Monday, January 12, 2009

UNITED TRACTOR TBK MASIH PUNYA DANA RP 679,946.6 MILIAR

JAKARTA – Sisa dana PUT III United Tractor Tbk sampai dengan Desember 2008 tinggal Rp 697.946.600.000. Sebagian besar dana PUT III telah digunakan oleh UNTR untuk pelunasan hutang yang digunakan untuk mengakuisisi PT Tuah Turangga Agung, untuk pemenuhan modal kerja, dan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal PT Pama Persada Nusantara dan Perseroan.

Kebutuhan tersebut termasuk juga akuisisi perusahaan baru dan asset pertambangan. PT Pama Persada Nusantara sendiri adalah anak usaha UNTR yang bergerak dibidang kontraktor pertambangan. PT Pama Persada Nusantara kini telah menjadi salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Direktur UNTR, Gidion Hasan, dalam keterbukaan BEI, bahwa dana yang telah dikeluarkan UNTR untuk pelunasan hutang, sebagai akibat dari akuisisi PT Tuah Turangga Agung adalah sebesar Rp 1.048.797.800.000.000. Realisasi dana tersebut hanya berselisih Rp 400.000.000 dari rencana alokasi dana yang disampaikan UNTR dalam prospektusnya.

UNTR mengakuisisi 834 unit saham PT Tuah Turangga Agung pada Oktober tahun lalu. PT Tuah Turangga Agung sendiri secara tidak langsung memiliki kuasa penambangan eksploitasi batubara berjangka 30 tahun. Penambangannya berada di atas lahan seluas 5.000 hektar yang terletak di Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah. Menurut perkiraan, cadangan batubara di lahan tersebut mencapai 40 juta ton

Sementara itu untuk keperluan pemenuhan modal kerja, UNTR telah menggunakan dana sebesar RP 320,550 miliar. Padahal dalam rencana prospektusnya, pos ini terisi nominal sebesar Rp 529.426.700.000. Untuk keperluan belanja modal baik UNTR sendiri dana PT Pama Persada Nusantara selaku anak usahanya, telah terpakai dana sebesar Rp 1.462.215.000.000. Angka ini sedikit turun dari rencana dalam prospectus UNTR yang mencapai Rp 1.951.286.900.000. Dengan demikian total dana hasil PUT III yang telah digunakan oleh UNTR, mencapai Rp 2.831.562.800.000.

Sebelumnya UNTR memang melakukan PUT III pada bulan Agustus tahun 2008. Total dana yang berhasil dihimpun dari PUT III tersebut adalah sebesar Rp 3.529.511.400.000 setelah dikurangi biaya penawaran umum sebesar Rp 35 miliar.Kepemilikan saham UNTR saat ini mayoritas dipegang oleh PT Astra Internasional Tbk. PT Astra Internasional Tbk telah menguasai 1.979.391.158 lembar saham UNTR atau sebanyak 59,50 persen.

Pada perdagangan kemarin, Senin (12/1) saham UNTR ditutup pada level harga Rp 5.400 per lembar saham dengan frekuensi sebanyak 858. Nilai tersebut mengalami kenaikan 0,04 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya yakni RP 5.200 per lembar. Nilai kapitalisasi pasar UNTR saat ini mencapai Rp 11.596.411.699.200.

Sunday, January 11, 2009

WIKA HABISKAN RP 452,428 MILIAR DARI DANA IPO

JAKARTA - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sampai akhir Desember tahun lalu telah menghabiskan dana sebanyak Rp 452,428 miliar hasil IPO. Jumlah ini lebih kecil dari rencana penggunaan dana yang termuat dalam prospektusnya. Dalam prospektusnya WIKA mengalokasikan penggunaan dana sebesar Rp 698 miliar.

WIKA sendiri melakukan IPO pada 29 Oktober 2007 lalu. Dari hasil IPO tersebut WIKA berhasil menghimpun dana sebesar Rp 759,587 miliar. WIKA kemudian mengaalokasikan dana terhimpun tersebut, ke dalam beberapa bagian. Sebanyak 20 persen dana IPO tersebut akan digunakan untuk perkuatan struktur modal kerja proyeknya, yakni PLTU Labuhan, PLTU Indramayu, PLTU pacitan dan Gedung The Adhiwangsa. Porsi dana IPO 40 persen dialokasikan untuk proyek di luar negeri dan EPC, yakni proyek East West Motorway di Aljazair, PLTU II SULUT 2X25 MW dan PLTGU Muara Karang. Selebihnya sisa dana 40 persen dialokasikan untuk investasi dan pengembangan proyek infrastruktur, yakni proyek jalan tol di pulau Jawa dan proyek Independent Power Producer.

Menurut Direktur Utama WIKA, Bintang Perbowo dalam keterbukaannya, awal tahun ini WIKA telah mengucurkan dana masing-masing Rp 195,587 miliar dan Rp 90 miliar untuk kedua proyek tersebut. Selain itu WIKA juga mengeluarkan dana RP 21,573 miliar untuk proyek PLTU II SULUT 2X25 MW di awal tahun 2009 ini. Total dana yang telah dikeluarkan awal tahun ini adalah RP 307,159 miliar.

