 persen untuk pasar dalam negeri. Untuk bahan baku sendiri saat ini komposisinya adalah 25 persen impor dan 75 persen local. Johnson menambahkan bahwa komposisi ini bisa saja berubah sewaktu-waktu. Apa lagi dengan kenaikan nilai tukar yang menyebabkan pembelian biaya bahan baku impor mengalami peningkatan. “Yang mana yang menawarkan harga bagus, itu yang kita ambil” jelasnya. Strategi ini membawa hasil yakni penurunan presentase harga pokok penjualan terhadap penjualan menjadi 72 persen dari sebelumnya 77 persen.


Kinerja PROD pada tahun fiscal 2008 ini menunjukkan performa yang cukup baik. Pertumbuhan penjualan tahun ini adalah 10,2 persen dan memperoleh keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 58,168 miliar. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 16,7 persen dari tahun lalu. Penjualan mencapai Rp 238,6 miliar atau tumbuh 10,2 persen dari tahun lalu yang hanya sebesar Rp 216,5 miliar. Kenaikan ini menurut PROD adalah dampak dari peningkatan ekspor sebesar 9 persen dan kenaikan harga pasar dalam negeri sebesar Rp 216,5 miliar. Harga saham PROD di lantai bursa berada pada level Rp 2.250 per lembar. Nampaknya akan ada indikasi bahwa PROD akan melakukan go private. Johnson sendiri belum bisa memberikan pernyataan tentang masalah itu. Ia hanya mengatakan bahwa sebenarnya PROD tidak berniat untuk listing di bursa. Namun karena pada waktu itu ada peraturan yang mengharuskan perusahaan yang berdiri minimal 15 tahun harus listing minimal 25 persen sahamnya, maka Sara Lee akhirnya listing pertama di BES kala itu. “Kini peraturan tersebut sudah tidak ada saham kita sekarang kan banyak diperjualbelikan di bawah tangan saja” kata Johnson.

CAPEX PAN BROTHERS TEMBUS US$ 50 JUTA

JAKARTA - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) menganggarkan capex USD 50 juta sampai dengan tahun 2012. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan usahanya. Dana itu sendiri dialokasikan sebanyak 20 juta untuk PBRX dan 30 juta untuk PT Pancaprima Ekabrothers. PT Pancaprima Ekabrothers adalah anak perusahaan dari PBRX yang sama sama bergerak di bidang industri pakaian jadi. Namun PT Pancaprima Ekabrothers lebih mengkhususkan diri dalam produksi jaket.


Rencananya PBRX akan menggunakan 60 persen dari dana tersebut untuk pengembangan pabrik baru di daerah Solo. Sebelumnya PBRX juga telah memiliki pabrik yang berlokasi di Solo dan Tangerang. Pabrik baru ini sudah beroperasi namun masih terus akan dikembangkan. "Sampai saat ini pengembangannya sudah mencapai 40 persen"demikian yang disampaikan Fitri Ratnasari Hartono, Finance Director PBRX, Jumat (5/12). Komitmen dana 20 juta itu sendiri menurut Fitri belum dicairkan sama sekali. Ia mengakui bahwa perusahaan masih akan wait and see khususnya pada pos sales, untuk rencana pengembangan selanjutnya.

Capex tersebut didanai dari pinjaman oleh Bank HSBC dan Standard Chartered Bank dengan jaminan tanah, gedung dan peralatan yang dibeli. Untuk PT Pancaprima Ekabrothers rencananya akan menggunakan dana capex sebesar 30 juta yang didanai dari fasilitas pinjaman dari Citibank. Pada periode 2007-2008 ini capex yang telah direalisasikan adalah sebesar USD 18 juta.

Selama ini penjualan PBRX dikhususkan ke pasar ekspor. Dengan 70 persen untuk pasar Amerika, 25 persen pasar Eropa dan sisanya dipasarkan diberbagai negara. Tahun 2009 sendiri buyers asal Amerika diperkirakana akan menurunkan permintaan pada produk garmen sebesar 20 persen. Namun PBRX tidak terlalu khawatir akan masalah ini karena PBRX saat ini termasuk top produsen. Ludijanto Setijo, Vice President PBRX mengatakan bahwa biasanya buyers hanya akan memotong permintaan dari produsen-produsen kecil. Sehingga PBRX sama sekali tidak akan terpengaruh seandainya kondisi tersebut terjadi. "Kita proyeksikan penjualan kita ke depan tidak akan turun" katanya. Untuk sistem transaksi sendiri PBRX menerapkan pembayaran diterima 6 bulan dimuka. Saat ini PBRX juga telah menerima komitmen tersebut. "Sampai juni 2009 penjualan kita masih aman"jelas Ludijanto.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan riset guna menghasilkan produk yang lebih kompetitif. "Tahun depan cost making akan naik sekitar 8-9 persen, namun FOB tetap"katanya. Total produksi dari PBRX rata-rata adalah 2 juta pieces per bulan. Besarnya produksi sendiri sangat tergantung dari permintaan pasar, karena di Eropa dan Amerika ada 4 musim yang berbeda.

