Friday, January 30, 2009

SEMEN GRESIK ANGGARKAN CAPEX USD 390 JUTA TAHUN INI

JAKARTA – PT Semen Gresik (Persero) Tbk (SMGR) akhirnya resmi mereviesi capex nya.. Namun menurut Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto, kebijakan tersebut diambil perseroan guna melakukan efisiesi usaha yang masih terpengaruh krisis ekonomi global. Perubahan capex tersebut juga telah mendapat persetujuan dari RUPSLB SMGR pada Jumat (30/1).

Sebelumnya, sesuai dengan hasil RUPSLB Desember 2007, SMGR menganggarkan capex sebanyak USD 1,6 miliar untuk empat tahun berikutnya. Capex tersebut sedianya digunakan untuk pengembangan beberapa proyek baru antara lain, pembangunan 10 unit pembangkit listrik dan dua pabrik baru. 

Rencananya pembangunan 10 unit pembangkit listrik berkapasitas 410 MW itu dan pembangunan dua pabrik di Jawa dan Sulawesi akan menghabiskan dana USD 573 juta. Lokasi pembangunan pembangkit listrik sendiri direncanakan berada di Tuban, Indarung Padang dan Tonasa Sulsel. Namun belakangan akhirnya dari 10 proyek pembangkit listrik tersebut, hanya dua yang bisa diteruskankan pembangunannya. Lokasi pembangunan 2 pembangkit listrik berkapasitas 70 MW tersebut berada di Sulawesi. SMGR akan menginvestasikan USD 114 juta untuk dua pembangkitnya itu. Pelaksanannya sendiri akan dimulai Q1 tahun ini.

Menurut Dwi, alasan pembatalan pembangunan 8 pembangkit listrik tersebut karena pihak ke tiga sebagai partner ternyata tidak bisa menyediakan kewajibannya. Dengan adanya pembatalan tersebut maka capex SMGR sampai 2012 menjadi sekitar USD 1,3 miliar saja. Mengenai kelanjutan pembangunan pabrik di Jawa dan Sulawesi, Dwi meyakinkan bahwa budget nya tetap sesuai target awal. “Tidak ada ekskalasi anggaran proyek itu” ujarnya.

Lebih lanjut menurut Direktur Keuangan SMGR Cholil Hasan, penggunaan capex sebesar USD 1,3 miliar tersebut mayoritas akan terjadi di tahun 2009 dan 2010. “Sekitar 60 persen capex itu akan terpakai di 2009 dan 2010, dimana tahun ini akan terpakai 30 persennya” kata Cholil. Ia sendiri mengatakan, bahwa porsi dana internal untuk pembiayaan capex itu juga meningkat hingga lebih dari 40 persen dari sebelumnya 30 persen saja. Ia meyakinkan bahwa kas internal SMGR masih cukup kuat untuk itu. Ia menyebutkan angka Rp 3 triliun ketika ditanya posisi kas perseroan.

SMGR nampaknya juga kemungkinan akan meneruskan program buyback lagi. Hal tersebut tercermin dari pernyataan Dwi yang mengatakan bahwa perubahan harga saham SMGR juga menjadi fokusnya tahun ini. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham SMGR tak beranjak dari posisi pembukaan Rp 3.475. SMGR memang telah menyelesaikan buyback periode 13 Oktober 2008 dan 9 Januari 2009, dengan realisasi pembelian 68,032 juta lembar saham senilai Rp 198,7 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 1,147 persen saham beredar SMGR.

Terkait ekspansi luar negeri, SMGR mengakui pihaknya telah menunjuk Credit Suisse untuk bertindak sebagai advisornya. Ekspansinya sendiri kemungkinan masih berada di kawasan Asia Tenggara, karena menurut SMGR potensi usahanya lebih besar. Sementara itu kebutuhan batubara SMGR tahun ini, adalah sebesar 3 juta ton. Pasokannya sendiri akan diambil dari Sumatera dan Kalimantan. Batubara tersbut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi tiga pabriknya yang total berkapasitas 17.700.000 ton per tahun. Selama 2008 lalu, produksi semen SMGR mencapai 18,2 juta ton naik dari tahun 2007 yang hanya sebesar 17,1 juta ton. (gal)

Deni Hamzah/Pengamat Pasar Modal
Sektor semen walaupun diprediksi hanya akan tumbuh 3 persen namun masih cukup berpotensi. Apalagi kebijakan stimulus infrastruktur sudah akan diimplementasikan. Sektor properti juga kemungkinan akan membaik seiring dengan pemangkasan BI rate beberapa waktu lalu. Hal ini tentu akan membawa dampak positif bagi sektor semen. Untuk Semen Gresik, upaya melakukan ekspansi ke luar negeri merupakan salah satu langkah yang tepat. Untuk buybacknya sendiri nampaknya belum cukup efektif. Jika memang akan dilakukan buyback tahap II harus menunggu kondisi market yang tepat. Saat ini saham sektor semen paling bagus adalah dari Semen Gresik, Indocement, dan Holcim. Rekomendasi SMGR buy, INTP buy on weakness, SMCB hold.