WIKA saat ini memang sedang serius menggarap sejumlah proyek pemerintah terutama proyek pembangunan pembangkit listrik. Untuk keperluan tersebut WIKA telah mendapatkan komitmen pinjaman Rp 900 miliar dari konsorsium bank yakni Mandiri, BRI, Bank Mega, PT Bank DBS Indonesia, dan Bank Danamon. Salah satu proyek pembangkit listrik WIKA adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Tampomas, Jawa Barat. Nilai kontrak proyek ini mencapai Rp 1 triliun.

Selain proyek tersebut, WIKA juga masih memiliki sembilan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). Total nilai kontraknya mencapai Rp 2,9 triliun. Jumlah tersebut mencapai 30% dari program listrik 10.000 MW yang dicanangkan pemerintah. Sembilan proyek tersebut adalah proyek PLTU Banten 2, PLTU Sulut 2, PLTU Kalsel, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTGU Muara Karang, PLTU Indramayu, PLTU Labuan Angin, PLTU Celukan Bawang, Bali, dan PLTGU Tanjung Priok. Dari kabar terakhir disebutkan bahwa WIKA juga masih mengincar beberapa proyek baru lagi. Proyek yang dikabarkan menjadi sasaran WIKA adalah pembangunan PLTGU Tanjung Priok 2x350MW, serta proyek Banjir Kanal Barat Jakarta.

WIKA sendiri saat ini juga masih terkait dalam kelanjutan pengembangan proyek tol Surabaya-Mojokerto (Sumo). Dalam proyek tersebut WIKA akan menjadi pemegang saham mayoritas bersama dengan PT Jasa Marga Tbk. Saat ini mereka masih menunggu keputusan pemerintah untuk melanjutkan proyek tersebut.

Friday, January 9, 2009

Tandatangani MoU Dengan Forkommat
PT BAKRIE TELECOM TBK INCAR SEGMEN KOMUNITAS

JAKARTA – Bakrie Telecom Tbk (BTEL) perkuat pasarnya melalui segmen komunitas. Terbukti dengan digandengnya Forkommat (Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat Tegal) sebagai salah satu partner, dengan ditandatangani MoU antara BTEL dan Forkommat, Jumat (9/1).

Menurut Rahmat Junaidi, Direktur Corporate Services BTEL, hal ini adalah upaya BTEL untuk memperkuat penetrasi pasar produk Esia nya. Bentuk kerjasama yang dilakukan adalah layanan telepon gratis bagi anggota Forkommat jika nomor Esia mereka di top up minimal Rp 25.000 per bulan. Ia mengatakan bahwa justru dengan menggarap pasar komunitas maka BTEL dapat melakukan efisiensi pemasaran.

“Komunitas kan yang kita cari adalah loyalitasnya, dan ternyata sambutannya cukup bagus” jelasnya. Senada dengan Rahmat, Ketua Forkommat, Muhammad Jumadi mengatakan bahwa sebelum MoU ditandatangani, bahkan sudah ada 1.120 orang dari 80.000 anggotanya yang melakukan aktivasi Esia. “Itu belum termasuk keluarga, jumlahnya bisa lebih besar lagi” ungkapnya.

Menurut keterangan, total pelanggan BTEL sampai tahun 2008 telah mencapai 7 juta pelanggan. “Tahun ini kita targetkan bisa mencapai 10,5 juta pelanggan” kata Rahmat. Untuk tahun 2009 ini BTEL juga masih akan fokus pada pengembangan wilayah coverage nya. Sejauh ini sudah 55 kota yang dijangkau oleh layanan BTEL. “Kita terus menjajaki potensi yang ada di setiap daerah, kerjasama ini juga sebagai langkah pengembagan konsumen” kata Noorman Iljas, Corporate Communication BTEL.

Untuk capex yang dianggarkan Rahmat menyatakan bahwa pihaknya belum berniat melakukan revisi. Rencananya BTEL akan menganggarkan capex senilai USD 600 juta sampai dengan tahun 2010. Sejumlah USD 300 juta telah didapatkan dari hasil right issue tahun lalu. Sebanyak USD 150 juta akan diambilkan dari kas internalnya, sedang sisanya USD 150 juta akan diperoleh dari vendor financing. “Vendor Financing kita adalah Huawei” jelas Rahmat.

Sementara itu secara terpisah Direktur Keuangan BTEL, Jastiro Abi, menyampaikan bahwa dana internal sebesar USD 150 juta tersebut akan diperoleh dari tender penjualan BTS BTEL. BTEL memang berencana menjual 543 BTS nya pada November tahun lalu, dengan perincian penjualan 123 menara greenfield dan 420 menara rooftop. Semuanya telah disetujui oleh RUPS BTEL. Saat ini masih dalam proses tender dengan enam perusahaan, diantaranya adalah Power Telecom dan Towers Telecom. “Kita berharap tender ini akan selesai akhir Januari ini” jelasnya. Dari penjualan menara itu diperkirakan BTEL akan memperoleh dana sebesar Rp 380,22 miliar. Ia juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya masih mengkalkulasi proyeksi pendapatan tahun 2009 termasuk dari hasil kerjasama dengan komunitas tersebut. “Hitungannya sudah dilakukan tapi masih menunggu perkembangan karena kondisi saat ini sedang sulit” ungkapnya.

