Friday, December 12, 2008

Andalkan Modal Investor Dan Refinancing
POLYSINDO TARGETKAN PENJUALAN USD 380 JUTA

JAKARTA - PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (POLY) targetkan penjualan USD 380 juta sampai akhir tahun ini. Penjualan di tahun 2007 sendiri adalah sebesar Rp 3,6 triliun. Sampai dengan 30 September 2008 total penjualan yang sudah dicapai POLY adalah Rp 3.042.220 juta. "Permintaan polyester sekarang kan meningkat, dan kita punya 25 persen market share domestik" kata V. Ravi Shankar, Direktur Utama POLY, Jumat (12/12).

Namun begitu, Ravi memperkirakan sampai akhir tahun ini POLY masih akan mengalami kerugian. "Tapi untuk EBITDA masih bisa positif atau paling tidak sama" lanjutnya. Per 30 September 2008 POLY mencatat kerugian bersih sebesar Rp 402.561 juta. Sementara EBITDA POLY per 30 September 2008 adalah sebesar Rp 109,61 miliar. Pada 31 Desember 2007 rugi bersih dan EBITDA POLY masing-masing sebesar Rp 1.028.032 juta dan USD 13.63 juta.

Penjualan POLY sendiri selama 2 bulan terakhir mengalami penurunan. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah adanya penurunan harga bahan baku industri sebagai akibat dari penurunan harga minyak dunia. Dengan penurunan harga bahan baku tersebut, mau tak mau membuat POLY juga menurunkan harga jual untuk menjaga persaingan. Bahan baku utama industri kimia dan serat sintetis POLY adalah PX, MEG dan A.ACID. Semuanya sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia. Pada September lalu harga PX, MEG dan A.ACID masing-masing adalah USD 1.247, USD 825 dan USD 672. Namun Desember ini harga ketiga bahan baku derivatif minyak tersebut diproyeksikan turun menjadi USD 750 untuk PX, USD 450 untuk MEG dan USD 500 untuk A.ACID. "Harga PX saat ini kan sekitar 700an" kata Ravi. Mengenai imbas krisis yang masih akan berlangsung, Ravi menjamin perusahaannya tidak akan melakukan PHK karyawan. “Sebagai respon krisis, kita hanya akan mengurangi produksi saja” jelasnya.

Sementara itu Tunaryo, Corporate Secretary POLY mengatakan, bahwa kerugian yang terjadi adalah sebagai akibat dari konversi hutang dengan mata uang asing. Hal tersebut membuat pos kewajiban POLY mengalami kenaikan per 30 September 2008 sebesar Rp 12.729.752.000.000. "Hutang dalam dollar tapi balance sheet kita dalam rupiah" jelas Tunaryo. POLY memeperkirakan bahwa kuartal I dan II tahun 2009, pasar akan sedikit lesu, namun setelah itu akan menguat.

Penjualan produk POLY ke depan juga akan difokuskan ke pasar lokal. "Tahun ini komposisinya 75 persen lokal dan 25 persen ekspor" kata Tunaryo. Walaupun begitu POLY juga tetap akan mencari pasar ekspor baru antara lain ke Amerika Selatan dan Timur Tengah. Tahun depan POLY tidak menganggarkan capex. Hal ini disebabkan adanya ketentuan untuk tidak menganggarkan capex selama 5 tahun, terhitung mulai tahun 2005, sebagai bagian dari restrukturisasi utang POLY.

Restrukturisasi Utang
POLY saat ini memang tengah menyelsaikan rekstrukturisasi utang dengan PPA atas hutang berjaminan senilai USD 1 miliar. "Sebesar 23 persen sekarang ada di PPA, dan bondholder sendiri sudah menyetujui" kata Tunaryo. Diperkirakan awal tahun 2009 restrukturisasi tersebut sudah selesai. Restrukturisasi ini sendiri menjadi pengahambat upaya POLY untuk mendapatkan pinjaman dari perbankan. “Sebelum restrukturisasi selesai, kita belum bisa pinjam ke perbankan selain yang sudah ada dari Damiano” jelas Tunaryo.

