Monday, January 19, 2009

Beli Dua Rig
PT RATU PRABU ENERGI TERBITKAN OBLIGASI RP 500 MILIAR

JAKARTA – Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) berencana menerbitkan obligasi lokal senilai Rp 500 miliar. Obligasi tersebut akan diterbitkan melalui anak perusahaannya PT Lekom Maras yang bergerak di bidang eksplorasi penambangan minyak dan gas bumi. Rencana tersebut telah mendapatkan persetujuan dari RUPSLB ARTI kemarin, Senin (19/1).

Menurut Direktur Keuangan ARTI, Gemilang Zaharin, dana dari hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk membeli dua unit rig baru. Masing-masing adalah drilling rig berdaya 1.100 HP dan 1 workover rig. Sebesar 70 persen dana hasil obligasi digunakan untuk pembiayaan drilling rig, dan sisanya untuk workover rig. “Emisi obligasi kita harapkan di bulan Maret ini” jelas Gemilang. Berlaku sebagai penjamin emisi obligasi tersebut adalah konsorsium tiga sekuritas yang terdiri dari Jakarta Sekuritas, CIMB Securities dan HSBC Securities. Lebih lanjut Gemilang mengatakan bahwa kupon untuk obligasi tersebut berada pada kisaran 16 persen. “Yang jelas kupon kita akan lebih tinggi satu persen dari punya PLN” paparnya.

Dalam RUPSLB kemarin, ARTI juga mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk menjaminkan saham ARTI di anak usahanya PT Lekom Maras kepada kreditur obligasi. Kepemilikan ARTI atas PT Lekom Maras sendiri per September 2008, telah mencapai 99,99 persen dengan jumlah aktiva PT Lekom Maras saat itu sebesar Rp 1.566.221.817.312. Sedangkan ARTI sendiri sejauh ini, 78,36 persen sahamnya dikuasai oleh PT Ratu Prabu.

Agenda lain yang juga menjadi keputusan dalam RUPSLB tersebut adalah pembatalan debt to asset swap yang akan diganti dengan pembayaran tunai. Sebelumnya pada RUPSLB 30 Juni tahun lalu, memang sempat disepakati penyelesaian hutang PT Lekom Maras dilakukan melalui mekanisme debt to asset swap. Namun keputusan tersebut dibatalkan dalam RUPSLBnya kemarin. Nilai pembayaran tunai atas hutang tersebut adalah sebesar Rp 25 miliar.

Rencana IPO
Akhir tahun ini ARTI juga berencana untuk melakukan IPO atas anak usahanya PT Ratu Prabu Property. Menurut Gemilang, kemungkinan yang akan menjadi underwriter IPO tersebut adalah Mandiri Sekuritas. Namun ia sendiri belum bersedia memberikan keterangan berapa besar IPO yang ditargetkan.

Selama ini ARTI selain bergerak di bidang usaha oil and gas service, juga menggarap usaha properti. Untuk mengembangkan usaha propertinya tersebut, tahun ini ARTI juga akan meneruskan pembangunan Ratu Prabu 3 yang bernilai USD 90 juta. Rencananya sebagian dana pembangunannya, akan diambilkan dari IPO PT Ratu Prabu Property jika jadi terlaksana. Sedang untuk sisa kebutuhan dananya, akan diambilkan melalui pinjaman perbankan. Menurut Gemilang, ARTI memang sempat memperoleh komitmen dari Bank Mandiri untuk Ratu Prabu 3 ini. Namun belakangan Bank Mandiri mengirimkan surat kepada ARTI untuk menunda proyeknya tersebut. “Kita akan berusaha mencari pendanaan dari Bank lain” katanya.
ARTI sendiri melalui usaha propertinya memang sempat mengagendakan pembangunan beberapa proyek. Tapi karena adanya krisis keuangan global beberapa proyeknya terpaksa ditunda. Proyek Ratu Prabu 3 sendiri merupakan bagian dari proyek properti jangka panjang ARTI, senilai USD 300 juta. Proyek lainnya adalah Ratu Prabu 4, Ratu Prabu 5, dan Ratu Prabu 6. Namun akhirnya proyek-proyek tersebut akhirnya ditunda pembangunannya. Untuk Ratu Prabu 3, sejauh ini baru dilakukan tahap penggalian tanah. Ratu Prabu 3 adalah proyek residence untuk kelas atas yang terdiri dari 300 unit dimana 100 unit diantaranya akan digunakan sebagai hotel.