Ditanya lebih jauh tentang kabar adanya rencana konsolidasi beberapa operator CDMA, Jastiro mengatakan bahwa pihaknya tak terlalu khawatir dan tetap akan fokus pada penggarapan pasar sehingga target 10,5 juta pelanggan di tahun 2009 , dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Ketika ditanya apakah ada kemungkinan perubahan susunan kepemilikan saham BTEL, Jastiro mengakui tak bisa memberikan komentar apa-apa. Menurutnya pihaknya saat ini hanyalah pelaksana operasional saja, semua terserah RUPS. Sebagaimana diketahui bahwa saat ini komposisi pemegang saham BTEL adalah PT Bakrie & Brothers Tbk sebesar 22,43 persen, PT Sinar Mas Sekuritas sebesar 6,2 persen dan Credit Suisse Singapore sebesar 8,08 persen, sementara sisanya beredar di publik. Sebelumnya memang sempat tersiar kabar bahwa PT Sinar Mas Multiartha Tbk akan membeli saham BTEL, indikasinya adalah adanya porsi saham 6,2 persen PT Sinar Mas Sekuritas di BTEL. Namun sampai sekarang kabar tersebut tak terbukti kebenarannya dan mendapat bantahan dari kedua pihak terkait.

Sejauh ini BTEL juga masih terlibat dalam tender Palapa Ring sebagai anggota konsorsium tergabung dengan PT Indosat Tbk, PT Exelcomindo Pratama Tbk, Telkom Tbk. Palapa Ring adalah proyek pemerintah senilai USD 180 juta untuk membangun infrastruktur serat optic bawah laut sebagai backbone jaringan internet internasional kawasan Indonesia Timur. Anggota konsorsium mendapat porsi sebesar USD 90 juta untuk PT Telkom Tbk, dan masing-masing sebesar USD 30 juta untuk BTEL, PT Indosat Tbk, dan PT Exelcomindo Pratama Tbk. “Dengan pagu USD 180 juta saat ini masih dalam proses tender dengan Alcatel, NSW, Taico, dan NEC” jelas Rahmat Junaidi.

Thursday, January 8, 2009

PT BERLIAN LAJU TANKER TBK TUNGGU KEDATANGAN KAPAL BARU

JAKARTA – PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) akan terus lanjutkan pembelian kapal sampai 2012. BLTA memang telah memutuskan untuk menambah armadanya sebanyak 20 buah kapal, dan sudah mendapat persetujuan dari RUPS tahun lalu. “Sampai sejauh ini sudah ada empat kapal yang dikirim, sisa 16 kapal dikirim bertahap” demikian yang disampaikan oleh Direktur Utama BLTA, Wihardja kepada Indonesia Business Today, Kamis (8/1).

Menurut Wihardja, semuanya sama sekali tidak ada masalah, karena sudah ada kontraknya dengan perusahaan galangan kapal di Jepang. Hingga kini masih tersisa kebutuhan dana sebesar USD 480 juta untuk merampungkan pembelian 16 kapal tersebut. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa rencananya tahun 2009 ini akan ada pengiriman 1 kapal di bulan Maret, 1 kapal di bulan September dan 5 kapal di bulan November.

Sementara untuk rencana di tahun ini, Wihardja mengatakan pihaknya sedang melakukan kalkulasi untuk rencana-rencana strategis yang mungkin dilakukan. “Namun sejauh ini kita masih akan fokus pada usaha perkapalan” jelasnya. Tahun 2009 ini BLTA paling tidak telah menyiapkan capex senilai USD 61,5 juta. Sejumlah USD 53,5 juta telah digunakan untuk pembelian empat kapal barunya itu.

Pada 2008 lalu sebenarnya BLTA juga telah menjual 5 unit kapalnya senilai USD 125 juta. Dana tersebut digunakan BLTA untuk pembayaran utangnya yang telah jatuh tempo kala itu. Sementara itu di tahun 2007, BLTA juga telah melakukan akuisisi atas Chembulk Tanker LLC senilai USD 850 juta.

Chembulk sendiri merupakan salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia yang beroperasi di berbagai negara dan berkedudukan di Republik Marshall Islands. Sebanyak USD 250 juta dana akuisisi tersebut diambilkan dari pinjaman bank berupa bridging loan facility dari DnB NOR Bank ASA, Fortis Bank S.A/N.V, ING Bank N.V, dan NIBC Bank Ltd.

Namun justru dengan adanya akuisisi atas Chembulk tersebut membuat peringkat obligasi BLTA diturunkan oleh Fitch Ratings dari BB- ke B+. Menurut Fitch, penurunan tersebut diakibatkan munculnya utang baru hingga USD 750 juta akibat akuisisi. Namun begitu Fitch juga memperkirakan stabilnya pasar tanker kimia, akan menyokong perkembangan BLTA.

Komposisi kepemilikan saham atas BLTA saat ini adalah sejumlah 2.447.000.000 atau sebesar 53,32 persen dikuasai oleh PT Tunggaladhi Baskara dan sebanyak 615.987.000 atau sebesar 13,42 persen dimiliki oleh Citibank Singapore S/A CBSG-CDP-Indonesia, sedang sisanya beredar di public. (gal)

Wednesday, January 7, 2009

Jatuh Tempo Desember 2009
PT HUMPUSS INTERMODA TRANSP TBK SEGERA BERESKAN HUTANG OBLIGASINYA

JAKARTA – PT Humpuss Intermoda Transp Tbk (HITS) yakinkan bahwa tak akan terjadi obligasinya gagal bayar. HITS telah menyerahkan beberapa skema pembayaran obligasinya kepada BEI. “Tanggal 31 Desember 2008 kemarin direksi sudah menyampaikan laporan ke otoritas bursa, jadi saya kira tak ada masalah” demikian yang disampaikan Sapto Basuki, Corporate Secretary HITS kepada Indonesia Business Today, Rabu (7/1).

