Wednesday, December 3, 2008

Keluarkan Produk Baru
PT DARYA VARIA LABORATORIA TBK TARGETKAN KENAIKAN MARKET SHARE 3 PERSEN

JAKARTA – PT Darya Varia Laboratoria Tbk targetkan market share naik 3 persen tahun depan. Demikian yang disampaikan oleh Charles Robert B Davis, Wakil Presiden Direktur DVLA, Rabu (3/12). Saat ini DVLA sendiri berada pada posisi 17 market share terbesar untuk produk obat.

Pasar farmasi sendiri tahun-tahun mendatang diperkirakan akan berkembang 5 sampai 10 persen. Forecast pada 2012 perkembangannya mencapai USD 3,7 miliar. Tahun ini produk yang banyak diproduksi oleh DVLA adalah produk obat ethical atau obat resep. Perbandingan dari produk ethical dengan produk over the counter (obat bebas) adalah 57 persen dibanding 43 persen. Komposisi itu sama dengan sama dengan tahun 2007 lalu. Produk ethical DVLA sendiri sampai dengan September 2008 tumbuh mencapai 24,8 persen. Pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan pasar obat ethical yang ditargetkan, yakni sebesar 10,2 persen. Pasar farmasi di Indonesia saat ini, 71 persen pelakunya adalah perusahaan local.

Produk ethical DVLA telah berkembang 39 persen sebagai hasil dari promosi yang berkesinambungan. Selain itu dengan adanya peluncuran produk-produk baru khususnya penyakit kronis telah membuat penjualan mengalami peningkatan. Pada tanggal 25 November lalu DVLA juga telah menandatangani perjanjian lisensi dengan 7 pihak terafiliasi. Mereka adalah Biomedis Limited, Medichem Pharmaceuticals Limited, Pediatrica Limited, Therapharma Limited, Unam Brands Limited, United American Pahrmaceuticals Limited dan Westmont Pharmaceuticals Limited.

Perjanjian itu sendiri adalah kelanjutan dari perjanjian sebelumnya yang akan mulai berlaku efektif per 1 Januari 2009. Perjanjian lisensi baru itu meliputi 28 merek dagang atau 46 satuan unit terkecil yang terdiri baik itu produk ethical maupun produk over the counter. Dengan adanya perjanjian baru tersebut maka DVLA memperkirakan penjualannya akan meningkat 50 persen tahun 2009 mendatang. Penjualan bersih yang dibukakan oleh DVLA sampai triwulan III tahun 2008 adalah sebesar Rp 468,037 miliar. Jumlah ini mengalami penurunan 8 persen dari tahun 2007, yakni Rp 509,498 miliar.

Oktober tahun ini DVLA mendapatkan tambahan kas senilai Rp 29 miliar. Pemasukan ini berasal dari hasil penjualan tanah dan gedung bekas PT Pabrik Obat Dupa kepada Blue Bird Group. DVLA sebenarnya memiliki 3 anak usaha, yakni PT Pradja Pharin, PT Pabrik Obat Dupa dan PT Kenrose Indonesia. Dua nama yang disebut terakhir kegiatan operasionalnya telah dihentikan oleh DVLA sejak tahun 1998 lalu. Hal itu karena ketika terjadi krisis moneter kala itu, volume penjualannya turun drastic sampai 40 persen. Namun menurut Manuel P Engwa, Presdir DVLA, penjualan juga akan dilakukan atas legal entity dari kedua anak usaha DVLA itu. “Untuk PT Kenrose Indonesia, kami telah bekerjasama dengan Ray White untuk menjadi broker penjualannya” jelas Manuel. Beberapa peralatan yang masih bisa digunakan telah dipindahkan terlebih dulu ke DVLA.

Pasar Terbesar

Indonesia sendiri saat ini adalah pasar farmasi yang terbesar di Asia Tenggara. Nilainya mencapai USD 2,805 triliun. Namun hal yang cukup kontradiktif adalah fakta bahwa konsumsi obat per kapita di Indonesia masih cukup rendah yakni sebesar USD 12,3. Nilai ini terpaut jauh dengan Thailand, Philipina, dan Malaysia. Apalagi dengan Singapura yang konsumsi obat per kapitanya tertinggi di ASEN yakni USD 107,1. Kondisi ini adalah sebagai dampak dari pendapatan per kapita Indonesia yang masih rendah. Di tambah lagi dengan belum siapnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat. Sebagai catatan saat ini per 100.000 orang di Indonesia hanta tersedia dokter sebanyak 10 orang saja. Cukup kontras dengan Singapura dimana ada 150 dokter untuk setiap 100.000 orang. Hal itu akhirnya yang menjadi pemicu masyarakat untuk lebih memilih menggunakan obat-obat tradisional dari pada obat-obat modern. Hanya ada 14-16 persen penduduk di Indonesia yang mempunyai akses mudah pada obat modern. DVLA sendiri selama ini mengandalkan jalur distribusi melalui apotek, toko obat dan rumah sakit. Khusus untuk tim pemasaran obat ethical, DVLA mengembangkan kebijakan promosi kepada dokter target yang lebih luas, yaitu dokter internis dan dokter umum.