Selain mengupayakan pengembangan usaha propertinya, ARTI juga akan fokus dalam pegembangan usaha bidang energinya. Menurut Direktur Utama ARTI, Burhanuddin Bur Maras, saat ini pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Chevron untuk menjadi penyedia layanan energy drilling di Filipina. “Bahkan mereka telah minta itu dilakukan secepatnya” aku Burhanuddin. Ia menambahkan bahwa tagihan yang diperoleh ARTI untuk energy drilling service tersebut, mencapai USD 2 juta sampai USD 3 juta per tahun. Burhanuddin juga menyampaikan bahwa PT Lekom Maras, anak usaha ARTI juga telah menjalin kerjasama dengan PT Indo Asia Resources, untuk bertindak sebagai kontraktor dalam penambangan batu bara di Kalimantan. “Realisasinya diharapkan tahun ini” ucapnya.

Tak cukup sampai disitu, ARTI juga berencana meningkatkan kapasitas produksi gas di PT Bangadua Petrolium, perusahaan minyak dan gas di Cirebon yang baru diakuisi tahun lalu. Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi tersebut, diperkirakan PT Bangadua Petrolium akan menghasilkan gas sebesar 10 juta MMcfd per hari. “Sebelumnya Bangadua hanya menghasilkan 2 juta MMcfd tiap hari” jelas Gemilang. Pengeborannya sendiri akan mulai dilakukan 15 Februari mendatang.

Dengan adanya rencana penerbitan obligasi dan IPO tersebut, ARTI mengalokasikan capital expenditure tahun 2009 sebesar USD 90 juta dan Rp 500 miliar. Namun ARTI justru memperkirakan growth-nya tahun ini akan turun sekitar 5 persen sampai 10 persen. Gemilang mengatakan bahwa untuk penjualan tahun 2008 per September adalah sebesar Rp 500 miliar. “Data akhir 2008 belum selesai, tapi kemungkinan hampir sama dengan tahun 2007 lalu” ujarnya. Posisi utang ARTI saat ini adalah USD 45 juta. Utangnya sendiri adalah kepada Bank Mandiri, Bank Niaga dan Bank Syariah Mandiri. “Jatuh temponya masih lima tahun lagi” terang Gemilang.

Analis : Deni Hamzah/Pengamat Pasar Modal
Penyerapan atas penerbitan obligasi tersebut, akan sangat tergantung pada rating kreditnya. Juga akan dipengaruhi oleh perusahaan pemberi ratingya sendiri. Dengan range kupon yang tinggi, justru kemungkinan akan mendapatkan rating yang rendah dari lembaga pemeringkat rating. Industri property memang akan mengalami penurunan demand. Namun dengan diturunakannya BI Rate oleh BI bisa jadi akan memberi sinyal positif bagi sector ini. Untuk pertambangan, khususnya batu bara, ke depan prospeknya masih cukup bagus. Namun meskipun begitu, khusus untuk saham ARTI, investor sebaiknya switching ke saham lain saja.

Sunday, January 18, 2009

SEMEN GRESIK EKSPANSI KE LUAR NEGERI

JAKARTA – Adanya penurunan permintaan semen lokal, membuat PT Semen Gresik Tbk berencana akuisisi perusahaan asing. Selain itu SMGR juga merencanakan ekspansi usaha ke luar negeri selama tiga tahun ke depan.

Menurut Dirut SMGR, Dwi Soetjipto, kebijakan tersebut ditempuh guna mengurangi risiko penurunan revenue dan risiko penurunan produksi. Dari data tahun 2008, tercatat SMGR mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 11,4 triliun. Jumlah tersebut meningkat drastis dari pendapatan tahun 2007 yang hanya sebesar Rp 9,6 triliun. Dengan kenaikan pendapatan 18,75 persen ini, praktis membuat target pendapatan SMGR tahun 2008 yakni Rp 11 triliun, terlampaui.

SMGR juga tengah berupaya untuk menaikkan porsi penjualan ekspor mereka. Selama ini hampir 95 persen penjualan SMGR dilakukan di pasar lokal. Rencananya SMGR akan menaikkan kenaikan penjualan ekspor hingga 10 persen dari total kapasitas produksinya. Tahun lalu kapasitas produksi SMGR hanya mencapai 17,7 juta ton dari kapasitas 18 juta ton yang dimilikinya. Untuk tahun 2009 sendiri SMGR menargetkan peningkatan kapasitas produksinya hingga mencapai 18,2 juta ton.