HITS memang memiliki obligasi dan sukuk yang akan jatuh tempo pada 17 Desember tahun ini yakni, HITS I tahun 2004 seri B (HITS01B) dan HITS I Syariah Ijarah tahun 2004 (HITS01C). Obligasi dan sukuk tersebut masing-masing memiliki nilai nominal Rp 72,450 miliar dan Rp 82,800 miliar. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, tertanggal 5 Januari 2009, Agus Darjanto, Dirut HITS mengatakan bahwa HITS telah menyiapkan beberapa skema pelunasan atas pokok hutang sebesar Rp 154,450 miliar itu beserta pokok bunganya. Hingga kini telah dilakukan buyback atas obligasi tersebut sebesar Rp 900 juta.

Skema pembiayaannya antara lain melalui sinking fund yang telah disimpan HITS di Bank Permata selaku wali amanatnya. Total dana sinking fund adalah sebesar Rp 112.346.659.767. Selain itu juga akan digunakan dana penerimaan cash dividend interim dan final dari anak perusahaannya. HITS sendiri memiliki tiga anak perusahaan yakni Humpuss Sea Transport Pte. Ltd, PT Humpus Transportasi Kimia dan PT Humpus Transportasi Curah dengan kepemilikan di atas 99 persen. Sumber pembiayaan lain yang juga akan digunakan adalah dana hasil operasi kapal-kapalnya yang sudah mendapat time chartered dari pelanggan. Selebihnya akan digunakan dana internal perusahaan untuk pelunasan obligasi tersebut.

Desember 2008 lalu, obligasi HITS ini memang sempat diturunkan peringkatnya oleh lembaga pemeringkat, Moody’s Investor Service, dari BB menjadi BBB. Hal ini disebabkan karena terjadi tren penurunan profitabilitas selama 9 bulan pertama tahun 2009. Diperkirakan oleh Moody’s, bahwa penurunan tersebut dapat terus berlanjut karena adanya perbaharuan kontrak sewa kapal LNG HITS pada 2009 ini. Selain itu tekanan tarif yang terjadi di pasar juga akan memberikan dampak yang buruk bagi HITS. Untuk sekedar diketahui, bahwa Moody’s menetapkan peringkat obligasi terburuk dengan peringkat C. Sedang untuk syarat obligasi yang layak untuk investasi minimal harus berperingkat BBB.

Operator Shipping
Keadaan ekonomi yang masih buruk nampaknya juga memaksa HITS untuk melakukan efisiensi usahanya. Sapto mengakui bahwa pihaknya saat ini masih berupaya memperbaiki kondisi internal perseroan. Ia juga belum berani mengatakan akan ada ekspansi usaha baru, termasuk rencana pembelian kapal baru tahun ini. Rencana investasi pembelian kapal USD 1,2 miliar sampai 2012 akhirnya juga harus tertunda. Termasuk rencana pembelian 2 kapal tipe Panamax dari Jepang senilai USD 170 juta, yang sedianya dilakukan 2008 lalu akhirnya urung dilakukan.

Strategi bisnis baru juga ditempuh oleh HITS guna menyiasati melemahnya usaha perkapalan akibat krisis keuangan global. “Kita akan beralih dari shipping owner ke shipping operator” jelas Sapto. Dengan begitu ia memperkirakan kebutuhan modal belanja juga menjadi kecil. Ia juga mengatakan bahwa saat ini perseroan tengah mengupayakan kerjasama dengan beberapa pihak dalam strategi ini, terutama pihak asing. Dana yang akan digunakan untuk menjalankan strategi ini, menurut Sapto akan lebih banyak bersumber dari internal cash.

Dari data yang ada, memang telah terjadi penurunan arus transportasi barang ekspor dan impor akibat krisis keuangan global. Penurunan tersebut akhirnya juga membuat tarif angkutan industri pelayaran juga ikut turun. Tercatat tahun 2008 lalu tarif angkutan pelayaran turun dari USD 40.000 menjadi USD 6-7 ribu per hari. Namun begitu Sapto masih cukup optimis karena HITS juga telah memiliki mitra strategis, semisal Pertamina. “Pertamina menyumbang lebih dari 50 persen pendapatan sewa kapal” akunya.





Tuesday, January 6, 2009

Bangun Pabrik Di Pati
PT SEMEN GRESIK TBK FINALISASI AMDAL

JAKARTA – PT Semen Gresik Tbk (SMGR) jamin bahwa proyek pembangunan pabrik baru di Pati, Jawa Tengah masih akan berlanjut. Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Utama, SMGR, Dwi Soetjipto, mengatakan bahwa saat ini proyek tersebut sudah dalam finalisasi AMDAL. “Jika AMDAL bagus tentu kita akan segera lanjutkan prosesnya” jelasnya. Ia menambahkan bahwa saat ini menurut pantauan SMGR, mayoritas penduduk yang sebelumnya menentang kini sudah mulai melunak seiring dengan perkembangan survey AMDAL. Dwi yakin bahwa proyek tersebut bisa segera dilaksanakan paling tidak Q1 tahun 2009. “kita akan segera realisasikan pembebasan lahan” ungkapnya.