Thursday, January 29, 2009

PT MOBILE TELECOM TBK SEGERA RIGHTS ISSUE

JAKARTA - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) akan meneruskan rencana penerbitan saham baru (rights issue). Pihak FREN menyatakan sudah bernegosiasi dengan 2-3 investor asal Timur Tengah yang berminat menjadi pembeli siaga (standby buyer). Direktur Utama Mobile-8 Telecom, Wityasmoro Sih Handayanto, mengatakan, rights issue merupakan rencana perseroan sejak pertengahan 2008. Rencana tersebut belum terealisasi, karena pasar modal dalam kondisi yang berpotensi krisis. "Tapi kita masih berniat rights issue yang kemungkinan tahun ini" katanya.

FREN sendiri telah menunjuk PT Bhakti Securities sebagai pelaksana standby buyer terkait rencana rights issue tersebut. Namun pihak FREN masih enggan menyebutkan jumlah saham yang akan dilepas, karena menurut mereka sejauh ini semua masih dalam perhitungan. Lebih lanjut Wityasmoro mengatakan bahwa, pihaknya telah memperoleh persetujuan dari pemegang saham mayoritas FREN, yakni Jerash Investment Ltd. Penyertaan Jerash Investment Ltd di FREN mencapai 32 persen atau setara dengan 6.475.479.000 saham. FREN bahkan juga mengaku telah mempertemukan pemegang saham dengan perusahaan investasi dari Timur Tengah. Khusus untuk standby buyer, Wityasmoro mengatakan, bisa berasal dari investor baru atau pemegang saham lama. ”Tapi kita prioritaskan dari investor baru” ujarnya.

FREN menargetkan jumlah pelanggannya sampai akhir tahun 2009, dua kali lipat dari jumlah pelanggan tahun 2008. Merza Fachys, Direktur Corporate Affair FREN mengatakan, bahwa sampai Q4 2008 lalu, jumlah pelanggan FREN memang belum selesai dihitung, namun sampai dengan Q3 tahun 2008 tercatat pengguna layanan CDMA FREN telah mencapai 3,5 pelanggan. Jika mengacu pada data tersebut, maka pada akhir 2009 jika sesuai target, FREN akan mendapat pelanggan sekitar 6-7 juta.
Guna mencapai target pelanggan tersebut, FREN mulai memperkuat produknya. Salah satunya dengan meluncurkan produk kartu perdana barunya yakni SOBAT. Kartu perdana yang berisi empat nomor Fren ini, memiliki layanan unggulan berupa sms gratis dan telfon murah antar anggotanya. Dari produk barunya tersebut, FREN menargetkan memperoleh 400-500 ribu pelanggan baru di tahun 2009. "Hingga akhir 2008 lalu, jumlah pelanggan kita memang tidak sesuai harapan, tapi angkanya masih dalam proses audit," papar Wityasmoro. Namun begitu, ia cukup optimis pendapatan FREN sepanjang 2009 ini akan naik 10-20 persen.

Selama tahun 2008 lalu, FREN telah menggunakan dana capital expenditure (capex) sebanyak USD 100 juta, yang kebanyakan digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Tahun 2008 lalu, FREN memang tengah giat mengembangkan usahanya baik melalui jaringan fisik dan distribusi layanan khususnya di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Kala itu dana yang dianggarkan FREN untuk capex tahun 2008 adalah sebesar USD 140 juta. Untuk tahun 2009 sendiri FREN belum mau menyebutkan angka pastinya. “Yang jelas kita mengalokasikan belanja modal kurang dari USD 100 juta” terang Wityasmoro. Capex yang lebih rendah dibanding 2008 itu menurut Wityasmoro dikarenakan tahun ini FREN fokus mempertahankan bisnis yang sudah ada.