Oscar E Carag, Direktur Keuangan DVLA mengakui, bahwa kinerjanya tahun depan akan sangat dipenaruhi oleh kondisi ekonomi. “Naiknya dollar akan membuat biaya bahan baku naik 30 sampai 40 persen” kata oscar. Tahun depan DVLA masih akan melihat perkembangan ekonomi guna menentukan kebijakan sebelumnya. Triwulan III tahun 2008 ini laba bersih DVLA adalah Rp 64.275.922.000. Jumlah tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan 90 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 33.826.037.000. Total kewajiban yang menjadi tanggungan DVLA tahun 2008 adalah Rp 155.776.741.000 turun sedikt dari tahu 2007 yang sebesar Rp 156.804.058.000. Tahun depan DVLA juga akan menganggarkan capital expenditure sebesar Rp 37 miliar. “Sekitar 65 persen dari jumlah itu akan kita gunakan untuk penambahan kapasitas produksi”jelas Oscar. Ia juga meyakinkan bahwa capital expenditure tersebut akan didanai dari kas perusahaan sendiri. Oscar sendiri mengakui bahwa kondisi keuangan DVLA saat ini cukup kuat dan sama sekali tidak memiliki komitmen utang dengan bank manapun.

Analis : Andrew Siahaan, Reliance Securities

Kinerja yang cukup bagus tentu saja membawa konskuensi kuatnya fundamental perusahaan. Namun hal yang harus diingat adalah kondisi bahwa tahun ini perekonomian masih akan mengalami tekanan. Masalah inflasi hendaknya juga menjadi perhatian DVLA. Kenaikan inflasi akan memicu pada peningkatan biaya produksi dan pada gilirannya bisa saja menggerus harga saham DVLA. Tahun 2009 mendatang tampaknya masih akan terjadi tren penurunan harga minyak. Kondisi ini bagus untuk perusahaan karena akan menekan pengeluaran operasional. Namun di sisi lain, ada juga risiko meningkatnya jumlah pengangguran karena guncangan ekonomi. Pengangguran yang semakin bertambah tentu juga akan membuat daya beli masyarakat menurun. Apalagi DVLA produknya adalah consumer goods. Namun kebijakan melakukan diversisifikasi oleh DVLA sudah cukup tepat. Investor saham hendaknya tidak hanya melihat pada fundamental perusahaan saja. Karena sesungguhnya dalam perdagangan bursa selalu ada risiko pasar dan harga saham pun biasanya mengikutinya. Dua hal tersebut harus diperhatikan investor. Saat ini saham DVLA di lantai burasa berada pada level Rp 960 per lembar dengan P/E adalah 6,21 dan PBV 1,06. Meski cukup bagus namun market capitalization DVLA masih tergolong kecil, investor sebaiknya wait and see perkembangan selanjutnya saja.

Tuesday, December 2, 2008

Terapkan Cost Efficiency
PT INDOSIAR KARYA MEDIA TBK ANDALKAN PROGRAM IN HOUSE PRODUCTION


JAKARTA – PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) utamakan membuat acara-acara in house production. Menurut Direktur Keuangan IDKM, Phiong Phillipus Darma, program-program inilah yang mendongkrak kinerja IDKM tahun ini. Program-program in house production adalah program yang dibuat di dalam studio milik IDKM sendiri. “Untuk program-program seperti ini, kita mengeluarkan cost jauh lebih rendah dari pada kalau kita beli sinetron” kata Philipus dalam public expose IDKM, Selasa (2/11).

Hal tersebut terbukti dengan peningkatan kinerja IDKM pada 2008 ini. Pada Q3 tahun ini pendapatan bersih IDKM naik 45 persen, dari sebelumnya Rp 444 miliar tahun 2007, kini menjadi Rp 644 miliar. Beban usaha yang ditanggung tahun ini juga mengalami penurunan sebesar 8,5 persen. Tahun lalu beban usaha IDKM adalah Rp 497 miliar, namun tahun 2008 berkurang menjadi Rp 455 miliar.