Memang pada 2008 lalu rencana pembangunan pabrik baru SMGR di Pati, Jawa Tengah sempat mendapat penolakan dari warga setempat.Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Jawa Tengah Tolak Semen (TOPAN) mendesak agar rencana pembangunan tersebut dibatalkan. Proses AMDAL yang dilakukan dinilai tidak transaparan. Mereka juga menyayangkan keputusan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang menyetujui pembangunan pabrik tersebut. Bahkan mereka telah mengadu ke Kementrian Lingkungan Hidup, Kementrian ESDM, dan ke Komnas HAM.

Menurut rencana, pabrik baru SMGR ini akan dibangun di atas lahan seluas 1.560 hektar di Gunung Kandeng. Ada lima desa yang akan tergusur yakni desa Kedungmulyo, Sukolilo, Gadeduro, Sumbersuko dan Baleadi. Hal yang dipermasalahkan warga adalah akibat dari pembangunan pabrik tersebut yang akan merusak lingkungan sekitar. Di lokasi tersebut banyak tersimpan potensi sumber daya alam bagi warga setempat, seperti air bersih dan lahan pertanian. Namun hal ini disanggah oleh Dwi. Ia mengatakan bahwa SMGR termasuk perusahaan yang sangat peduli dengan lingkungan. “Bahkan kita dapat Investment Award tahun lalu kan” ujarnya. Untuk sekedar diketahui, Investment Award adalah penghargaan yang digagas oleh BKPM, untuk memperbaiki etika perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Jika pembangunan pabrik baru tersebut sesuai dengan rencana, maka SMGR menargetkan akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 2,5 juta ton. Selama empat tahun ke depan SMGR akan menganggarkan dana sebesar USD 1,3 miliar untuk capex. Dwi mengatakan bahwa pihaknya belum akan mereview besaran tersebut terkait krisis ekonomi yang terjadi. “Jumlahnya masih akan sekitar segitu” ungkapnya.

SMGR sendiri memang sempat membatalkan beberapa proyeknya. Antara lain proyek power plant yang semula direncanakan 10 proyek, akhirnya ditunda 8 proyek. “Sekarang kita hanya akan membangun PLTU di Sulawesi” jelas Dwi. Namun Dwi mwnambahkan bahwa pembatalan ini secara resmi akan dibahas dalam RUPSLB yang akan digelar 30 Januari mendatang. Pembangunan PLTU berkapasitas 2 x 35 MW ini akan memakan biaya sebesar USD 114 juta. Proyek ini akan dimulai pengerjaannya pada Q1 tahun ini.

Stimulus Infrastruktur
Paket stimulus senilai Rp 72 triliun untuk sector infrastruktur yang dijanjikan pemerintah nampaknya tidak terlalu berarti bagi industri semen. Hal ini disebabkan karena tahun ini diperkirakan akan terjadi penurunan pada sektor properti.

Sektor property sendiri merupakan pasar terbesar dari industri semen. Dari prediksi beberapa lembaga terkait seperti REI dan Asosiasi Pengamat Properti, menyatakan bahwa, tahun ini sektor properti akan turun kurang lebih 20 persen sampai 30 persen. Sementara sektor infrastruktur sebagai akibat stimulus yang diberikan akan mengalami kenaikan sekitar 10 persen.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Urip Trimuryono, mengatakan bahwa walaupun ada kenaikan pada sektor infrastruktur, namun kenaikannya tidak sebanding dengan penurunan sector properti. Menurutnya, sumbangan terbesar selama ini adalah pada sektor properti. “Kenaikan infrastruktur hanya membuat industri semen tidak minus saja” jelasnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, industri semen masih mencatatkan pertumbuhan bagus terakhir pada truwulan 3 tahun lalu. Namun seiring dengan krisis keuangan yang berimbas ke Indonesia, membuat daya beli semakin menurun. Sektor properti juga mengalami penurunan akibat banyak produknya tidak terserap pasar.

Beberapa produsen semen akhirnya menurunkan target penjualannya, seperti PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk, dan PT Semen Andalas Indonesia yang memperkirakan penurunannya sebesar 5 persen. Namun ada juga yang justru menaikkan target penjualannya seperti PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja yang menargetkan kenaikan penjualan sebesar 3 persen.

Guna mengatasi ini, ia mengakui bahwa pihaknya terus melakukan lobby kepada pihak-pihak terkait dalam pembangunan infrastruktur. Seperti contohnya adalah departemen PU yang berwenang dalam pembangunan jalan tol. Persuasi yang dilakukan adalah dengan meyakinkan investor proyek jalan tol untuk menggunakan bahan baku semen dalam proyek jalan tol. “Dengan menggunakan semen memang investasinya menjadi lebih mahal, namun biaya pemeliharaan jauh lebih murah, apalagi semen bahan bakunya 100 persen lokal” jelasnya.

Namun semua itu sekarang terkendala dengan turunnya harga aspal. Aspal yang merupakan derivatif minyak, tentu harganya juga akan turun saat harga minyak mengalami penurunan. Walaupun begitu, ia tetap optimis karena nilai tukar rupiah juga melemah. “Aspal kan bahan bakunya impor, jadi kemungkinan permintaan juga akan turun” imbuhnya.