SMGR juga merencanakan untuk membangun pabrik baru dan memperluas unit produksinya di tahun 2014. Untuk itu SMGR akan menganggarkan dana sebesar USD 1,25 miliar. Untuk pendanaannya sendiri SMGR berencana meminjam dana USD 700 juta dan sisanya diambil dari kas internalnya.

Sejauh ini SMGR memiliki tiga pabrik yang terletak di Gresik Jawa Timur, Indarung Sumatera Barat dan Pangkep Sulawesi Selatan. Dari ketiga pabriknya tersebut SMGR memiliki kapasitas produksi mencapai 18 juta ton per tahun. SMGR kini juga tengah melakukan pembangunan pabrik baru di Pati Jawa Tengah. Namun pembangunan pabrik baru ini, diakui Dwi baru bisa dikerjakan pertengahan tahun ini. Sebelumnya dijadwalkan pabrik tersebut mulai dikerjakan semester I 2008.

Lebih lanjut Dwi mengatakan bahwa tertundanya pembangunan pabrik dikarenakan terhambatnya pengerjaan detai desain. Prosesnya pengerjaan desainnya diperkirakan memakan waktu 4-5 bulan ke depan. Adanya kenaikan harga baja juga membuat anggaran dana pembangunan pabrik tersebut naik. Namun kenaikannya hanya 1 persen saja. Sebelumnya ditargetkan anggaran dana untuk proyek ini adalah USD 1,63 juta.

Belum cukup sampai disitu, SMGR kini juga tengah mempelajari kemungkinan pembangunan pabrik baru di Sumatera. Diperkirakan jika pebrik tersebut jadi dibangun maka akan menambah kapasitas produksi SMGR sebanyak 2,5 ton per tahun. Sementara itu dengan adanya investasi peralatan barunya, SMGR juga memperkirakan akan mendapat tambahan kapasitas produksi sebesar 1 juta ton.

SMGR tergabung dengan PT Indocement Tunggal Perkasa dan PT Holcim Indonesia, merupakan salah satu produsen semen terbesar di tanah air. Pangsa pasarnya menjadi yang terbesar di Indonesia dengan 44 persen diikuti oleh PT Indocement Tunggal Perkasa dan PT Holcim Indonesia masing-masing 32 persen dan 14 persen. Ketiga produsen semen tersebut tahun lalu total berhasil menjual 43,02 juta ton semen baik di pasar lokal maupun luar negeri. Jumlah tersebut merupakan 91 persen dari total kapasitas produksi semen nasional yang mencapai 47,2 juta ton per tahun.

Analis
Andrew Siahaan/Reliance
Sektor riil memang masih bisa tumbuh tapi dengan range terbatas. Yang perlu diperhatikan dari rencana akuisisi dan investasi SMGR adalah masalah pendanaan. Saat ini mencari pendanaan cukup sulit karena likuiditas masih bermasalah. Namun dengan berbagai rencana pengembangan dan akuisisi tersebut jika memang benar terealisasi akan sangat bagus untuk perusahaan dalam jangka panjang. Kemungkinan di tahun 2010 hasilnya sudah akan terasa, dan GDP mungkin bisa mencapai 6-7 persen. Untuk industri semen sendiri kemungkinan juga akan mengalami penurunan demand tahun ini. Menurunnya sector properti akan berpengaruh pada penjualannya. Stimulus sektor infrastruktur Rp 50an triliun yang digelontorkan pemerintah, masih harus di amati realisasinya.. Ditambah lagi faktor musim yang sedang dalam masa penghujan, sedikit banyak akan berpengaruh pada permintaan semen. Namun dengan adanya penurunan harga BBM akan membuat cost transport produksi semen akan terpangkas signifikan. Diperkirakan industri semen masih akan tumbuh sebesar 4-5 persen. Apalagi SMGR pangsa pasarnya yang terbesar di Indonesia dengan 44 persen. Saham-saham emiten semen selama ini masih kurang menarik, masih kalah dengan saham komoditas dan infrastruktur. Dengan kondisi pasar seperti ini sebaiknya investor buy to sell.