Analis/Willy Sanjaya(Mahakarya Securities)
Kondisi sekarang ini masih sulit, khususnya pasar dalam negeri, jika memang akan rights issue dalam waktu dekat kemungkinan akan sulit. Apalagi harga sahamnya saat ini masih di level Rp 50. Untuk level aman rights issue harga saham harus di atas Rp 100. Ada kemungkinan sahamnya akan dikerek. Namun bila ternyata sudah ada standby buyer luar negeri yang siap, tentu akan bagus. Perkembangan sektor telekomunikasi masih cukup menjanjikan, yang harus diperhatikan perseroan adalah adanya perang tariff yang semakin besar. Saham FREN saat ini masih kurang menarik, sebaiknya investor menghindarinya dulu.

Wednesday, January 28, 2009

SAHAM-SAHAM BATU BARA MULAI PANAS

JAKARTA – Saham-saham batu bara nampaknya sudah mulai memanas lagi. Dengan mulai merangkak naiknya harga minyak, membuat komoditas batu bara mulai menguat. Saham-saham batu bara macam PTBA, ITMG, ADRO dan BUMI diprediksi akan unjuk gigi tahun ini. Harga minyak dunia sendiri, pada Rabu (28/1) berada pada level USD 42,2 naik 1,49 persen dari hari sebelumnya. Banyak kalangan yang menilai saham-saham batu bara tersebut akan memberikan sumbangan signifikan pada IHSG, seperti awal tahun lalu.

Menurut Muhammad AlFatih, analis BNI Sekuritas, dengan kenaikan harga minyak dunia ini akan membawa sentiment positif bagi industri pertambangan batu bara. “Pada gilirannya saham-saham batu bara juga akan ikut membaik” ujarnya kepada Indonesia Business Today, Rabu (28/1). Menurutnya secara teknikal tahun 2009 ini harga minyak dunia akan berada pada level resistence di harga USD 60 per barrel.

Lebih lanjut menurut Al Fatih, harga batu bara saat ini jika diamati secara teknikal pada level harga-harga terendah, selama lima tahun terakhir sudah mendekati support level USD 50 per ton. Sejak tahun 2000 harga batu bara terus mengalami tren naik. Tahun 2000 harga batu bara berada di harga USD 20 per ton, tahun 2003 di harga USD 36 per ton dan pada 2007 pada level hargaUSD 40 per ton. “Dengan harga yang mendekati support level USD 50, maka probabilitasnya akan terjadi penguatan di level harga ini” ujarnya. Ia sendiri memperkirakan selama tahun 2009 range harga batubara adalah USD 50-76 per ton.

Harga saham-saham emiten batu bara sendiri diperkirakan terimbas pada kondisi tersebut dan mengalami kenaikan. Menurut Haryajid Ramelan analis dari PT Kapita Sekurindo, harga saham batu bara saat ini sudah sangat murah. “Dulu supply batubara masih kurang sementara demand nya tinggi, namun sekarang keadaannya sudah berbalik” katanya. Ia sendiri memperkirakan pada semester II tahun ini, harga-harga komoditas sudah mulai terjadi kenaikan.

Menurutnya optimisme investor akan saham-saham batubara masih bagus. Hanya saja yang harus diperhatikan adalah kondisi pasar yang masih sepi transaksi. Namun ia menambahkan, jika investor jeli melihat situasi ini, maka investor bisa wait and see untuk kemudian melakukan akumulasi. Khusus untuk saham BUMI, Haryajid mengatakan bahwa harganya sudah cukup murah. Namun dengan masih adanya masalah yang menimpa BUMI, maka masih ada sentimen negatif terhadap saham tersebut. Ia menyarankan investor untuk buy on weakness atas saham PTBA dan ADRO. Sementara untuk BUMI ia merekomendasikan investor untuk trading buy.

Hampir sama dengan Haryajid, Al Fatih juga merekomendasikan untuk buy atas saham-saham PTBA, ITMG dan ADRO. Dari hasil analisanya, saham PTBA terus menguat sejak September tahun lalu. Harga terendahnya Rp 3.750, namun sekarang sudah di kisaran Rp 7000. Tahun 2009 ini kemungkinan harganya bisa sampai kisaran Rp 9.000. Level support nya Rp 6.000 untuk jangka menengah. Pada penutupan perdagangan kemarin (28/1) saham PTBA naik ke level Rp 7.250.

Untuk saham ITMG, terendah pada level Rp 5.900 pada Oktober tahun 2008 lalu. Tahun ini bisa ke level Rp 13.800 dengan batas support pada Rp 9.200. Pada penutupan perdagangan kemarin ITMG turun ke level Rp 9.750. Saham ADRO terendah pada Rp 460 dan kini telah mencapai Rp 690. Namun pada level Rp 700-750 ada resistence-resistence yang harus dilampaui oleh ADRO. Jika berhasil melewatinya, maka ADRO bisa menembus level Rp 860-1.000 tahun ini. Support untuk ADRO pada Rp 630. Pada penutupan perdagangan kemarin ADRO bertahan berada pada level Rp 690.