Salah satu acara in house production penyumbang pemasukan terbesar adalah acara Supermama dan derivatifnya. “Acara itu pada awalnya hanya berdurasi 2 jam saja, namun kini mencapai 5 jam dan kadang lebih” jelas Phillipus. Program itu sendiri tayang dalam rentang waktu prime time, yakni mulai pukul 18.00 sampai 22.00. Banyaknya iklan yang didapat membuat IDKM memutuskan memperpanjang durasinya. Sebagai informasi, biaya iklan pada prime time mencapai Rp 25 juta per 30 detik. Sampai dengan Oktober 2008 ini, IDKM berada pada urutan dua, stasiun TV dengan audience share terbanyak. Audience share IDKM mencapai 16 persen dan ditergetkan akan mencapai 18 persen tahun 2009. Program in house productioncost IDKM terpotong menjadi 60 persen. Selain itu, strategi lain yang diterapkan IDKM dalam rangka cost efficiency adalah dengan memutar ulang stok program yang sudah ada. “Tiap pagi, siang atau sore kita ulang program-program yang pernah tayang” jelas Phillipus. membuat

Bangun Studio

Tahun depan nampaknya juga menjadi tahun yang diwaspadai oleh IDKM. Menurut Philipius, perusahaannya akan menerapkan freeze capital expenditure. Ia mengatakan bahwa tahun depan IDKM akan maintain expenditure. Namun begitu ada salah satu rencana yang menjadi pengecualian, yakni pembangunan studio baru. Sampai saat ini IDKM masih mempelajari feasibilitas pembangunan studio tersebut. Rencananya studio itu akan di bangun tak jauh dari lokasi kantor IDKM di Jalan Daan Mogot, Jakarta.

IDKM sendiri adalah holding company dari PT Indosiar Visual Mandiri yang bergerak di bidang jasa penyiaran televisi. Kepemilikan IDKM atas PT Indosiar Visual Mandiri mencapai 99,99 persen, sedang sisanya masih dimiliki investor yang tidak melakukan share swap atas saham tersebut. Sedang untuk IDKM sendiri, saat ini komposisi kepemilikan sahamnya adalah 27,24 persen oleh PT Prima Visualindo dan sisanya 72,76 persen dimiliki public.

Pada Agustus lalu IDKM telah melakukan refinancing Obligasi Indosiar Tahun 2003. Obligasi tersebut diterbitkan oleh anak perusahaan IDKM, yakni PT Indosiar Visual Mandiri dengan nilai pokok sebesar Rp 696.207.050.000 dengan nominal per satu satuan Rp 175.000. Kala itu, obligasi tersebut ditawarkan sebear Rp 144.375 atau hanya 82,5 persen dari nilai pokoknya. Menurut Phillipus, pendanaan atas refinancing obligasi tersebut berasal dari hutang bank senilai Rp 500 miliar. Bank-bank yang menjadi kreditur adalah Bank BCA, Bank Niaga, dan Bank Panin. Masing-masing dengan komitmen sebesar Rp 150 miliar, Rp 100 miliar dan Rp 250 miliar dengan jangka waktu pinjaman selama 5 tahun. Pembayarannya sendiri secara installement per tiga bulan dengan suku bunga tetap per tahun sebesar Rp 12,8 persen.

Jaminkan Saham

Terkait dengan komitmen utang pada 3 kreditur tersebut, Philipus menyatakan bahwa IDKM akan menggadaikan saham dari PT Indosiar Visual Mandiri senilai Rp 200 miliar pada pihak kreditur. “Tapi itu bukan repo, karena sahamnya kan unlisted dan itu hanya sebagai tambahan jaminan atas utang kita saja” terang Phillipus. Pelaksanaan perjanjian tersebut akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari RUPS 18 Desember mendatang. Karena tenggat waktu perjanjian adalah sampai 31 Desember 2008.

Kondisi fundamental IDKM sampai dengan Q3 2008 ini cukup bagus. Pada pos aktiva lancar, per 30 September 2008 IDKM memiliki aktiva lancar sebesar Rp 636 miliar. Sebelumnya tahun 2007 aktiva lancar hanya Rp 550 miliar. Total aktiva yang dimiliki IDKM tahun ini adalah Rp 1,248 triliun. Sedikit mengalami penurunan, 7,2 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 1,345 triliun. Namun begitu, total kewajiban dan ekuitas yang menjadi tanggungan IDKM tahun ini mengalami penurunan. Triwulan III 2008 ini total kewajiban dan ekuitas IDKM adalah Rp 1,248 triliun. Sebelumnya tahun 2007 adalah Rp 1,345 triliun. Hal yang cukup fantastis adalah pada pos laba bersih. Tahun 2008 ini IDKM mencatatkan laba bersih sebesar Rp 63 miliar. Naik drastic sebesar 157,8 persen, karena sebelumnya di tahun 2007 IDKM mengalami kerugian Rp 109 miliar. Sehingga tahun ini IDKM berhasil mencatat EBITDA yang cukup signifikan sebesar Rp 266 miliar. Tahun 2007 sendiri IDKM mencatat LBITDA, karena mengalami kerugian, sebesar Rp 63 miliar. Pada perdagangan saham di lantai bursa, saham IDKM berada pada level Rp 260 per lembar.

Monday, December 1, 2008

Produk Investasi Murah
REDLAND FOKUS USAHA INVESTASI

JAKARTA – Tahun 2009 PT Redland Asia Capital Tbk (PLAS) serius garap bisnis investasi. Penetapan core business tersebut telah disepakati oleh Rapat Umum Pemegang Saham PLAS, Senin (1/12), di Hotel Four Season Jakarta. Dalam RUPS tersebut juga disepakati adanya perubahan nama perusahaan menjadi PT Polaris Investama Tbk dengan Taffi Tjahya Indra menjabat Direktur Utamanya menggantikan Baharuddin Noor.