Budi Ruseno/Bhakti Securities
Sebagai penunjang proyek infrastruktur ke depan kebutuhan semen menjadi akan mengalami kenaikan. SMGR dengan kapasitas produksi yang hampir mencapai 100 persen tentu akan sulit berkembang jika tidak melakukan akuisisi. Apalagi kebutuhan akan semen di Indonesia sendiri terus mengalami peningkatan. Dengan banyaknya rencana ekspansi dan pengembangan usaha, yang harus diperhatikan adalah penggunaan dana internal untuk semua rencana tersebut. SMGR selam ini cukup kuat dalam pendanaan, dengan kas internal yang cukup besar. Dengan rencana-rencana pengembangan tersebut tentu akan berdampak bagus pada kinerja perseroan. Dengan pangsa pasar mencapai 44 persen, SMGR masih cukup potensial untuk berkembang. Secara tidak langsung hal tersebut pada akhirnya juga akan berpenaruh pada kinerja sahamnya di lantai bursa.

Friday, January 16, 2009

INCO GIAT EKSPLORASI

JAKARTA – PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) masih teruskan kegiatan eksplorasinya meski harga nikel tengah mengalami penurunan. Dari informasinya ke BEI, Indra Ginting, Direktur Hubungan Investor INCO menyatakan, INCO masih akan melanjutkan eksplorasi yang difokuskan di daerah-daerah kontrak karya.

Daerah-daerah eksplorasi INCO dalam kontrak karyanya meliputi Bahodopi, Pomalaa, Kolonodale, Latao dan Soroako, yang semuanya berada di Sulawesi. Untuk biaya eksplorasi INCO telah menganggarkan dana sekitar USD 587.000. Direktur Media Komunikasi dan Perijinan INCO, Jannus Siahaan mengatakan, bahwa tujuan eksplorasi tersebut adalah untuk memastikan jumlah cadangan nikel yang terbukti dari yang terduga. “Sejauh ini hasil pengujiannya masih dalam tahap penghitungan” ujarnya.

INCO juga masih akan meneruskan pembangunan pabrik barunya di Pomalaa dan Bahodopi. Di Pomalaa rencananya INCO akan membangun fasilitas pengolahan pelindian dengan teknologi tinggi (high pressure acid leach) untuk menghasilkan nikel hidroksida. Kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 30.000 metrik ton per tahun. Sementara di Bahodopi, INCO akan membangun pabrik pemurnian nikel hidroksida yang kapasitasnya juga mencapai 30.000 metrik ton per tahun. “Sampai saat ini pengembangan di Bahodopi maupun Pomalaa telah melewati tahapan pemaparan AMDAL kepada publik” jelas Jannus. Untuk izin fasilitas pengolahannya sendiri, ia mengakui masih terus dibicarakan intensif dengan kementrian ESDM.

Sektor pertambangan sendiri nampaknya masih akan mengalami tekanan tahun ini. Khususnya untuk nikel, penurunan harga yang terjadi sejak tahun lalu sepertinya masih akan berlanjut di tahun ini. Apalagi banyak pengamat yang menyatakan bahwa banyak sektor akan mengalami oversupply. Bulan Desember tahun lalu cadangan nikel di London Metal Exchange telah mencapai 68.640 ton. Jumlah tersebut meningkat hampir empat kali lipat dari cadangan selama tahun 2007 yang rata-rata mencapai 17.838 ton.

Harga nikel memang sempat mengalami rebound akhir tahun lalu, namun nampaknya masih ada kecenderungan untuk turun lagi. Sebagai gambaran saja, harga nikel mencapai peak di bulan Mei 2007, kala itu tiap ton nikel dihargai USD 51.600. Namun belakangan di beberapa bulan terakhir, harga nikel turun hingga mencapai rata-rata USD 10.841 per ton.

Menurut International Nickel Study Group, tahun 2009 ini total produksi nikel dunia akan mencapai 1,55 juta ton. Sementara itu, permintaan nikel dunia diperkirakan lebih kecil dari total produksinya. Diperkirakan permintaan konsumsi nikel tahun ini hanya berada di bawah 1,44 juta ton.

Menurut Andrian Rusmana, analis Kresna Securities, harga komoditas termasuk nikel, tahun ini masih akan turun. Hal tersebut tentu akan memberikan dampak negatif bagi usaha INCO. Tahun 2008 lalu, harga saham INCO memang sempat naik, namun dengan kondisi seperti sekarang ini, harga saham INCO ke depan masih akan mengalami pelemahan. Ia sendiri tidak merekomendasikan saham ini untuk dikoleksi oleh investor. “Investor sebaiknya menunggu saat yang tepat” ucapnya.