Selama ini POLY mengandalkan pendanaan dari Damiano Invesment BV, pemegang 69 persen saham POLY. Sejak tahun 2005 sampai saat ini Damiano Investment BV, telah mengucurkan dana sebesar USD 77,68 juta dimana USD 25,68 juta sebagai fasilitas modal kerja dan USD 52 juta dalam bentuk letter of credit untuk pembelian bahan baku. POLY memang tengah mengupayakan mencari pinjaman dari perbankan, khususnya bank asing, karena hal tersebut paling rasional dilakukan sekarang. “Tapi semua tetap kita perhatikan perkembangan suku bunganya” kata Tunaryo. Selain pendanaan dari Damiano Investment BV, POLY juga mengusahakan untuk mendapat refinancing dari pelanggannya. Penyelesaian restrukturisasi yang terlalu lama ini menurut Tunaryo, disebabkan karena PPA ingin menyelesaikan semua kasus restrukturisasi sekaligus. “Apalagi dengan adanya pergantian jajaran direksi PPA beberapa bulan lalu, waktunya jadi tertunda sebentar” jelas Tunaryo.

Menanggapi rendahnya harga saham POLY saat ini, Tunaryo mengatakan bahwa kala itu ketika BPPN dibubarkan tahun 2004, banyak yang mengira POLY juga telah ditutup. Karena saat itu restrukturisasi utang POLY masih dalam penanganan BPPN. Akhirnya ekspektasi atas saham POLY menjadi rendah. POLY sendiri sebenarnya telah melakukan reverse stock Februari lalu, dimana jumlah sahamnya saat itu adalah 12.357.255.040 lembar, dengan nilai Rp 16 triliun. Setelah adanya reverse stock saham POLY memang sempat naik, namun kemudian perlahan turun hingga saat ini berada di level Rp 50 per lembar.

Thursday, December 11, 2008

Capex Rp 450 Miliar
PT SUMBER ALFARIA TRIJAYA TBK TERAPKAN STRATEGI EKSPANSI AGRESIF

JAKARTA - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) anggarkan capex 450 miliar tahun 2009. Capex tersebut rencananya akan didanai dari kas internal perusahaan serta dari IPO Januari mendatang. Perusahaan ritel dengan merek dagang Alfamart ini, memang telah memutuskan untuk listing di bursa. Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 343.177.000 atau sekitar 10 persen modal disetor perseroan dengan harga nominal Rp 100.

Pendaftaran ke Bapepam LK sudah dilakukan sejak 19 November 2008 lalu. Pencatatan umum pada 7-9 Januari 2009, sehingga diperkirakan bisa listing tanggal 15 Januari 2009. Selaku penjamin efek IPO tersebut, Alfamart telah menunjuk PT Ciptadana Securities dan PT Indoprimer Securities. “Range harga 425-475 sehingga ditargetkan akan ada dana sekitar 160an miliar dari IPO” kata Hans Prawira, Finance Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Kamis (11/12).

Sampai saat ini SAT telah melakukan premarketing dan sudah ada investor institusi asal singapura dan hongkong yang tertarik. "Memang mayoritas akan ke investor institusional" kata Ferry Budiman Tanja, Presdir PT Ciptadana Securities. Untuk saham SAT, target PE nya tahun 2009 sekitar 8 sampai 10 kali, namun tahun 2010 akan turun menjadi 6 sampai 8 kali. Dana belanja modalnya sendiri akan digunakan untuk membangun Distribution Centre (DC) dan penambahan gerai Alfamart, minimarket milik SAT. Sampai dengan Juni 2008 SAT sudah memiliki 2.505 gerai dan 11 DC untuk Alfamart. "Sampai akhir tahun ini kita tergetkan gerai menjadi 2.750" kata Hans. Tahun 2009, SAT juga sudah merencanakan untuk menambah gerai lagi sebanyak 400 gerai.

SAT adalah perusahaan ritel berformat minimarket dan waralaba, yang mendistribusikan berbagai produk consumer goods melalui minimarket Alfamart. Antara lain produk-produk dari PT Unilever Indonesia Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Frisian Flag Indonesia, PT Sayap Mas Utama, PT Sari Husada, PT HM Sampoerna Tbk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Smart Tbk, PT Djarum dan PT Nirwana Lestari. Kesepuluh pemasok tersebut memberikan 37,4 persen dari penjualan bersih SAT paruh pertama tahun ini. Format franchise Alfamart sendiri memberikan kontribusi signifikan pada penjualan SAT. Pada peruh pertama tahun 2008 diperoleh pemasukan Rp 678 miliar dari franchise, naik 68 persen dari sebelumnya. Saat ini total ada 532 franchise store yang tersebar di berbagai wilayah.