Selama 9 bulan tahun ini penjualan PBRX telah mencapai Rp 1.393,025 miliar. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2007 untuk periode yang sama. Pada 9 bulan pertama tahun 2007 penjualan PBRX adalah Rp 1.239,630 milar. PBRX memproyeksikan penjualan sampai akhir tahun 2008 ini sebesar Rp 1.802,03 miliar. Pada pos laba bersih selama 6 bulan pertama 2008 adalah sebesar Rp 18,947 miliar. Sedikit mengalami kenaikan dari 2007 sebesar Rp 18,319 untuk periode yang sama. PBRX mengakui bahwa kinerjanya akan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena produknya untuk tujuan ekspor. Hal ini pula yang mendorong PBRX melakukan outsourcing untuk produk baru dengan perusahaan yang terkena dampak pemotongan oleh buyers. "Ini agar produk range kita menjadi banyak, namun tetap pada range yang aman"jelas Ludijanto. Selain itu guna meningkatkan pelayanan kepda konsumen, PBRX telah membuka representative office di Hongkong dan Singapura. Ke depan representative office ini akan melayani seperti jika buyers membeli dari importir namun dengan jumlah yang lebih sedikit.

Analis : Ketut Tri Bayuna Bali Securities
Industri garmen ke depan sepertinya kurang menjanjikan. Apalagi untuk ekspor Amerika dan Eropa. Karena banyak yang mengatakan bahwa resesi yang terjadi di amerika dan eropa akan berjalan dalam jangka waktu yang agak lama. Pertumbuhannya akan seperti Jepang saat ini yang masih di bawah 1 persen. Perusahaan seharusnya bisa melakukan diversifikasi pasar disamping me maintain pasar yang sudah ada. Langkah-langkah pengamanan juga harus ditempuh antara lain dengan menekan fixed cost. Karena pos ini akan langsung berhubungan dengan earnings disamping penjualan. Menjaga pasar dan penjualan akan menjadi tugas utama dari perusahaan. Industri garmen hampir sama dengan property. Adanya penurunan demand akan mempengaruhi pada harga sahamnya. Rekomendasi SELL.

Kamis, 04 Desember 2008

POLYSINDO CARI PINJAMAN ASING


JAKARTA – Guna menambah modal usaha, PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (POLY) akan mencari pinjaman uang dari lembaga luar negeri. Saat ini hal tersebut masih dalam tahap pembicaraan dan kelak POLY hanya tinggal melakukan finalisasinya saja. “Semuanya sedang dibicarakan oleh Damiano Investments BV yang menjadi pemegang saham mayoritas POLY” demikian yang disampaikan oleh Corporate Secretary POLY, Tunaryo, Kamis (4/12).

Sejak 2005 sampai saat ini Damiano Investment BV, telah mengucurkan dana sebesar USD 77,68 juta dimana USD 25,68 juta sebagai fasilitas modal kerja dan USD 52 juta dalam bentuk letter of credit. Damiano Investement BV sendiri mulai mengakuisisi saham POLY sejak tahun 2005 lalu ketika POLY tengah diambang kebangkrutan. Perusahaan asal Belanda itu kini memegang 59,05 persen saham POLY.


Triwulan III tahun ini POLY belum bisa mencatatkan laba laporan keuangannya. Pada Q3 tahun ini rugi bersih yang dibukukan oleh POLY adalah Rp 402.561.144.788. Jumlah tersebut sedikit mengalami penurunan 19,6 persen dari tahun 2007 yaitu Rp 500.567.464.427. Menurut Tunaryo, hal ini banyak dipengaruhi oleh naiknya utang dalam bentuk valas. Fluktuasi nilai tukar telah membuat nilai utang POLY dalam bentuk valas menjadi membengkak. Namun Tunaryo meyakini bahwa sampai dengan akhir tahun ini EBITDA POLY akan mengalami peningkatan. EBITDA POLY sampai dengan September 2008 ini mencapai Rp 109,61 miliar. “Saya berharap walau pos laba kita masih minus, tapi EBITDA ke depan akan positif” jelas Tunaryo.