“Untuk BUMI, sampai pertengahan Januari ini masih terkena sentimen negatif akibat beberapa permasalahan yang dihadapi” jelas Al Fatih. Level terendah saham BUMI adalah Rp 350. BUMI akan resistence pada level Rp 300-570. Pada perdagangan kemarin BUMI ditutup menguat ke level Rp 510. Namun ia juga memberi catatan bahwa yang harus diperhatikan oleh investor adalah jika ternyata harga saham-saham tersebut ternyata berada di bawah level supportn ya. “Investor harus waspada jika ini terjadi” pungkasnya.


Tuesday, January 27, 2009

WIJAYA KARYA LANJUTKAN BUYBACK KE TAHAP II

JAKARTA – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) lanjutkan program buyback sahamnya. Dana yang akan digunakan buyback sendiri berasal dari sisa program buyback tahap I sebesar Rp 112,31 miliar. Direktur Utama WIKA, Bintang Prabowo mengatakan, bahwa alasan dilakukan buyback tahap II karena, dinilai aksi buyback sebelumnya berjalan efektif. Rencana ini sendiri telah mendapat persetujuan RUPSLB WIKA, Selasa (27/1).

Pada buyback I, dari 13 Oktober 2008 sampai 13 Januari 2009, WIKA telah berhasil membeli kembali 2,45 persen modal disetor atau senilai Rp 27,69 miliar. Sementara dana yang dicadangkan untuk buyback waktu itu sebesar Rp 140 miliar. Bertindak sebagai broker adalah Mandiri Sekuritas. Namun pihak WIKA belum bersedia menyampaikan level harga saham dalam untuk buyback tahap II tersebut. Menurut Direktur Keuangan WIKA, Ganda Kusuma, pihaknya akan melaporkan dulu ke Bapepam minggu depan. “Bisa jadi bulan Februari kita akan mulai buyback” ujarnya.

Selain kelanjutan buyback ke tahap II, WIKA juga akan mengalihkan sisa dana IPO nya sebesar Rp 307.159.000.000 untuk modal kerja perseroan maupun anak usahanya. “Sebanyak Rp 207,159 miliar akan digunakan untuk modal kerja induk sedang Rp 100 miliar sisanya untuk anak perusahaan” Ganda. Lebuh lanjut ia menjelaskan, bahwa dana Rp 100 miliar untuk anak perusahaan itu terbagi menjadi, Rp 50 miliar untuk Wika Realty, dan masing-masing Rp 25 miliar untuk Wika Intrade dan Wika Beton.

Tahun 2009 sendiri WIKA menganggarkan capex sebesar Rp 250 miliar, dengan Rp 70 miliar diantaranya dari kas internal. Sejumlah Rp 70 miliar akan digunakan untuk pembangunan pabrik Wika Beton dan untuk renovasi bangunan rutin tiap tahun. Sementara itu dana Rp 180 miliar akan digunakan untuk kelanjutan proyek tol Surabaya-Mojokerto (SuMo) dan tahap awal pembangunan IPP Geothermal Tampomas. Untuk PLTG ini sendiri, total investasi yang dianggarkan adalah Rp 374 miliar. “Kita harapkan mulai bulan April, karena saat ini sedang dilakukan pembongkaran oleh kontraktor lain” jalas Ganda.

Khusus untuk kelanjutan proyek tol SuMo, WIKA akan masuk dalam konsorsium dengan PT Jasa Marga Tbk untuk mengambil porsi sebanyak 75 persen saham PT Marga Nujyasumo Agung (MNA), pelaksana proyek tol SuMo. Pihak WIKA sendiri mengaku sudah setuju dengan tawaran untuk mengambil maksimal 20 persen dari jumlah tersebut. “Besok MNA akan minta persetujuan kreditur, baru setelah itu kita ajukan ke Menteri PU” terang Bintang. Sindikasi perbankan yang bertindak menjadi kreditur proyek SuMo adalah Bank BNI, BRI dan Bank Bukopin.

Tahun 2008 lalu, memang pernah terjadi konfik dalam proyek ini. Kala itu pemilik konsesi Sumo PT Marga Nujyasumo Agung, berencana menjual sebagian besar sahamnya karena mengalami kesulitan pendanaan. Proses pembebasan lahannya pun kemudian dihentikan oleh P2T (Panitia Pembebasan Tanah). PT Wijaya Karya yang juga bertindak sebagai kontraktor proyek, akhirnya menyampaikan minatnya mengakuisisi proyek ini.