Gerai Baru
Saat ini SAT tengah mengembangkan 3 DC baru yang berlokasi di Palembang, Bali dan satu lagi di pulau jawa. Sebagai informasi untuk membangun satu gerai Alfamart, dibutuhkan dana sekitar Rp 500 juta. Dan perlu dana minimal Rp 50 miliar untuk membangun satu DC. Jika dikalkulasikan maka dana yang dibutuhkan SAT untuk target pembangunan gerai dan DC adalah sekitar Rp 350 miliar.

Untuk tahun ini, minimarket Alfamart mentargetkan penjualannya naik 30 persen. Sedang tahun 2009 sendiri target penjualannya adalah 20 persen. "Penurunan itu karena starting-nya kan juga sudah bertambah" kata Hans. Meskipun kondisi ekonomi masih sulit, namun SAT justru akan melakukan ekspansi agresif tahun depan. Menurut Henry Komala, Vice President Director SAT, justru saat ini banyak peluang bagus yang harus segera diambil. Menurut Nielsen Research tahun ini industri ritel tumbuh 17 persen. Pangsa pasar dari minimarket Alfamart sendiri saat ini adalah sekitar 30 sampai 40 persen. Henry sendiri cukup yakin dengan kabijakan tersebut. “Bisnis ritel demand nya tetap akan bagus, dilihat dari target, tiap hari kita bisa buka 2 gerai, siapa cepat dia dapat” kata Henry.

Kinerja SAT paruh pertama tahun 2008 menunjukkan adanya perbaikan. Laba bersih 6 bulan pertama 2008 sudah mencapai Rp 44.008 juta. Padahal pada Desember 2007, laba bersihnya Rp 126.289 juta pada Desember 2007. Pada pos total aktiva, tahun 2008 menunjukkan Rp 1.899.369 juta, mengalami kenaikan dari aktiva per 31 Desember 2007 yang sebesar Rp 1.591.587 juta. Penjualan bersih mengalami peningkatan dari per 31 Desember 2007 Rp 6.056.255 juta, per Juni 2008 penjualan bersih sudah mencapai Rp 3.606.062 juta.

Penjualan produk makanan memberikan kontribusi terbesar pada penjualan SAT yakni 70,16 persen. Jumlah kewajiban 2008 menjadi Rp 1.382.178 juta dari sebelumnya Rp 1.591.587 juta per 31 Desember 2007. Kenaikan sebesar 23,6 persen ini sebagai akibat kenaikan kewajiban lancar SAT sebesar Rp 171.536 juta atau sekitar 15,9 persen. Pada pos hutang bank jangka pendek memang terdapat kewajiban Rp 145.000 juta, terdiri dari fasilitas time loan insidentil Rp 100.000 juta dan fasilitas time loan sebesar Rp 45.000 juta. Fasilitas pinjaman ini sebenarnya telah dimulai sejak Oktober 2007, dengan kreditur Bank BCA. Saat itu SAT mendapat fasilitas time loan dan time loan insidentil masing-masing sebesar Rp 150.000 juta dan Rp 120.000 juta. Fasilitas time loan kini telah lunas, namun time loan insidentil diperpanjang lagi sampai 26 Januari 2009 dengan jumlah maksimum Rp 100.000 juta. Lalu pada April 2008 SAT mendapatkan fasilitas time loan lagi dari Bank BCA dengan jumlah Rp 145.000 juta, yang akan jatuh tempo pada 18 Oktober 2009.

Analis Deo Rawendra, Reliance Securities
Strategi ekspansif memang sudah seharusnya dilakukan oleh perusahaan sector ritel. Karena sesungguhnya yang menjadi competitor dari Alfamart adalah pasar-pasar dan toko tradisional. Yang harus dicermati adalah jika di kemudian hari pemerintah mengeluarkan regulasi untuk melindungi pasar dan took tradisional tersebut. Hal ini tentu akan menghambat pertumbuhan Alfamart yang formatnya minimarket. Namun walaupun begitu pada kenyataannya bahwa industri ritel adalah industri yang selalu punya demand, karena produknya consumer goods. Hampir tidak ada penurunan signifikan walau kondisi ekonomi sedang buruk. Biasanya orang jika hendak membeli sesuatu di pasar modern maka ia akan terkena impulse buying. Barang yang sebenarnya tidak ingin dibeli akhirnya dibeli juga akibat display yang menarik. Hal-hal inilah yang bisa digunakan toko ritel dalam usahanya. Karena biasanya ritel penerimaannya tidak langsung besar, namun sedikit-sedikit tapi konstan. Frekuensi transaksi inilah yang harus dikembangkan Alfamart. Salah satunya dengan pembukaan gerai-gerai baru di wilayah-wilayah yang baru juga. Untuk sahamnya ke depan akan sedikit bagus. Karena brand Alfamart sudah lama dikenal orang. Tapi kenaikan harganya tidak akan terlalu tinggi.