PLAS adalah perusahaan yang bergerak di bidang usaha investasi. Guna mendukung usahanya itu maka PLAS juga menjalankan usaha di bidang perdagangan, kontraktor, jasa, pengangkutan dan percetakan. Menurut Taffi, proyek-proyek tahun lalu sekarang sudah diselesaikan semua. Karena itulah fokus usaha ke depan adalah di bidang investasi. Taffi sendiri mengakui dirinya masih mempelajari kinerja dan prospek perusahaannya. “Ke depan kita masih akan melihat situasi untuk menentukan langkah selanjutnya” katanya.

Pertumbuhan ekonomi 2009 yang diprediksi mengalami pertumbuhan, membuat banyak usaha mulai mengetatkan usahanya. Berbagai cara dilakukan guna menjaga kinerja perusahaan agar tetap survive. Termasuk juga PLAS yang belum berani memasang target pertumbuhan di tahun depan. Namun begitu Taffi yakin bahwa usaha investasi ke depan masih cukup bagus karena harga-harga produk investasi masih murah. Mengenai produk-produk yang akan dijual, Taffi belum bisa memastikan. “Yang jelas hanya produk-produk yang menguntungkanlah yang akan kita garap” katanya.

Saat ini PLAS memiliki dua anak perusahaan yakni PT Universal Broker Indonesia dan PT Binong Nuansa Permai. Masing-masing kegiatan usahanya adalah pedagangan efek dan usaha konstruksi. Nampaknya PT Universal Broker Indonesia inilah yang akan menjadi kendaraan bisnis PLAS tahun depan, mengingat PT Binong Nuansa Permai masih dalam tahap pengembangan. Jumlah kepemilikan saham PLAS atas kedua anak perusahaannya tersebut adalah 76,42 persen untuk PT Universal Broker Indonesia, dan 99,75 persen untuk PT Binong Nuansa Permai.

Dalam laporan keuangan Q3 2008 PLAS mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4.410.071.721. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 37 persen dari tahun 2007 sebesar Rp 3.214.468.976. Pendapatan selama Q3 2008 juga mengalami kenaikan 22 persen menjadi Rp 14.472.469.073. Sebelumnya tahun 2007 pendapatan PLAS hanya sebesar Rp 11.869.824.881. Namun beban usaha yang harus ditanggung PLAS juga mengalami kenaikan sebesar 18,4 persen. Tahun 2007 beban usaha adalah Rp 5.688.399.791, namun tahun ini naik menjadi Rp 6.737.432.812. Total aktiva yang dimiliki PLAS samapi Q3 2008 adalah sebesar Rp 229.099.811.658. Tahun 2007 sendiri total aktiva PLAS adalah Rp 240.359.503.693. Salah satu kondisi yang juga cukup bagus adalah menurunnya jumlah kewajiban lancar tahun 2008 ini. Tahun 2007 kewajiban lancar PLAS adalah Rp 71.412.216.796, namun di tahun 2008 jumlah tersebut mengalami penurunan menjadi Rp 54.419.520.373.

Dalam perdagangan saham di lantai bursa kemarin saham PLAS berada pada level Rp 830 per lembar saham. Mengenai pergantian nama perusahaan, ini sudah yang kedua kalinya dialami PLAS. Sebelumnya PLAS bernama PT Palm Asia Corpora Tbk, lalu diubah menjadi PT Redland Asia Capital Tbk. Kini nama perusahaan berubah lagi menjadi PT Polaris Investama Tbk.

Sisa Utang 30 Miliar
PT BHUWANATALA INDAH PERMAI TBK RENCANAKAN RESCHEDULLING

JAKARTA – PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) berencana reschedulling utang pada PT Bank Lippo Tbk. Utang senilai Rp 30 miliar itu adalah fasilitas pinjaman yang diberikan oleh PT Bank Lippo Tbk kepada PT Asri Kencana Gemilang, anak usaha BIPP. “Jatuh tempo utang itu sebenarnya masih tahun 2011, tapi kita rencana ada penjadwalan ulang” kata Hengki Heriandono, Corporate Secretary BIPP, Senin (1/12).

Pada tahun 2005 PT Asri Kencana Gemilang memang mendapat fasilitas pinjaman angsuran tetap sebesar Rp 50 miliar dari PT Bank Lippo Tbk dengan jangka waktu 5 tahun. Namun pada April 2007 PT Bank Lippo Tbk mengenakan denda atas tunggakan pembayaran pokok dan bunga sebesar Rp 831.012.466. Tapi kemudian oleh PT Bank Lippo denda dikurangi shingga hanya menjadi Rp 498.012.466.