Dari data tahun lalu memang menunjukkan penurunan ASP INCO dari USD 26.500/Mton di Q3 tahun 2007, menjadi USD 15.888/Mton pada Q3 tahun 2008. Hal tersebut mengakibatkan net sales INCO Q3 tahun 2008 turun menjadi USD 313 juta, sebelumnya pada Q3 2007 net sales INCO mencapai USD 562 juta. Dengan adanya penurunan ASP yang disertai penurunan permintaan nikel tentu saja akan berakumulasi pada penurunan penjualannya. Bahkan ketika terjadi kenaikan harga minyak yang cukup drastis tahun lalu, INCO sempat mematikan generator diselnya yang berdaya 88 MW untuk penghematan biaya.

Namun yang cukup memberi angin segar bagi INCO adalah kasnya yang cukup kuat untuk mendanai berbagai proyeknya. Menurut Jannus, selama ini kegiatan usaha INCO selalu didanai dari kas internalnya. Ia juga menolak adanya tudingan INCO belum pernah membayarkan kewajiban konsesinya. “Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab, kami selalu memenuhi kewajiban kami” ujarnya.

INCO sendiri adalah produsen nikel yang memiliki daerah eksplorasi di Sorowako, Sulawesi. Sampai saat ini INCO masih memiliki kontrak karya hingga tahun 2025. Saham INCO mayoritas dikuasai oleh Vale Inco Ltd, perusahaan asal Canada dengan 60,8 persen. Vale Inco Ltd sendiri juga sempat menghentikan sementara kegiatan penambangan Copper Cliff South yang terletak di Ontario, Canada. Penghentian tambang berkapasitas 8.000 metrik ton tersebut dikarenakan adanya penurunan harga nikel di pasar dunia. Vale Inco Ltd juga menunda proyek Copper Cliff Deep nya selama setahun. Investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai USD 814 juta.

Thursday, January 15, 2009

ALFAMART LISTING PERDANA

JAKARTA – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk resmi mencatatkan sahamnya di BEI kemarin. Kamis (15/1), dengan kode saham AMRT. Total dana yang berhasil dihimpun dari penawaran umum mencapai Rp 135.554.915.000. Dengan jumlah saham yang beredar sebanyak 1.381.367.495.880 lembar.

Rencananya dari dana tersebut sebanyak 50 persen akan digunakan untuk pembangunan distribution centre baru di Solo, Balaraja, Palembang dan Bali. Sisa 50 persen dananya akan dialokasikan untuk pengembangan gerainya yang telah ada. Sejauh ini AMRT sudah memiliki 11 distribution centre.

Meskipun kondisi pasar sedang buruk namun Wakil Presiden Direktur AMRT, Heryanto Komala mengatakan bahwa industri minimarket adalah industri yang sangat prospektif. Menurutnya saat ini konsumen sangat membutuhkan kehadiran minimarket. “Makanya kita tetap listing meski market jelek, karena.kita ga boleh ketinggalan momentum” jelasnya.

Lebih lanjut menambahkan, pihaknya saat ini justru terus berupaya memperluas jaringan gerainya. Tahun 2008 lalu pertumbuhan gerai AMRT mencapai 500 gerai. Jika dirata-rata maka tiap hari AMRT bisa membuka 2 gerai baru. Hingga saat ini AMRT telah memiliki gerai sebanyak 2800 buah.

Tahun 2008 revenue yang diperoleh AMRT lebih dari Rp 8 triliun. Menurut Heryanto hal tersebut adalah akibat dari perkembangan gerai yang cukup tinggi dan ada factor inflasi di dalamnya. Untuk Tahun 2009, AMRT menargetkan kenaikan revenue hingga 20 persen. Untuk laba bersihnya AMRT belum berani menargetkan karena masih melihat besaran pajak pemerintah.

Penambahan jumlah gerai tahun ini diperkirakan sebanyak 450 sampai 500 gerai. Selama ini gerai AMRT lebih banyak berada di Lampung dan Jawa. AMRT berencana membuka gerai barunya di daerah Bali dan perluasan di Sumatera. SElain penambahan gerai AMRT juga akan melakukan penambahan bidang pendukung gerai-gerai tersebut. “Bayangkan saja pasar kita baru Jawa dan Lampung, daerah lain masih cukup potensial” ungkap Heryanto.