Namun disaat yang sama, PT Moeladi sebagai pemegang saham utama PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) juga menawarkan sahamnya kepada JSMR. Bahkan akhirnya terjadi kesepakatan antara PT Marga Nujyasumo Agung dengan JSMR, dan kemudian dilakukan due diligent oleh JSMR. Kontan saja hal tersebut membuat PT Wijaya Karya merasa dilangkahi oleh JSMR. Namun belakangan akhirnya diputuskan adanya pembagian porsi kepemilikan saham tersebut oleh kreditur. Kepala BPJT, Nurdin Manurung, beberapa waktu lalu juga telah menyatakan bahwa, kelayakan atas konsorsium baru tersebut di dasarkan atas dua hal, yakni konsorsium baru tersebut disetujui oleh sindikasi perbankan, dan kedua konsorsium baru tersebut tidak sedang dalam masalah hukum.

Selain upaya melanjutan proyek to SuMo, tahun ini WIKA memang memiliki beberapa proyek baru serta rencana akuisisi baru. Untuk proyek tolnya, WIKA juga akan mengembangkan tol road Marga Kunciran-Cengkareng dan Rallink (Manggarai-Bandara Cengkareng). Untuk proyek power plant, WIKA berencana membangun IPP Geothermal Tampomas di Tanjung Priuk. Selain itu WIKA juga berencana untuk mengakuisi sebuah kontraktor tambang di Kalimantan Timur. “Saat ini kita masih tahap due diligent” ujar Ganda.

Proyek lain yang juga tengah dijajaki WIKA adalah pembangunan pabrik penyaringan aspal di Buton. Saat ini WIKA tengah melakukan pembicaraan dengan beberapa pihak potensial termasuk PT Sarana Karya maupun PT Timah untuk melakukan sinergi. Nilai investasi awal pembangunan pabrik ini, rencananya akan memakan biaya Rp 50 miliar. Di Buton sendiri diperkirakan memiliki cadangan aspal sebesar 50-80 juta ton. Jika pabrik ini terealisasi diperkirakan kapasitasnya sebesar 200 ribu ton per tahun. “Kita senang investasi usaha baru seperti Wika Beton dulu yang ternyata sangat bagus” kata Bintang.

Tak cukup sampai disitu, WIKA juga tengah merencanakan untuk mengembangkan proyeknya di Aljazair. WIKA mengakui telah mendapat tawaran dari Aljazair untuk membangun jembatan dengan nilai investasi Rp 300-500 miliar. Sebelumnya WIKA memang telah memulai perluasan usahanya ke Aljazair dengan pembangunan East West Motorways. Proyek ini sendiri telah memakan dana Rp 92 miliar dari dana IPO, yang termuat dalam realisasi penggunaan dana IPO per Desember 2008.

Dari IPO nya sendiri, WIKA mendapatkan dana sebesar Rp 759.587.000.000. Dalam realisasi penggunaan dan IPO per Desember 2008, juga terdapat penggunaan dana Rp 107 miliar untuk proyek PLTU Labuhan dan Indramayu, Rp 45 miliar untuk proyek gedung The Adhiwangsa. Selain itu juga ada laporan penggunaan dana proyek PLTGU Muara Karang sebesar Rp 45 miliar dan Rp 145,428 miliar untuk PLTU II Sulut. Untuk PLTU Sulut sendiri diakui WIKA penyerapan dananya belum 100 persen, karena proyeknya masih berjalan. Untuk pengembangan proyek infrastruktur WIKA telah menggunakan dana Rp 18 miliar. Dana tersebut untuk penyertaan modal disetor pada PT Marga Kunciran Cengkareng. Total realisasi penggunaan dana IPO mencapai Rp 452,428 miliar.

Dengan banyaknya proyek akan dikerjakan, tahun 2009 ini WIKA memproyeksikan memperoleh omset kontrak sebesar Rp 16 triliun. Selain itu WIKA juga memproyeksikan penjualannya mencapai Rp 7,5 triliun, dengan laba bersih 175 miliar. Tahun 2008 lalu, WIKA mendapat omset kontrak sebesar 15 triliun, dengan prognosa penjualan Rp 6,5 triliun serta prognosa laba bersih Rp 144 miliar dari target laba bersih Rp 167 miliar. Menurut Bintang, penurunan laba bersih 2008 dari target dikarenakan adanya peraturan perpajakan yang baru. “Kita sebelumnya mengacu pada pajak 30 persen dari laba atau 1,2 persen terhadap sales” ujarnya. Namun menurutnya, setelah ada peraturan baru pajak final 3 persen dari sales, maka labanya jadi tergerus 1,8 persen. Sumbangan terbesar pada penjualan WIKA sendiri adalah, dari usaha infrastruktur konstruksi sebesar Rp 4,5 triliun. Sementara itu posisi pinjaman WIKA saat ini adalah Rp 230 miliar. Pada perdagangan saham kemarin saham WIKA ditutup stagnan pada level Rp 205 per lembar.