Hengki menambahkan bahwa untuk BIPP sendiri, sejauh ini tidak mempunyai komitmen utang dengan Bank manapun. Tahun 2009 BIPP tidak memasang target pertumbuhan. “Kita hanya aka fokus mengurangi kerugian dari tahun lalu” jelas Hengki. Tahun 2007 dan 2008 memang menjadi tahun yang berat bagi BIPP. Rugi bersih pada tahun 2007 adalah Rp 4.761.016.480. Namun terjadi peningkatan kinerja di tahun 2008, sehingga kerugian dapat dikurangi menjadi Rp 2.770.007.085. Menurut Hengki kerugian yang diderita BIPP adalah akibat dari akumulasi kerugian tahun-tahun sebelumnya. Untuk menguatkan struktur keuangan perusahaan, Agustus lalu BIPP telah melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Suryagajah Maspertiwi (SGM), kepada PT Aristiara Mulia. Transaksi senilai Rp 95,385 miliar ini akan selesai tahun ini. Hengki sendiri belum bisa memastikan penggunaan dana itu untuk pada pos apa saja. “Tapi yang pasti dana tersebut digunakan untuk pengembangan usaha BIPP” kata Hengki.

Bisnis Baru
Awal tahun 2008 ini BIPP mulai mengoperasikan salah satu bidang usahanya yang baru, yakni penyewaan kapal. Akhir 2007 lalu BIPP telah menginvestasikan dana Rp 20 miliar untuk membeli 2 kapal Phinisi. Kapal wisata tersebut saat ini dioperasikan di Ambon dan di Bali. Dengan sewa kamar USD 400 per malam membuat BIPP merasa optimis terhadap bisnis barunya itu. “Tahun 2009 malah sudah banyak wisatawan asing yang booking kapal kita” aku Hengki.

Sebelumnya BIPP juga telah lama mengelola usaha persewaan gedung “Graha BIPP” di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Tingkat occupancy nya saat ini telah mencapai 96 persen. BIPP berencana mengoptimalkan manajemen gedung tersebut guna mendongkrak pendapatan perusahaan.

Sampai dengan Q3 2008 ini kinerja BIPP tak bisa dipungkiri juga terkena imbas krisis financial. Kewajiban lancar tahun ini naik 23 persen, menjadi Rp 68.735.161.768. Tahun sebelumnya pos tersebut bernilai Rp 55.933.568.634. total aktiva yang dimiliki BIPP tahun ini menjadi Rp 267.357.777.062. Sedikit mengalami penurunan dari 2007 yang sebesar Rp 277.864.611.559. Pendapatan tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 42 persen. Pendapatan 2007 adalah Rp 15.854.783.331 namun pada 2008 naik menjadi Rp 22.528.056.848. Namun begitu pos beban usaha pada Q3 2008 juga mengalami kenaikan. Tahun 2007 beban usaha adalah Rp 5.629.217.866, namun tahun 2008 naik menjadi Rp 8.895.957.253. Di lantai bursa saat ini, saham BIPP dijual pada level Rp 50 per lembar saham.

Sunday, November 30, 2008

EKSPOR NAIK SAAT KRISIS

PT DELTA DJAKARTA TBK TARGETKAN PENJUALAN NAIK 15 PERSEN

JAKARTA – PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) targetkan penjualan naik 5 persen sampai akhir tahun ini. Menurut Eddie Priyono, Dirut PT Delta Djakarta Tbk, target ini realistis untuk dicapai. “Tahun ini ekspor kita naik 15 persen, padahal dulu hanya sekitar 5 persen saja” kata Eddie saat dihubungi Indonesia Business Today, Minggu (30/11).

Selama ini penjualan produk-produk DLTA memang lebih banyak di fokuskan ke domestik. Tahun ini 85 persen penjualan ke pasar domestik. Peningkatan permintaan ekspor ini justru banyak datang dari Irak. “Sekarang di Irak kan masih banyak tentara-tentara Amerika yang mengkonsumsi alkohol” jelas Eddie. Dalam sebulan saja paling sedikit 100 kontainer di kirim ke Irak. DLTA sendiri adalah perusahaan produsen minuman beralkohol dan non alcohol. Produk yang beralkohol antara lain Anker Bir, Carlsberg, San Miguel, Kuda Putih, San Mig Light. Sementara untuk minuman non alcohol DLTA memproduksi Sodaku dan Soda Ice. Menurut Eddie saat ini pihaknya juga tengah mengembangkan produk-produk non alcohol lain karena ternyata pasarnya juga cukup bagus.

Disinggung masalah kondisi Indonesia yang kebanyakan beragama Islam, menurut Eddie hal ini tidak menjadi masalah dalam penjualan. “Kita kan kebanyakan menjualnya pada orang-orang asing, juga ke daerah-daerah yang kebanyakan penduduknya orang non Islam, seperti Bali” katanya. Untuk pasar Jakarta sendiri saat ini masih menjadi konsumen terbesar. Khususnya di daerah Jakarta Utara yang banyak terdapat pelabuhan. Dalam Keppres No 3 Tahun 1997, produk bir sendiri masuk dalam minuman beralkohol golongan A dengan kadar di bawah 5 persen. “Selama ini kita juga tidak pernah tersangkut regulasi itu” jelas Eddie.