Ditanya lebih lanjut tentang kemungkinan adanya kenaikan harga jual, Heryanto hanya bisa menyampaikan ilustrasi bahwa tahun 2008 kenaikan harga rata-rata mencapai 15 persen. “Kita belum bisa beri keterangan” tukasnya. Capital expenditure yang dialokasikan AMRT tahun ini adalah sekitar Rp 450 sampai Rp 500 miliar. Nilainya kemungkinana lebih kecil dari capex tahun lalu yang mencapai Rp 500 miliar.

SAMPOERNA AGRO MASIH PUNYA DUIT RP 54 MILIAR

JAKARTA – PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), masih punya sisa dana Rp 54,279 miliar dari hasil IPO. SGRO sendiri melakukan IPO pada Juni tahun 2007. Total bersih dana yang terkumpul kala itu adalah Rp 1.023.853.000.000.

Menurut Direktur SGRO, Sie Eddy Kurniawan dalam keterbukaan informasinya, menyampaikan bahwa SGRO telah menghabiskan 90 persen lebih dana IPO. Sebelumnya dalam rencana prospektusnya, SGRO akan menggunakan 60 persen dana IPO tersebut untuk pelunasan sebagian utang ke Credit Suisse dan 35 persen untuk ekspansi kebun dan fasilitas pendukung. Sementara itu sisa sebesar 5 persen akan dialokasikan untuk modal kerja.

Dalam realisasinya, dana sebanyak Rp 614,312 miliar telah digunakan SGRO untuk melunasi sebagian hutangnya ke credit suisse. Sementara itu dana sebesar Rp 304,069 miliar digunakan SGRO untuk ekspansi kebun dan fasilitas pendukungnya. Terakhir, AGRO juga telah menggunakan dana sebesar Rp 51,193 miliar untuk menambah modal kerjanya.

Sementara itu, untuk kebijakan buyback yang telah dilakukan SGRO sejak Oktober tahun lalu, hingga Januari ini masih tersisa dana sebesar Rp 396,349 miliar. Per 12 Januari 2009 total dana yang dikeluarkan SGRO untuk melakukan buyback sahamnya mencapai RP 78,651 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membeli kembali 75.567.500 lembar sahamnya.

Corporate Secretary SGRO, Budianto Tjuatja, mengatakan bahwa pihaknya masih memikirkan kembali kebijakan buyback yang telah dilakukan. “Sejauh ini kami belum berani menyampaikan apakah buyback akan diteruskan atau tidak” ujarnya ketika dihubungi Indonesia Business Today beberapa waktu lalu. Ia hanya menegaskan bahwa ke depan SGRO masih akan fokus pada sector perkebunannya.

Akhir tahun 2008 lalu, SGRO juga sempat menyampaikan berniat melakukan ekspansi usaha yang akan didanai dari kas internalnya. Hal itu karena sector perbankan masih mengalami tekanan akibat krisis keuangan global yang terjadi. Ketika dikonfirmasi tentang masalah tersebut, lagi-lagi Budianto enggan berkomentar. Ia hanya menegaskan bahwa kondisi SGRO masih cukup bagus.

Secara terpisah, Deo Rawendra analis dari Reliance Securities mengatakan, bahwa buyback bisa jadi berdampak negatif jika dana yang dipakai untuk untuk buyback tidak berasal dari internal perusahaan. Hal tersebut pada gilirannya tentu akan menambah beban perusahaannya sendiri.

SGRO selama ini dikenal sebagai salah satu produsen minyak sawit dan beberapa hasil tanaman lain seperti inti sawit, karet dan kecambah. Dari data Q3 tahun lalu tercatat volume penjualan minyak sawitnya mencapai 200.641 ton jika dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya sebesar 125.254 ton. Penjualan Q3 2008 inti sawit 51.873 ton dari 29.422 ton di tahun 2007, kecambah 14.513 ribu biji dari 9,746 biji di tahun 2007, serta penjualan karet 387 ton dari 401 ton.