Hal lain yang juga akan dilakukan oleh produsen semen guna menyiasati penurunan properti adalah dengan meningkatkan penjualan ekspornya. Selama ini produk semen memang banyak difokuskan pada pasar lokal. Ekspornya pada 2008 lalu hanya mencapai kurang dari 10 persen, dan kebanyakan di pasar ASEAN. Untuk itu, banyak produsen semen yang mulai menjajaki pasar-pasar baru guna meningkatkan ekspornya. Selain ASEAN, pasar yang masih cukup potensial saat ini adalah negara-negara Timur Tengah dan beberapa negara Afrika. “Apalagi nagara seperti Dubai dan Maroko, yang sedang gencar membangun” terang Urip.

Secara optimis Urip juga mengatakan bahwa keadaan penurunan ini tak akan berlangsung lama. Menurutnya paling lama hanya akan bertahan dua tahu, dan setelah itu sector property akan kembali tumbuh. Karena inilah mengapa banyak produsen semen yang masih terus melakukan ekspansi usaha, baik itu perluasan pabrik ataupun pembangunan pabrik baru. Beberapa perusahaan semen yang akan melakukan pembangunan pabrik di tahun 2009 ini adalah PT Semen Gresik Tbk yang akan meneruskan pembangunan pabriknya di Pati, Jawa Tengah, ada juga PT Semen Tonasa yang akan memperluas pabriknya di Tonasa, dan terakhir PT Holcim Indonesia Tbk yang akan membangun pabrik baru di Tuban, Jawa Timur. Data Indonesia Cement Statistic (ICS) menunjukkan, bahwa kapasitas produksi semen Indonesia selama tahun 2006 dan 2007 adalah sebesar 44.890.000 ton, dengan total produksi sebesar 35.032.526 ton. Data ICS tahun 2006/2007 juga menunjukkan bahwa market share produk semen terbesar masih dipegang oleh PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk dengan besaran 30,9 persen, diikuti PT Semen Gresik Tbk dengan 21,7 persen, PT Holcim Indonesia Tbk dengan 14,6 persen, dan PT Semen Padang dengan porsi 14,2 persen, sisanya masih di bawah 10 persen.

Analis (Haryajid Ramelan/Kapita Sekurindo)
Adanya pembangunan infrastruktur pasti akan memberikan sumbangan yang bagus untuk industri semen. Adanya proyek-proyek semisal padat karya tentu akan meningkatkan penjualan industri semen, apalagi produsen dengan label BUMN. Selama ini yang menjadi permasalahan sektor properti adalah masih tingginya suku bunga bank yang berpotensi menurunkan daya beli produk properti dan membuat kredit macet. Adanya upaya untuk meingkatkan pasar ekspor menjadi langkah bagus karena pasar domestik kemungkinan terjadi penurunan. Pasar seperti Vietnam dan Thailand masih cukup bagus karena sedang giat melakukan pembangunan. Khusus untuk saham-saham produsen semen, kemungkinan tidak akan mengalami kenaikan signifikan, namun masih tetap berpotensi naik. Saat ini saham-saham yang cukup bagus adalah Semen Gresik dan Indocement. Saham-saham ini masih cukup bagus untuk dikoleksi long term.

Sunday, January 4, 2009

Lima Proyek Baru
BARU DUA PROYEK PT JASA MARGA TBK YANG HAMPIR SELESAI PEMBEBASAN LAHANNYA

JAKARTA - Pelaksanaan beberapa proyek baru PT Jasa Marga Tbk (JSMR) bisa jadi tertunda. Pasalnya dari 5 proyek yang akan digarap di tahun 2009, baru dua proyek yang hampir selesai masalah pembebasan lahannya, yaitu proyek tol Bogor Ring Road dan Semarang-Solo. Itupun masih ada sisa lahan yang belum selesai dibebaskan.

Direktur Utama JSMR, Frans S. Sunito mengakui, bahwa pihaknya bisa menuggu kabar dari pemerintah. Menurutnya pihaknya sama sekali tak memiliki kewenangan dalam masalah tersebut. "Itu semua wewenang pemerintah melalui Departemen PU" katanya. Ia menambahkan bahwa sebagai investor, pihaknya hanya tinggal melakukan penggantian investasi saja jika semuanya sudah diselesaikan.

Senada dengan Frans, Direktur Keuangan JSMR, Reynadi Hermansjah mengatakan, bahwa untuk pembebasan lahan, yang hampir pasti beres, adalah proyek tol Bogor Ring Road dan tol Semarang-Solo. Namun ia juga membenarkan bahwa, proyek tol Bogor Ring Road masih ada lahan yang belum selesai. Sedang untuk proyek tol Semarang-Solo pembebasan lahan juga baru mencapai Semarang-Ungaran. “Pembebasan lahan kan perlu proses yang banyak, namun kita tetap optimis target tercapai” jelasnya.

Sementara itu Kepala BPJT, Nurdin Manurung mengatakan bahwa untuk proyek tol Bogor-Ring Road, Semarang-Solo, dan Gempol-Pasuruan pemerintah telah memberikan dana BLU. Pemerintah sendiri telah menyediakan dana BLU sebesar Rp 1,44 triliun untuk proyek tol trans Jawa.