Friday, January 23, 2009

Andalkan Nissan
PT INDOMOBIL SUKSES MAKMUR TBK BIDIK 20 PERSEN MARKET SHARE

JAKARTA – PT Indomobil Sukses Makmur Tbk (IMSI) targetkan penjualan tahun ini mencapai 80.000 unit. Menurut Direktur Utama IMSI, Gunadi Sindhuwinata, kepada Indonesia Business Today, Jumat (23/1), dari target penjualan otomotif 2009 overall sebesar 400.000 unit, IMSI akan mendapat market share sekitar 20 persen.

Lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa dari target penjualan 80.000 unit tersebut, sekitar 20.000-25.000 unit akan disumbang oleh penjualan mobil merek Nissan. “Selama ini pangsa pasar kita paling besar adalah Suzuki, Hino dan Nissan” jelasnya. Ia sendiri juga mengakui bahwa tahun 2009 ini demand industri otomotif memang akan menurun. Karena hal inilah ia juga cukup realistis bahwa penjualan IMSI tahun 2009 juga akan turun. “Tahun 2009 kemungkinan demand otomotif turun 30 persen, jadi penjualan kita mungkin tidak sebaik tahun lalu” ujarnya. Menurutnya penjualan bersih tahun lalu berada pada kisaran Rp 8 triliun lebih.

Dengan kondisi menurunnya demand inilah maka IMSI kemudian menempuh strategi pengembangan pemasaran. Salah satunya adalah dengan memasarkan truk pick up khusus untuk UKM. Menurut Gunadi, pasar UKM memang telah terbukti mampu bertahan ketika krisis keuangan global terjadi. Melalui anak usahanya yakni PT Indobuana Autoraya, IMSI akan menggarap pasar otomotif untuk UKM. Rencananya produk yang akan dijadikan andalan adalah truk pick up merek Foton.

Truk Foton ini sendiri adalah produk asal China yang tergolong truk ringan. Pemasarannya sendiri akan menggunakan jaringan Indomobil Group yang tersebar luas di Indonesia terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. “Kita akan berupaya meningkatkan penjualan dari mana saja” jelas Gunadi. Menurut Gunadi pihaknya terus mengembangkan strategi penjualan yang telah berjalan selama ini. Karena menurutnya, selama ini pemasaran di sektor UKM membutuhkan mobilisasi dan network yang bagus.

Selain penggarapan Foton untuk pasar UKM, IMSI sebelumnya juga telah menggarap pasar untuk sektor pertanian. Melalui anak usahanya PT Indo Traktor Utama, IMSI menjadi distributor tunggal peralatan pertanian dari YTO Group, perusahaan asal China. Peralatan pertanian tersebut antara lain wheeled tractor, crawler tractor dan mesin panen. YTO sendiri memang memfokuskan pemasarannya di kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia, Malaysia dan Thailand. Menurut Gunadi, sejak berjalan tahun lalu, pemasaran peralatan pertanian ini memberikan hasil yang baik.

Tahun 2009 sendiri, IMSI selain fokus pada penggarapan pasar segmented tersebut, juga akan fokus pada penyediaan financing service. Sejauh ini IMSI memiliki dua anak usaha yang bergerak di bidang penyedia jasa keuangan yakni PT Indomobil Finance Indonesia dan PT Swadharma Indotama Finance. Menurut Gunadi, dengan kondisi likuiditas yang seperti sekarang ini, menurutnya masih cukup berat untuk mengembangkan jasa financing. Namun meskipun diperkirakan daya beli menurun, ia cukup optimis kebutuhan justru lebih besar. “Yang kami harapkan adalah dana yang banyak, suku bunga yang kompetitif, dan inflasi yang rendah” ungkapnya. Ia sendiri melihat kondisi sekarang ini sudah mulai kondusif dengan pemangkasan BI rate oleh BI beberapa waktu lalu. “Sebelumnya kan sempat di 17 persen, dilihat sekarang sudah setengahnya. Untuk Indofinance biasanya kita bermain di Rp 1,5 triliun” jelasnya.