Cukup 1 Persen

Tahun 2009 DLTA hanya berani mentargetkan pertumbuhan 1 persen saja. Kondisi yang masih terpengaruh krisis keuangan global diakui Eddie menjadi bahan pertimbangan perusahaan untuk fokus maintain usaha saja. “Untuk capex tahun depan kita juga belum berani bilang, masih menunggu RUPS” kata Eddie. DLTA sendiri menjadwalkan akan menggelar RUPS pada bulan April tahun depan.

Kinerja DLTA pada Q3 tahun 2008 ini cukup bagus. Pos aktiva lancar saat ini menunjukkan Rp 470.578.976.000 sedikit mengalami kenaikan dari tahun 2007 yakni sebesar Rp 402.348.900.000 Sementara total aktiva yang dimiliki oleh DLTA sampai triwulan III ini adalah sebesar Rp 627.349.775.000 Mengalami kenaikan 12 persen dari 2007 sebesar Rp 560.223.459.000.

Kewajiban lancar yang menjadi tanggungan DLTA Q3 2008 adalah Rp 107.016.549.000 Nilai tersebut meningkat drastic 27,2 persen dari tahun 2007 yang hanya Rp 84.117.289.000 pada periode yang sama. Total kewajiban dan ekuitas juga mengalami kenaikan dari tahun 2007 sebesar Rp 560.223.459.000 tahun ini menjadi Rp 627.349.775.000. Beban usaha juga sedikit meningkat menjadi Rp 128.564.780.000 dari sebelumnya tahun 2007 adalah Rp 100.548.153.000. Hal ini disebabkan karena permintaan bahan baku yang kebanyakan impor dari Eropa juga mengalami kenaikan. Menurut Eddie kenaikan permintaan bahan baku tahun depan bisa mencapai 100 persen. Namun ia menyatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah karena sudah sejak tahun lalu kesepakatan jual-beli ditandatangani dengan kurs tetap. Selain itu penggunaan kemasan kaleng untuk produk ekspor sejak Oktober tahun lalu juga ikut menyumbang kenaikan pada pos ini.

Eddie sendiri juga mengakui bahwa pihaknya tidak pernah memiliki pos utang bank, karena semua kegiatan operasional sudah bisa dipenuhi oleh kas perusahaan. Sampai saat ini kepemilikan saham DLTA adalah 56 persen oleh San Miguel Internacional, 26 persen oleh pemda DKI, dan sisanya 18 persen dimiliki public.

Walau dalam kondisi krisis, laba bersih yang dibukukan selama Q3 tahun 2008, justru mengalami kenaikan tajam. Laba bersih tahun 2008 adalah Rp 52.499.931.000 mengalami kenaikan 65,8 persen dari 2007 yang sebesar Rp 31.671.003.000. Menurut Eddie hal ini disebabkan karena peningkatan permintaan ekspor yang transaksinya dilakukan dengan Dollar. Di samping itu DLTA juga memiliki produk kelas menengah ke atas yaitu Carlsberg, San Mig Light, dan San Miguel. Permintaan produk-produk tersebut tak terpangaruh oleh krisis keuangan saat ini.

Lonely Long Night.....

01.15: Zzzzzzzzzzzz......Meet my lovely person in dream.

00.01: Late night, masih setia di depan monitor, nyasar ke idx, segotiwul dan mas google. Mainkan keyboard bertempo adagio dengan nada dasar A (Asal....maklum lampu mati semua, hemat listrik). Terlalu manis Slank, titip rindu buat ayah Mas Ebiet, zoot allures Frank Zappa, 3 little birds Om Marley, Canon D accoustic ????, blues solo Jody, little wings Hendrix, scuttle buttin' Vaughan, let it rain Paman Clapton...bergantian bernyanyi eksklusif untukku saja, sudah hampir satu jam. Segotiwulku hampir tersaji. Malam panjang tak sepanjang kesendirianku. Tercebur dalam rutinitas, hanyut dalam perjuangan, tenggelam dalam tenggat waktu.