Proyek 5 jalan tol JSMR yang total berjarak 165 km itu, terdiri dari proyek tol Bogor Ring Road, Semarang Solo, Gempol-Pasuruan dan 2 proyek bagian dari JORR (Jakarta Outer Ring Road) yaitu Serpong-Kunciran dan Kunciran-Cengkareng. Keseluruhan proyek ini diperkirakan akan memakan biaya 17 triliun dan selesai 2012. Pembiayaannya 70 persen dari perbankan dan sisanya dari equity. "Yang 30 persen itu berupa kerjasama dengan mitra lain, dan kita punya porsi 55 persen dari itu" kata Reynadi. Untuk proyek tol Bogor Ring Road, Semarang-Solo dan Gempol-Pasuruan, JSMR telah mendapatkan dana Rp 7 triliun dari Bank Mandiri, BNI, BRI dan Bank Jabar.

Dua proyek bagian dari JORR sendiri akan menghabiskan dana Rp 3,5 triliun. Pendanaan 2 proyek itu juga masih belum jelas hingga sekarang. "Saat ini sedang kita jajaki pendanaannya melalui perbankan" kata Reynaldi. Khusus untuk proyek tol Bogor Ring Road, sebagain besar lahan untuk proyek telah berhasil dibebaskan. Diperkirakan sesi 1 proyek tol ini akan selesai di triwulan II tahun 2009.

Masalah pembebasan lahan memang selalu menjadi isu sensitif dalam pengembangan proyek jalan tol. Seperti contoh kasus sengketa tanah dalam pembangunan proyek tol Serpong-Ulujami di tahun 2007, dengan salah seorang warga yang mengklaim lahan tol Ulujami. Bahkan kala itu sempat terjadi pemblokiran jalan oleh warga yang merasa tidak puas. Kasus lain lagi adalah tertundanya pengoperasian tol Cikunir hingga hampir 2 tahun, juga akibat macetnya agenda pembebasan lahan. Walaupun akhirnya di tahun 2007, tol Cukinir resmi dioperasikan sebagai bagian dari proyek JORR.

Tahun ini JSMR juga akan melakukan pengembangan pada jalan tol yang sudah beroperasi. Diantaranya adalah pemindahan gerbang tol (GT) TMII ke Cimanggis, dan GT pondok gede ke Cibitung. Hal tersebut dilakukan untuk menyederhanakan transaksi dan kepadatan di GT tersebut. Dalam pemindahan GT ini, Frans menjamin tidak ada pembebasan lahan baru lagi. Lahan yang dipakai sepenuhnya masih menjadi asset JSMR. "Selain itu kita juga akan membangun jalur baru di tol Jagorawi, Cikampek, dan Sudiyatmo" katanya.

Terkait dengan kelanjutan proyek tol Sumo, Reynaldi mengatakan bahwa JSMR tetap akan berperan dalam proyek ini. Ia menambahkan bahwa sudah ada pernyataan dari PT Moeladi untuk mengakuisisi saham mayoritas. Hingga kini pemegang sahamnya mayoritas adalah PT Moeladi, sedangkan JSMR hanya memiliki 1,7 persen saja. Tahun 2008 lalu, memang pernah terjadi konfik dalam proyek ini. Kala itu pemilik konsesi Sumo PT Marga Nujyasumo Agung, berencana menjual sebagian besar sahamnya karena mengalami kesulitan pendanaan. Proses pembebasan lahannya pun kemudian dihentikan oleh P2T (Panitia Pembebasan Tanah). PT Wijaya Karya yang juga bertindak sebagai kontraktor proyek, akhirnya menyampaikan minatnya mengakuisisi proyek ini.

Namun di saat yang sama, PT Moeladi sebagai pemegang saham utama PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) juga menawarkan sahamnya kepada JSMR. Bahkan akhirnya terjadi kesepakatan antara PT Marga Nujyasumo Agung dengan JSMR, dan kemudian dilakukan due diligent oleh JSMR. Kontan saja hal tersebut membuat PT Wijaya Karya merasa dilangkahi oleh JSMR.

Reynaldi sendiri mengatakan bahwa dari hasil pembicaraan dengan PT MNA, telah disepakati JSMR dan WIKA bersama-sama menjadi pemegang saham sebesar 75 persen. “WIKA maksimal pegang 20 persen dan JSMR minimum pegang 55 persen” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut sekarang telah disampaikan kepada Menteri Pekerjaan Umum. “Kita belum berani menargetkan kapan pelaksanaannya, karena kita masih menunggu keputusannya” terangnya.

Dalam kaitan dengan masalah Sumo, Nurdin Manurung mengatakan bahwa, menurut Perpres No 67 tahun 2005, transaksi saham dalam proyek ini tidak boleh dilakukan sebelum ruas jalan tol tersebut beroperasi. Namun dalam perjanjian PPJT, transaksi tersebut dimungkinkan jika ada persetujuan dari Menteri Pekerjaan Umum. Ia mengatakan bahwa sejak 2008 lalu, pemerintah sudah berkali-kali melayangkan surat peringatan kepada PT Marga Nujyasumo Agung untuk meminta kejelasan atas konsorsium baru. “Namun pernyataan mereka selalu berubah-ubah” kata Nurdin. Ia sendiri berharap pihak MNA segera memberikan kejelasan siapa konsorsium baru itu untuk dinilai kelayakannya. Nurdin juga menyatakan bahwa kelayakan atas konsorsium baru tersebut di dasarkan atas dua hal, yakni konsorsium baru tersebut disetujui oleh sindikasi perbankan, dan kedua konsorsium baru tersebut tidak sedang dalam masalah hukum. “Kalau masih ada kasus hukum di dalamnya, tentu kredit perbankan juga tidak akan cair” terangnya. Lebih lanjut lagi ia mengatakan bahwa, pemerintah tidak mepersoalkan siapa yang akan jadi konsorsium baru, yang penting proyek tersebut bisa kembali dilanjutkan.