Lebih lanjut lagi menurut Deo, kemungkinan selama enam bulan pertama tahun ini SGRO juga masih akan mengalami penurunan demand. Namun begitu, adanya momentum tahun baru Imlek Januari ini, akan membuat permintaan CPO dari China akan mengalami kenaikan yang agak signifikan. Apalagi selama ini penjualan CPO SGRO ke China juga cukup besar. Walaupun begitu, hal yang harus dicermati adalah kemampuan China dalam me-maintain demand-nya terhadap CPO, yang kemungkinan akan turun setelah perayaan usai. Rekomendasi untuk saham CPRO adalah buy to sell.

Wednesday, January 14, 2009

APEXINDO TEKEN KONTRAK SENILAI USD 2 JUTA

JAKARTA – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dapatkan kontrak pemboran darat senilai USD 2 juta. Kotrak berdurasi 3 bulan tersebut adalah bagian dari kerjasama antara APEX dengan VICO Indonesia. Penandatanganan letter to proceed nya sendiri telah dilakukan pada, Selasa (13/1) lalu.

Kontrak pemboran darat untuk Rig 8 ini sebenarnya adalah kelanjutan dari kontrak-kontrak yang dibuat oleh APEX dengan VICO Indonesia. Sebelumnya APEX juga telah mendapatkan kontrak pemboran untuk Rig 5, 9 dan 10 dari VICO. Proyek-proyek pemboran tersebut telah dimulai Juni tahun lalu dan berada di daerah Semberah, Kalimantan Timur. Semua kontrak tersebut juga masih berjalan hingga sekarang.

Menurut Suarmin, Direktur Keuangan APEX, bahwa memang selama ini salah satu yang menjadi fokus APEX adalah maintain kerjasama dengan mitra-mitra besar. “strategi kita memang fokus pada klien dengan cadangan migas besar dan produktif” katanya beberapa waktu lalu.

VICO sendiri selama ini memang dikenal sebagai salah satu perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKS) terbesar. Dari data tahun 2004, tercatat produksi VICO mencapai 870 MMSCFD gas serta 30.000 barrel minyak dan kondensat per hari. Sementara di tahun 2007, perusahaan asal Amerika Tersebut mencatatkan produksi 465 MMSCFD gas per hari. Menurut Dirut APEX, Hertriono Kartowisastro, kerjasama dengan VICO sendiri telah terjalin lebih dari 20 tahun. Ia menyatakan bahwa kerjasama jangka panjang ini, adalah bukti kepercayaan kliennya terhadap APEX.

Selain dengan VICO, APEX juga telah menjalin kerjasama dengan mitra lainnya, salah satunya adalah dengan Total E&P Indonesia.. Bahkan pada tahun 2008 lalu APEX dan Total E&P Indonesia telah merencanakan perpanjangan kontrak. Total E&P Indonesia sendiri menggunakan rig Yani yang dimiliki oleh APEX untuk melakukan penambangan minyak di daerah Tunu Kalimantan Timur. Masa kontraknya telah dimulai dari kuartal satu 2008 dan akan berakhir kuartal satu 2009.

Dari data tahun 2008, tercatat Total backlog atau kontrak yang telah dimiliki APEX, mencapai USD 594 juta. Kontraknya sendiri beragam, mulai dari jangka waktu 1-2 tahun sampai jangka waktu dibawah 1 tahun. Antara lain dengan Vico untuk rig 5 dan 8 senilai US$ 28,9 juta, dengan Chevron untuk rig 4 senilai US$ 32,6 juta, dengan Medco E&P Sembakung senilai US$ 2,7 juta, dan dengan Total E&P untuk rig Yani dan Raisis.

Adapun backlog APEX untuk 2009 diperkirakan mencapai US$ 279 juta. Dengan adanya kontrak baru dengan VICO tersebut tentu akan menambah besaran backlognya. Tahun 2009 APEX menargetkan memperoleh pendapatan di atas USD 200 juta. Selain itu, tahun ini APEX juga menganggarkan belanja modal sebesar US$ 20 juta. “Dana tersebut sudah termasuk untuk reverse rig 2 sebesar US$ 2 juta,” kata Hertriono beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk EBITDA, tahun 2009 APEX memproyeksikan besarannya mencapai US$ 140 juta dengan laba bersih US$ 60 juta.

Sejauh ini APEX telah memiliki 8 delapan unit rig darat berdaya kuda minimal 750 HP. Untuk Rig 8 sendiri, APEX menjamin kecepatan dan efisiensi kerjanya, mengingat rig tersebut memiliki daya kuda (horse power) mencapai 1.000 HP. Perusahaan yang bergerak di bidang persewaan rig itu juga meyakinkan bahwa, Rig 8 tersebut dapat membor hingga kedalaman 12.000 kaki.