23.05: Bingung juga mo ngapain. Badan agak capek, ngantuk juga, tapi ga ah belum enak juga untuk tidur. Sepi, hanya ada 3 nyawa yang kulihat sibuk masing-masing. TV nyala, channel news berkoar. Penyitaan minuman beralkohol impor. Wah pas banget nih, kebetulan rencana juga ambil angle itu. Sasaran telah ditentukan, laporan keuangan ada, nomor kontak juga sudah ada, tinggal berdoa besok narasumber mau bicara, selanjutnya biar mas google yang bekerja. Berita selesai, coba ganti saluran. Film "King Kong" yang sejak tadi diputar juga belum selesai-selesai. Dah pernah nonton sih, tapi tak apalah, toh aktrisnya cukup cantik. Terbayang-bayang King Kong, si beruk yang kelebihan hormon pertumbuhan, menderita gigantisme akut. Ironis sekali, binatang saja kesejahteraannya melebihi manusia (entah di belahan dunia mana, tapi ga usah jauh-jauh nyari....?????) Jadi ingat di sebuah negara melayu, boro-boro gigantisme, tumbuh normal saja sullit (double L.....sangat!!!) manusia-manusia tak berdaging, kering kerontang, lupa makan atau karena tak ada makanan? setahuku negara tersebut gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Bahkan bayi-bayi yang seharusnya manis, lucu, menggemaskan dengan pipi chubby, banyak yang tergeletak dengan jalur-jalur infus penyambung nyawa..!!!! Beratnyapun hampir sama dengan gula pasir yang tiap bulan ku beli. Oh Tuhan. Engkaulah Sang Bijaksana, apa memang sengaja hipofisis mereka Engkau cabut? atau ada orang lain yang mengambil paksa? Ada yang salah? salah siapa? bunda mengandung? retoris. Rakyat hidup di suatu negara patuh pada negara, bayar pajak pula, berharap negara membalas kepercayaan dengan kesejahteraan (atau tausahlah muluk-muluk dulu, hidup normal atau sedikit kurang saja sudah cukup bagus).... but where did they go? di mana kepercayaan itu sekarang? Apakah negara "itu" telah lupa batas-batas teritorialnya? sehingga sudut-sudut timur, barat, utara, selatan, dari titik tengah, dilupakan begitu saja hanya karena terhalang semak atau ilalang semata? Karena sesungguhnya kehidupan di balik semak ini lah ajang pembuktian janji "anda sekalian". Wah jadi inget dulu liputan. Ke Senayan di suatu gedung megah, tapi gara-gara kurang informasi (malu juga sih, tapi tak apa orang baru ini...he), semua jadi sia-sia. Pembesar-pembesar sedang pulang kampung. Ngurus "keluarga" masing-masing. Tapi keluarga yang mana ya? keluarga tiap 5 tahun sekali saja, atau keluarga.....eee...ya keluarga lah.....he he. Tak usah tunggu lebaran, THR keluar, mudik jadi nyaman.....(hampir 20 kali lipat gajiku nih...sama-sama 1 bulan "kerja"). Cabut ke kantor......nyalain komputer, cari inspirasi tuangkan cerita dalam kopi pahit, jelas tanpa tanpa gula.

21.46: Sampai di rumah loteng tercinta. Perjalanan "panjang" dari Fatmawati-Plasa Semanggi-Pancoran-Blok M-Fatmawati plus hujan deras seakan tak berasa apa-apa. Perjalanan yang cukup mengasyikkan karena kemacetan, 10 km/jam, tiap 5 meter berhenti, bahkan kadang tak beranjak hampir 20 menit lamanya... semua berasa biasa saja, jadi seperti safari jalan raya. Entah kenapa hari ini semua seperti "tak berasa". Hari ini sedikit santai walau hanya beberapa jam saja, karena sebenarnya pikiran masih melayang-layang ke segala penjuru, mencari celah yang bernilai kabar. Tapi lumayan lah masih lebih tenang tak ada agenda liputan juga tanpa deadline.

18.31: Tiba di tujuan, senyum cerah membawa canda karena lama tak sua (padahal cuma 1 minggu saja....????) Biarlah tak mengapa, asal bahagia serasa di rumah. Sedikit tak enak karena cuaca telah membuatnya lemah. Kasihan juga. Kesana kemari lisan tak jelas (semoga bisa membuatmu ceria ya). Coba makan ala barat, tapi...bah nampaknya lidah jowo tak kan bisa dibohongi..apa lagi perut masih saja protes "belum kebagian subsidi beras". Jalan-jalan keluar lirik sana-sini barangkali ada jenis makanan dengan komposisi oryza sativa, biarlah tanpa label SNI atau Expired Date sekalipun. We all Indonesian Trust On You !!!! but sometimes their hand power force us to "hate" you. Koki-koki baru dadakan mulai muncul, meracik resep-resep baru. Cukup mewah sekali namanya walau dengan bahan sederhana. Bagi peserta paksa wisata kuliner ini, ada 2 yang cukup nikmat: ada aking yang lagi nge-trend, ada juga tiwul yang sudah lama melegenda. Kata mereka sih cukup enak hingga hampir tiap hari tak pernah ganti menu. Mau tau bahan utamanya? Beras subsidi a.k.a raskin + krikil + kutu beras. Tapi maaf, sekarang harganya sangat mahal bisa jadi harus ditukar dengan nyawa. Mencarinya pun susah minta ampun, karena biasanya banyak tertumpuk di gudang-gudang orang berwenang, dan terkunci rapat, rapat sekali. Say goodbye, "udah dulu ya, aku pulang takut kemaleman, lagian kamu juga kan mesti istirahat, biar sehat lagi" smile.