Tahun 2009 IMSI juga menargetkan laba bersih sekitar Rp 50-60 miliar. Menurut Gunadi jumlah tersebut hampir sama dengan tahun lalu. Namun ia mengakui bahwa laporan keuangan 2008 masih dalam tahap penyelesaian. Ia juga belum bisa menyampaikan berapa besarnya capex 2009. Namun ia mengatakan bahwa pihaknya memang telah menjajaki untuk mendapatkan pembiayaan dari berbagai pihak. Sedang untuk alokasi dana capex, ia menyatakan masih melihat dulu perkembangan ekonomi. “Yang jelas selain untuk pengembangan kerjasama yang sudah ada, kita juga ada rencana membangun showroom baru” paparnya.

Dandi Fajar Musratmo/PT Eficorp Sekuritas
Industri otomotif tahun 2009 mungkin akan mengalami penurunan. Karena suku bunga kredit masih tinggi dan harga onderdil juga naik. Akibatnya permintaan juga menurun. Namun semua bisa saja berubah seperti penjualan 2008 yang ternyata melebihi target Gaikindo. Jika realisasi tahun ini minimal sama dengan target Gaikindo, maka akan memberikan pengaruh positif bagi industri otomotif. Walaupun sebenarnya dengan kenaikan penjualan tidak serta merta akan menaikkan saham. Namun tahun 2009 ini kemungkinan harga saham otomotif akan mengalami kenaikan semua. Untuk saat ini semua saham emiten otomotif rekomendasi buy on weakness. Investor masih harus melihat perkembangan pasar.

Thursday, January 22, 2009

Berniat Ekspansi
PT KATARINA UTAMA TBK SEGERA MELANTAI

JAKARTA – Meski kondisi pasar modal saat ini masih belum membaik, namun hal tersebut tak menyurutkan perusahaan-perusahaan baru untuk listing di bursa. Setelah 15 Januari lalu Alfamart listing di BEI, kini giliran PT Katarina Utama Tbk yang berencana melakukan IPO. Target IPO nya sendiri pada semester I tahun ini.

Rencananya, yang bertindak sebagai penjamin emisi IPO adalah PT Optima Kharya Capital Securities. Mukti Wibowo Kamihadi, VP Investment Banking Optima Securities, mengungkapkan bahwa jumlah saham yang akan dilepas ke publik sebesar 40 persen. Jumlah tersebut setara dengan 400 juta lembar saham PT Katarina Utama Tbk. Namun ia belum bisa menyampaikan berapa target dana yang akan didapat dari IPO tersebut, termasuk juga fokus target investor apakah dari institusi atau ritel. “Kita belum sampai tahap pemasaran, semua tergantung book building. Kita akan sampaikan semua dalam public expose Maret mendatang” ujarnya.

Ia sendiri cukup optimis dengan IPO tersebut. Menurutnya saham PT Katarina Utama Tbk akan menjadi pilihan investasi yang menarik karena prospek usahanya yang cerah. “Katarina cukup bagus perkembangan usahanya, tentu sahamnya akan memberikan dividend yield yang bagus” jelasnya. PT Katarina Utama Tbk sendiri bertindak sebagai engineering service provider perusahaan telekomunikasi. Lingkup usahanya adalah pemasangan instalasi BTS pada tower komunikasi.

Senada dengan Bowo, Presiden Direktur PT Katarina Utama Tbk, Fazli Zainal Abidin, pihaknya memang sudah mantap untuk listing di bursa. “Kami optimis untuk maju dan profitable melalui ekspansi” ujarnya. Untuk mendanai ekspansinya tersebut, Fazli mengakui PT Katarina Utama Tbk lebih memilih mencari sumber pendanaan dari pasar modal. Menurutnya pendanaan melalui pasar modal lebih efisien karena cost of fund nya lebih rendah. “Kami lebih senang mendapat fresh money, karena bunga kredit saat ini cukup besar sekitar 15 persen, margin nya jadi sedikit” paparnya. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya sejauh ini sama sekali tidak memiliki hutang dengan bank manapun.

Lebih lanjut Fazli mengatakan bahwa perusahaannya memiliki prospek yang bagus karena tiap tahunnya hampir 30.000 tower baru dibangun di Indonesia. Tahun 2008 lalu, Katarina telah menyelesaikan instalasi pada 2.000 tower. Sedang untuk tahun ini, Katarina menargetkan akan mendapat proyek instalasi BTS tower antara 3.000 sampai 4.000 instalasi.