Selama ini bisnis POLY tergolong bisnis yang permintaannya cukup stabil. Harga bahan baku industrinya sendiri juga akan menunjukkan tren penurunan. Industri kimia POLY sangat bergantung pada bahan baku berupa purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG). Keduanya adalah raw material produk derivative dari minyak yang harganya ke depan diprediksi masih akan mengalami penurunan. “Bahan baku itu kan semua impor, kalau harga turun tentu kita dapat menekan pengeluaran”kata Tunaryo. Selama ini pembelian bahan baku inilah yang membuat beban harga pokok penjualan POLY mengalami kenaikan. Pada triwulan III tahun ini, beban HPP POLY mencapai Rp 3.152.463.303.122. Jumlah tersebut naik 15,5 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 2.730.562.115.753.


POLY adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kimia dan tekstil. Untuk industri kimia POLY memiliki pabrik di Karawang, Jawa Barat, sedang untuk industri tekstil pabrik POLY berada di Kendal, Jawa Tengah. Kedua pabrik POLY tersebut saling melengkapi, karena produk-produk dari industri kimia akhirnya juga akan digunakan untuk industri tekstil. Sampai saat ini POLY masih fokus pada pasar dalam negeri. Hal ini terbukti dengan pemasaran produk POLY 70 persen di pasar domestik. Untuk mengantisipasi risiko currency, POLY menerapkan pembayaran dengan menggunakan Dollar. “Semua kita pakai dollar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri” kata Tunaryo.


Kinerja keuanga POLY sampai dengan triwulan III tahun 2008 menunjukkan sedikit perbaikan. Pada pos aktiva lancar, tahun ini adalah sebesar Rp 1.608.425.030.036. Sedikit mengalami kenaikan dari tahun 2007 yakni Rp 1.434.052.716.195. Jumlah kewajiban dan ekuitas Q3 2008 adalah Rp 5.249.713.660.929. Sebelumnya di tahun 2007 pos ini terisi sebesar Rp 5.557.020.192.896. Pendapatan usaha yang diterima Q3 tahun ini mengalami kenaikan sebesar 17,6 persen. Tahun 2007 pendapatan usaha adalah Rp 2.586.774.867.684, sedang tahun 2008 adalah Rp 3.042.219.895.257.


POLY nampaknya akan terus memperkuat struktur permodalan mereka. Tunaryo mengakui bahwa sampai saat ini POLY tidak memiliki kewajiban hutang pada bank manapun. Dengan adanya rencana komitmen pinjaman pada lembaga keuangan luar negeri tentu merupakan indikasi bahwa POLY akan melakukan ekspansi usaha. Namun Tunaryo justru tidak berani mentargetkan pertumbuhan tahun depan. “Kita akan fokus pada maintaincapex tahun 2009. Posisi utang usaha POLY sampai Q3 tahun ini adalah, jumlah hutang kepada kreditur tidak terjamin setelah restrukturisasi sebesar US$ 18.670.630 ditambah hutang bunga yang dikapitalisasi per tanggal 30 September 2008 dan 2007 masing-masing sebesar US$ 771,844 dan US$ 381,487. Total jumlah utang usaha POLY per 30 September adalah sebesar US$ 19,442,474. operasional dengan pertumbuhan sedikit di atas tahun lalu” jelasnya. Hal ini dikarenakan pada RUPSLB POLY Februari lalu, telah disetujui tidak ada alokasi capex tahun 2009. Posisi utang usaha POLY sampai Q3 tahun ini adalah, jumlah hutang kepada kreditur tidak terjamin setelah restrukturisasi sebesar US$ 18.670.630 ditambah hutang bunga yang dikapitalisasi per tanggal 30 September 2008 dan 2007 masing-masing sebesar US$ 771,844 dan US$ 381,487. Total jumlah utang usaha POLY per 30 September adalah sebesar US$ 19,442,474.


Pada perdagangan di lantai bursa kemarin, saham POLY berada pada level Rp 50 per lembar saham. Pada Februari lalu, RUPSLB POLY telah sepakat melakukan reverse stock dengan rasio 20 berbanding 1. Hal itu berarti bahwa tiap 20 saham lama, akan menjadi 1 saham baru. Tunaryo mengatakan bahwa kebijakan tersebut ditempuh guna meningkatkan likuiditas sahamnya. “Jumlah saham kita kan terlalu banyak saat itu, jadi kita lakukan reverse stock agar sesuai dengan kinerja perusahaan”jelasnya. Kala itu modal saham POLY adalah sebesar Rp 16 triliun yang terbagi atas 12.357.255.040.


About Me

Foto Saya
Just starting my journalism journey