Wednesday, December 10, 2008

Pasang Target Tinggi
PT BUMI CITRA PERMAI TBK IPO JANUARI 2009

JAKARTA - PT Bumi Citra Permai Tbk rencanakan listing di bursa tanggal 14 Januari 2009. Jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 350 juta lembar dengan nilai nominal Rp 100 per lembar. Range harga penawarannya sendiri adalah Rp 105 sampai Rp 120. Selain itu juga akan diterbitkan waran seri 1 sejumlah 175 juta dengan rasio IPO 2:1, dimana setiap pembeli 2 saham baru akan memeperoleh 1 waran. "Dengan adanya IPO ini saham publik menjadi sebesar 33,3 persen"demikian yang disampaikan Rudi Wijaya, Direktur PT Bumi Citra Permai Tbk, Rabu (10/11).

Rencananya dana yang dihimpun dari IPO ini 70 persen akan digunakan untuk pembebasan lahan, 20 persen untuk pembiayaan infastruktur dan sisa 10 persen untuk tambahan modal kerja. Sebenarnya IPO ini telah direncanakan sejak tahun 2005 lalu, namun karena belum siap maka akhirnya ditunda. "PT Bumi Citra Permai sebenarnya telah mengganti anggaran dasar menjadi Tbk tahun 2005, tapi 2008 akhirnya dihapus karena masih terlalu berat"kata Rudy Tuahunse, Director Investment Banking Overseas Securities, selaku penjamin pelaksana emisi efek. PT Bumi Citra Permai adalah perusahaan yang bergerak di bidang real estate khususnya pembangunan kawasan industri.

Saat ini perusahaan tersebut tengah mengembangkan kawasan industri di Cikupa Tigaraksa, Tangerang, Banten. Kawasan bernama Millenium Industrial Estate itu memiliki luas 77 hektar. Menurut Rudi, dari lahan tersebut sudah terjual 21 hektar atau 27,3 persen. "Kita masih akan menambah 25 hektar lagi untuk pembangunan tahap 2" kata Rudi.

Walau kondisi ekonomi sedang sulit namun, PT Bumi Citra Permai Tbk cukup yakin dengan prospek bisnisnya ke depan. Bahkan mereka berani memasang target laba bersih akhir 2008 sebesar Rp 2.358.097.000. Jumlah tersebut meningkat drastis 112 persen dari laba bersih tahun 2007 yang sebesar Rp 1,085 miliar. Sampai dengan 30 Juni 2008 laba bersih yang berhasil dibukukan oleh perusahaan adalah Rp 1,15 miliar. "Kita cukup yakin target tersebut tercapai, bahkan untuk 2009 kita targetkan 5 miliar"jelas Edward Halim, Direktur Keuangan PT Bumi Citra Permai Tbk.

Senada dengan Edward, Rudi juga merasa optimis karena telah ada kerjasama dengan berbagai pihak. Gardu listrik berkapasitas 2x360 MW telah dikembangkan sampai 2009 hasil kerjasama dengan PLN. Saluran telepon dan internet juga telah tersedia hasil kerjasama dengan TELKOM. Pipa gas juga sudah terpasang, kerjasama dengan PGS. "Kuartal 3 tahun depan kita akan lakukan kerjasama water treatment, namun belum kita tentukan dengan siapa"jelas Rudi.

Guna menyiasati persaingan usaha yang ketat, PT Bumi Citra Permai Tbk berani pasang tarif rendah. "Untuk LOT tertentu, harga kita pasang sekitar 300 sampai 400 ribu per m2, lebih rendah dari rata-rata harga sekarang 500 ribuan" kata Rudi. "Bisnis property real estate dan kawasan industri adalah hal yang berbeda"lanjutnya. Beberapa perusahaan yang telah menjadi pelanggan PT Bumi Citra Permai adalah PT Sanex Steel, PT Tira Marga Trakindo Group, PT Sanggar Sarana Baja dan PT Chakra Jawara.