17.25an: Plasa Semanggi mana? perdana kehujanan, lupa kalau tas ya memang tas, dan bukan payung. Ini di jalan raya apa di pantai ya? kok asyik gini, seashore wave tiap kopaja melintas. Langkah pasti tanpa rencana pasti. Ingat-ingat, dulu pernah ke sini lewat mana, pintu yang mana, tapi tetep harus sok cool biar ga punya duit juga. Waduh ko malah jadi inget kerjaan, yah apes. Mau tak mau kebayang lagi angle-angle yang semua pasti ada angkanya (idx.co.id-thanks for your existence). Tak sadar melangkah jauh ke rak buku ekonomi, comot 1, bayar. Tahan nafsu penuhi tas belanja. Minggu depan masih bisa man....(sedih juga ya....apa harus lapor AJI/PWI? ah tak usahlah).

15.30an: Wah, ketiduran....gawat. Puanasnya minta ampun, kipas nyala, sejuk serasa di JW Marriot. Teringat komplek food court jalanan, di pintu masuk hotel. Bos-bos restoran gerobak asyik meeting di "tambal ban room", dengan peluh menetes karena panas, dan sesekali menyekanya dengan tangan. Bertahan paling tidak 10 jam mengumpulkan lembaran rupiah. Makin hitam badan makin banyak rejeki. Itu barang kali jargon mereka. Di dalam di lantai dua hotel, manusia-manusia berjas tebal kedinginan. Kopi panas dan acessoriesnya plus makanan "kecil" yang aku yakin harganya lebih mahal dari penghasilan 1 minggu tukang bajaj.Kontras!!! Dah ah, cepet-cepet mandi, dandan (cie...gaya banget), sholat (ingat pada Tuhan akan membawa kita pada kebesaran hati dan merasa cukup...serius). Rintik hujan menyapa, 76 Ciputat-Senen on the way. Kisah Cintaku, Chrisye menitis pada pengamen jalanan. Jadi inget kampung. Tunggu aku ya.....

09.12-14.46: November, 29th 2008. Hari yang membingungkan, menanti kabar tak kunjung jelas. Harusnya jadi momen bersejarah, tapi nampaknya akan tertunda. Biarlah yang penting agenda hari ini membahagiakan.

Friday, November 28, 2008

METRO RUGI BESAR

JAKARTA – Kuartal III tahun 2008 PT Metro Supermarket Reality Tbk alami kerugian Rp 681.668.152. Jumlah ini berubah cukup signifikan karena sebelumnya pada tahun 2007 MTSM mampu mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp 1.342.681.276. Adanya penurunan pendapatan bersih pada tahun ini nampaknya cukup mempengaruhi kinerja keuangan MTASM. Tahun ini MTSM hanya memperoleh pendapatan usaha senilai Rp 17.643.393.051 untuk kuartal III. Pada periode yang sama pada 2007, MTSM mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 24.085.273.247.

MTSM sendiri mengakui penurunan kinerja tersebut banyak dipengaruhi oleh dampak krisis keuangan yang terjadi. Bisnis swalayan yang dijalankan banyak mengalami penurunan penjualan sebagai akibat tidak stabilnya ekonomi. Bahkan pada Maret lalu MTSM telah resmi menghentikan semua kegiatan Metro Supermarket. Sepinya pengunjung dan lemahnya daya beli menjadi alasan penutupan unit usaha MTSM kala itu. Selama 5 tahun belakangan unit bisnisnya itu mengalami kerugian.

Sebelumnya MTSM memiliki beberapa kegiatan usaha yakni, di bidang property management, real estate, dan swalayan. MTASM mengakui saat ini kondisi fundamental perusahaanya akan sangat dipengaruhi oleh efektifitas kebijakan fiscal dan moneter dari pemerintah. Janji pemerintah untuk memberikan porsi anggaran lebih besar untuk sector riil seharusnya menjadi sinyal positif bagi MTSM yang saat ini hanya fokus pada bisnis property dan real estate.

Sampai dengan triwulan III tahun 2008 ini total aktiva yang dimiliki MTSM adalah sebesar Rp 92.057.271.475. Jumlah ini sedikit mengalami penurunan dari tahun 2007 yakni sebesar Rp 95.151.994.497. Namun begitu untuk pos aktiva lancar MTSM masih memiliki tren naik. Tahun ini aktiva lancar Rp 10.161.702.582 naik 28,3 persen dari 2007 yang sebesar Rp 7.916.011.343. Jumlah kewajiban lancar yang menjadi tanggungan MTASM tahun ini juga mengalami kenaikan menjadi Rp 9.193.943.877 dari sebelumnya hanya Rp 7.996.752.833 di tahun 2007.