Tuesday, January 13, 2009

SEMEN GRESIK BUYBACK RP 198 MILIAR

JAKARTA - PT Semen Gresik Tbk telah melakukan buyback atas sahamnya hingga Rp 198.574.280.000. Dari data realisasi buyback per 9 Januari lalu total saham yang telah dibeli kembali oleh SMGR adalah sejumlah 68.032.000 lembar. Untuk periode 2008, sejak dilakukan buyback pertama kali Oktober 2008, per 31 Desember 2008 total dikeluarkan dana sebesar Rp 193.511.810.000. Total saham yang telah dibeli kembali pada periode Oktober-Desember 2008 adalah sebanyak 66.810.500 lembar saham.

Menurut Corporate Secretary SMGR, Sunardi Prionomurti, dalam keterbukaan informasinya, untuk buyback Januari 2009 ini, data terakhir menunjukkan pengeluaran dana buyback sebesar Rp 829.133.000.000 untuk membeli sebanyak 202.000 lembar saham SMGR. Total dana yang disediakan oleh SMGR untuk melakukan buyback sendiri mencapai Rp 1 triliun.

Menurut pengamat pasar modal, Samuel Sudeswatomo Yeung, SMGR sebagai salah satu perusahaan BUMN, program buyback yang dilakukan oleh SMGR termasuk yang paling berhasil saat ini. Sejak dilakukan buyback dari Oktober tahun lalu, waktu itu harga saham SMGR sekitar level Rp 2000 per lembar, namun kini telah mencapai level sekitar Rp 4000 per lembar.

Menurutnya, danya penurunan saham SMGR kemarin dari Rp 4.025 ke level Rp 3.925 per lembar lebih banyak diakibatkan oleh sentimen pasar. Saham SMGR pada perdagangan kemarin, Selasa (13/1), memang sempat terkoreksi 0,02 persen. Kemarin SMGR diperdagangkan sebanyak 325 kali dan ditutup pada level Rp 3.925. Menurutnya saat ini kondisi pasar masih belum pulih dan masih mengalami tekanan.
Lebih lanjut Samuel menambahkan bahwa adanya program infrastruktur pemerintah, bisa jadi menguntungkan bagi SMGR mengingat label plat merahnya. Hanya saja yang perlu untuk dicermati adalah program-program infrastruktur tersebut kapan akan terealisasi. Peran pemerintah untuk masalah ini sangat besar. Ke depan pasar baik global dan regional mungkin akan mengalami perbaikan. Karena jika dilihat dari analisis teknikal, maka pasar menunjukkan kecenderungan arah positif.

Batalkan Power Plant
Pihak SMGR nampaknya memang tengah berhati-hati dalam berinvestasi. Bahkan saat ini pihak manajemen SMGR tengah mengajukan persetujuan penurunan capex untuk rencana-rencana ekspansinya. Untuk empat tahun sejak 2008, rencanaya SMGR menganggarkan capex senilai USD 1,3 miliar. Namun kemungkinan capex tersebut akan mengalami revisi. Sebelumnya SMGR berniat meningkatkan kapasitas produksinya yang diperkirakan mencapai 5 juta ton. Untuk itulah SMGR kemudian berencana membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 470MW, dengan maksud menjamin supply listrik bagi rencana pengembangan produksinya. Namun akibat dari krisis keuangan global yang terjadi, akhirnya memaksa SMGR untuk membatalkan beberapa proyek power plant nya.

Proyek power plant yang semula direncanakan 10 proyek, akhirnya dibatalkan 8 proyek. “Sekarang kita hanya akan membangun PLTU di Sulawesi” jelas Dwi Soetjipto, Dirut SMGR beberapa waktu lalu.. Namun Dwi menambahkan bahwa pembatalan ini secara resmi akan dibahas dalam RUPSLB yang akan digelar 30 Januari mendatang. Praktis kini SMGR tinggal memiliki satu proyek di Pati dan 1 proyek di Sulawesi. Pembangunan PLTU di Sulawesi Selatan berkapasitas 2 x 35 MW sendiri akan memakan biaya sebesar USD 114 juta. Proyek ini akan dimulai pengerjaannya pada Q1 tahun ini.