Kinerja PT Bumi Citra Permai Tbk sampai paruh kedua 2008 terbilang cukup bagus. Total aktiva tengah tahun pertama 2008 adalah Rp 89,942 miliar. Naik 12,8 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 79,751 miliar. Pendapatan bersih 2008 sebesar Rp 15,185 miliar. Turun 11,7 persen dari tahun 2007 sebesar Rp 17,200 miliar. Beban usaha 2008 sebesar Rp 2,554 miliar, turun drastis tahun 2007 yang mencapai Rp 5,755 miliar. Total kewajiban dan ekuitas tahun 2008 adalah Rp 89,942 miliar. Naik 12,8 persen dari 2007 sebesar Rp 79,751 miliar. Maret lalu PT Bumi Citra Permai Tbk memang mendapatakan komitmen pinjaman dari Bank Capital senilai Rp 5 miliar. Namun menurut Edward, pinjaman dengan tenor 1 tahun terbut, baru sekitar Rp 2,5 miliar yang digunakan.


Tuesday, December 9, 2008

BUDI ACID BUYBACK RP 3 MILIAR

JAKARTA – Budi Acid Jaya Tbk (BUDI) lakukan buyback terhadap sahamnya. Aksi korporasi ini telah dilakukan sejak 21 Oktober lalu. Sampai dengan Desember ini saham yang telah di buyback berjumlah 22.751.000 lembar saham. Jumlah dana yang digunakan untuk buyback mencapai Rp 3,409 miliar.


Proses buyback sendiri terakhir dilakukan dalam tiga periode yakni 21 Oktober sampai 31 Oktober, 3 November samapai 28 November, dan terakhir 1 Desember sampai 5 Desember lalu. Masing-masing dengan jumlah maksimal pembelian 19 persen dari modal disetor, dengan jumlah dana maksimum pembelian adalah Rp 70 miliar. Pada periode pertama jumlah dana yang digunakan dipakai untuk buyback adalah Rp 2,178 miliar. Periode ke dua sebesar Rp 985 juta, dan period eke tiga Rp 268 juta. Sehingga total dana sisa alokasi buyback maksimum tiga periode adalah Rp 201,270 miliar. Kebijakan melakukan buyback ini sebenarnya telah disetujui oleh RUPS tanggal 19 Juni 2008 untuk melakukan pembelian kembali atas 5 persen dari jumlah saham yang ditempatkan di sector penuh. Jika dikalkulasikan sejak Juni, maka total pembelian buyback adalah Rp 9,095 miliar untuk 28.625.000 lembar saham. Aksi buyback saham itu sendiri adalah sebagai antisipasi atas kondisi pasar yang berpotensi krisis. Sampai dengan September 2008 ini jumlah saham BUDI yang beradar adalah 3.754.944.833 lembar dengan harga pasar Rp 240 per lembar.

BUDI adalah perusahaan yang bergerak pada produksi dan penjualan tapioca, asam sitrat, karung plastic, asam sulfat dan bahan kimia lain. Kinerja BUDI sampai triwulan III tahun 2008 terlihat cukup bagus. Pada pos laba bersih, tahun ini terjadi peningkatan sebesar 123 persen. Tahun 2008 laba bersih BUDI adalah Rp 70,128 miliar, sedang pada tahun 2007 adalah Rp 31,484 miliar. Pada pos penjualan juga tercatat nilai yang cukup fantastis yakni sebesar Rp 1.219.373.000.000 pada tahun 2008. Tahun 2007 sendiri penjualan bersih hanya mencapai Rp 933,682 miliar. Padahal pada sisi beban usaha juga terjadi kenaikan 26 persen yakni dari tahun 2007 Rp 49,243 miliar menjadi Rp 61,965 miliar. Begitu juga dengan jumlah kewajiban dan ekuitas yang menunjukkan kenaikan dari tahun 2007. Tahun ini jumlah kewajiban dan ekuitas BUDI adalah sebesar Rp 1.667.306.000.000, meningkat 20 persen dari 2007 yang sebesar Rp 1.389.576.000.000.

Sampai saat ini BUDI memiliki 7 anak perusahaan yakni PT Indo Bangna Prima yang bergerak pada bidang investasi, PT Budi Starch International, PT Budi Lumbung Ciptatani, PT Budi Saktira Starch ketiganya produsen tepung tapioca, PT Ve Wong Budi Indonesia produsen monosodium glutamate, PT Associated British Budi produsen glukosa dan fruktosa serta Budi Acid Jaya Singapore Pte. Ltd yang bergerak di bidang perdagangan.