Mohd Sopiyan Mohd Rasli, CFO PT Katarina Utama Tbk mengatakan bahwa untuk setiap satu tower, dibutuhkan biaya kurang lebih USD 100.000. “Dari biaya tersebut revenue yang kita dapat antara 30-40 persen” jelasnya. Menurut Sopiyan, rencananya dana yang didapat dari IPO tersebut seluruhnya akan digunakan untuk ekspansi usaha, antara lain penambahan 80 engineering team, pembelian peralatan baru, kendaraan, dan pembukaan cabang baru. Sejauh ini PT Katarina Utama Tbk memiliki 40 engineering team dan memiliki project office di Medan dan Palembang. Sejumlah operator selular besar nasional juga telah menggunakan jasa PT Katarina Utama Tbk, antara lain Telkomsel, Indosat, XL, NTS dan BTEL. Fazli memperkirakan untuk 3 tahun ke depan akan ada pembangunan 10.000 BTS dengan dana pembelian BTS sebesar USD 12 miliar. “Sekitar USD 4 miliar diantaranya akan dialokasikan untuk pelayanan jasa engineering” terangnya. Ia juga optimis karena sebagian besar BTS tersebut akan di install di Sumatera yang menjadi daerah operasi PT Katarina Utama Tbk saat ini.

Fazli sendiri mengakui belum bisa menyampaikan kinerja dan target keuangan tahun 2008 dan 2009. Menurutnya laporan keuangan 2008 baru selesai bulan Februari. Namun secara terpisah Sopyan meyakinkan bahwa tren revenue nya positif. Ia sendiri berharap bulan April ini bisa segera listing dan mendapat dana pada kisaran Rp 500 miliar. “Tidak sampai satu triliun tapi saya harap bisa lebih dari Rp 500 miliar” ujarnya. Ia juga meyakinakan bahwa PT Katarina Utama saat ini berada dalam jajaran 5 besar perusahaan engineering service provider.

Analis: Lanang Trihardian/PT Syailendra Capital
Kondisi saat ini masih kurang bagus, trading di bursa masih dipengaruhi oleh volatilitas dan likuiditas. IPO yang dilakukan masih memiliki potensi, walaupun tak ada jaminan akan terserap dengan baik. Yang harus diperhatikan adalah posisi perusahaan terkait dan harga saham yang ditawarkan. Keputusan untuk IPO tepat untuk jangka panjang perusahaan. Karena dengan cost of fund yang rendah tentu akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Sektor engineering service provider tentu terkait erat dengan perkembangan industri telekomunikasi, namun tidak serta merta bisa disamakan. Untuk sektor telekomunikasi sendiri, ke depan pasarnya masih cukup bagus, walaupun growth nya tidak akan sebesar 2 tahun belakangan. Industri telekomunikasi penetrasinya masih sekitar 50 persen, jadi perkembangannya masih cukup bagus. Tren investasi tahun 2009 dengan kondisi pasar yang tidak menentu, investor harus melihat fundamental dengan investasi jangka panjang.

Wednesday, January 21, 2009

APEXINDO CARI PENYEWA RIG

JAKARTA – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) sedang cari penyewa rig 2 dan rig 15 miliknya. Corporate Secretary APEX, Ade R Satari, mengatakan pihaknya memang sedang menjajaki kemungkinan adanya penyewa potensial. Namun ia masih menolak untuk mengatakan siapa saja yang sedang dijajaki. “Sekarang ini masih terlalu dini, kita baru dalam tahap mempelajari dulu” ujarnya. Namun ia mengatakan proses penyewaannya tetap akan menggunakan tender offer.

Rig 2 dan rig 15 milik APEX memang tergolong rig kecil. Keduanya masing-masing memiliki daya 1.500 HP untuk rig 2 dan 750 HP untuk rig 15. “Rig kecil memang agak susah mencari penyewanya” jelas Ade. Biaya sewa untuk kedua rig tersebut berkisar antara belasan hingga puluhan ribu Dollar per harinya. Kedua rig tersebut digunakan dalam kegiatan eksplorasi penambangan di darat.

Ditanya proyeksi ke depan APEX, Ade mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan perhitungan. Namun ia yakin tahun 2009 ini akan mendapatkan revenue yang lebih besar. “Kontrak kita kan kebanyakan jangka panjang, jika dilihat dari backlog kita, sisanya masih lebih besar dari pendapatan 2007” ujarnya. Backlog APEX tahun 2009 ini diperkirakan mencapai USD 279 juta. Selain itu Ade juga mengatakan bahwa pihaknya belum berencana menambah FPSO lagi.