Buyback dan Divestasi
Selain agenda pembangunan proyek baru tersebut, JSMR juga masih memiliki agenda lainnya yang bisa saja dilakukan. Antara lain adalah kebijakan buyback yang kemungkinan akan dilanjutkan. Hingga Desember 2008 lalu, JSMR telah mengeluarkan dana Rp 100 miliar dari retained earnings. Dana tersebut telah digunakan untuk buyback 8 juta lembar saham JSMR. Namun begitu, Reynaldi belum berani mengatakan berapa nilai target buyback, hanya target buyback yang diperkirakan akan selesai Januari ini dan tidak akan diperpanjang.

Selain buyback, agenda lain yang bisa saja menjadi pilihan JSMR adalah divestasi penyertaan pada perusahaan asosiasi. Jika dilihat dari laporan keuangan JSMR Q3 tahun lalu, bahwa penyertaan JSMR pada perusahaan asosiasinya, yakni PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), terjadi tren penurunan. Tercatat bahwa sejak mengakuisisi 335.760.000 saham CMNP hingga 17,79 persen tahun 1997, kepemilikan JSMR atas saham CMNP terus berkurang. Pada Desember 2006, JSMR menjual 271.186.000 saham CMNP, hingga kepemilikannya berkurang menjadi 4,23 persen. Belum cukup sampai disitu, pada tahun 2007 JSMR menjual lagi 1.535.300 saham CMNP. Porsi JSMR pun menyusut menjadi 4,15 persen. Terakhir pada 2008 lalu, JSMR menjual lagi 1.393.500 lembar saham CMNP. Sampai saat ini kepemilikannya menjadi hanya 4,08 persen. Terkait kemungkinan divestasi ini, Reynaldi menyatakan bahwa JSMR bisa saja melakukan divestasi, namun juga tidak tertutup kemungkinan justru akan menaikkan jumlah penyertaan karena posisi kas masih cukup bagus. “Saat ini kita sedang menunggu timing yang tepat untuk itu” jelasnya.

Reynaldi sendiri menyatakan bahwa fundamental JSMR masih cukup kuat. Saat ini masih tersedia dana Rp 3 triliun sisa dana IPO sebagai cash backup yang siap digunakan untuk ekspansi usaha. “Satu atau dua proyek seukuran Sumo masih bisa kita lakukan” ungkapnya. Sekedar untuk diketahui, bahwa nilai investasi untuk proyek tol Sumo adalah Rp 2,23 triliun.

Tahun ini capex yang dianggarkan JSMR adalah sebesar Rp 4,7 triliun dengan pendanaan 40 persen kas internal dan 60 persen direncanakan dari perbankan atau pasar modal. Sebesar Rp 2,3 triliun dari capex tersebut, akan digunakan untuk pembangunan ruas baru. Selebihnya akan digunakan untuk peningkatan kapasitas tol dan kegiatan operasional.

Kenaikan Tarif
Tahun 2009 JSMR juga telah merencanakan akan menaikkan tarif tol lagi. Menurut Reynaldi, besarnya kenaikan masih belum bisa ditentukan, karena masih harus menunggu berapa besarnya inflasi 2007 ke 2009. Sebagai ilustrasi ia mengatakan bahwa, kenaikan tarif toll Sudiyatmo dan Cikampek sebesar 12 persen, adalah karena inflasi dari tahun 2006 ke 2008 sebesar 12 persen. “Kenaikan tariff 2009 diproyeksikan pada bulan September” ucapnya.

Tahun 2009 JSMR memproyeksikan dari semua ruas tol yang dimilikinya akan ada 929 juta transaksi kendaraan. Proyeksi pendapatan usaha tahun 2009 dari JSMR adalah sebesar Rp 3,692 triliun, dengan margin laba usaha 42 persen. Dengan asumsi tahun 2012 kelima proyek barunya tepat selesai, maka JSMR memproyeksikan pendapatan usaha sebesar Rp 7 triliun, dengan sumbangan dari jalan tol baru sebesar Rp 1 triliun.

Posisi kewajiban JSMR hingga Desember tahun lalu adalah sebesar Rp 6 triliun. Sebesar Rp 1,7 triliun adalah pinjaman perbankan, dan sisanya ada dalam bentuk obligasi. Khusus untuk kelanjutan pinjaman dari perbankan, JSMR meyakini ke depan tidak akan ada kesulitan. “Dengan equity di atas Rp 6 triliun, tentu leverage kita besar untuk pinjam dana lagi” jelas Frans S. Sunito. Memang obligasi dan hutang JSMR jatuh temponya masih di atas tahun 2012, setelah proyek barunya selesai dengan catatan, tepat target.