Dalam beberapa tahun belakangan ini BUDI fokus dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas dengan kerjasama dari berbagai pihak. Salah satunya adalah proyek PLTBG di Gunungbatin Lampung Tengah. Proyek senilai USD 7 juta tersebut didanai dari pinjaman oleh Sumitomo Corporation senilai USD 3,5 juta dan sisanya dari pendanaan internal. PLTBG itu sendiri memiliki kapasitas sebesar 5,7 MW. Proyek-proyek yang dibangun di lokasi pabrik BUDI tersebut, nampaknya adalah bagian dari strategy BUDI untuk menekan beban biaya energy. Dengan memiliki PLTBG tersebut akan meningkatkan efisiensi biaya daripada jika menggunakan solar atau batubara.

Friday, December 5, 2008

SARA LEE OPTIMIS PENJUALAN NAIK 10 PERSEN


JAKARTA – PT Sara Lee Body Care Indonesia Tbk (PROD) targetkan penjualan naik 10 persen tahun depan. Keyakinan ini diungkapkan oleh Johnson Parhusip, corporate secretary PROD. Menurutnya, hal yang mendasari semua itu adalah adanya push target dari share holder yakni Sara Lee/DE NV anak usaha dari PT Sara Lee Corporation USA. Lembaga ini saat ini menguasai 89,3 persen saham PROD.


Guna mendukung pencapaian target tersebut PROD telah menginvestasikan uang pada beberapa pos. Beberapa peralatan produksi telah diperbaharui, yang semula menggunakan tenaga manual kini diganti dengan mesin. Pelaksanaannya sendiri telah dimulai awal tahun 2008 dengan memakan biaya Rp 1,5 miliar. Selain melalui optimalisasi mesin baru, Sara Lee juga menggiatkan promosi atas produk-produknya. “Tahun 2009 nanti alokasi untuk promosi ada kurang lebih 20 miliar” kata Johnson.


Produk yang menjadi unggulan dari PROD sendiri adalah produk dengan merek dagang “SHE”. Tahun 2008, Produk cologne wanita ini mengalami pertumbuhan 4 persen atau senilai Rp 2,561 miliar. Namun belakangan produk ini mendapat persaingan ketat dari PT Mandom Indonesia Tbk yang dulu bernama PT Tancho Indonesia. PROD sendiri mengakui pertumbuhan yang ditargetkan untuk produk “SHE” adalah 10-20 persen. Untuk menyiasatinya PROD memfokuskan diri untuk membuat peroduk tersebut dengan kemasan baru sesuai pasar. Salah satunya adalah produk SHE mini yang diakui Johnson mendapat respon yang baik dari konsumen. Strategy lain yang ditempuh oleh PROD adalah dengan push target pada produk Zwitsal. Produk ini tahun ini mengalami peningkatan sebesar 17 persen berdasar volume dan 25 persen secara value. Nilainya sendiri mencapai Rp 15,655 miliar.


Namun Johnson menyatakan bahwa tahun depan PROD tidak akan melakukan diversifikasi produk. PROD hanya akan menjaga efisiensi produk. “Kalau penjualannya turun tentu kita juga akan mengurangi promosi produk tersebut” kata Johnson. Penjualan produk-produk PROD saat ini adalah 25 persen untuk ekspor dan 75 persen untuk pasar dalam negeri. Untuk bahan baku sendiri saat ini komposisinya adalah 25 persen impor dan 75 persen local. Johnson menambahkan bahwa komposisi ini bisa saja berubah sewaktu-waktu. Apa lagi dengan kenaikan nilai tukar yang menyebabkan pembelian biaya bahan baku impor mengalami peningkatan. “Yang mana yang menawarkan harga bagus, itu yang kita ambil” jelasnya. Strategi ini membawa hasil yakni penurunan presentase harga pokok penjualan terhadap penjualan menjadi 72 persen dari sebelumnya 77 persen.


Kinerja PROD pada tahun fiscal 2008 ini menunjukkan performa yang cukup baik. Pertumbuhan penjualan tahun ini adalah 10,2 persen dan memperoleh keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 58,168 miliar. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 16,7 persen dari tahun lalu. Penjualan mencapai Rp 238,6 miliar atau tumbuh 10,2 persen dari tahun lalu yang hanya sebesar Rp 216,5 miliar. Kenaikan ini menurut PROD adalah dampak dari peningkatan ekspor sebesar 9 persen dan kenaikan harga pasar dalam negeri sebesar Rp 216,5 miliar. Harga saham PROD di lantai bursa berada pada level Rp 2.250 per lembar. Nampaknya akan ada indikasi bahwa PROD akan melakukan go private. Johnson sendiri belum bisa memberikan pernyataan tentang masalah itu. Ia hanya mengatakan bahwa sebenarnya PROD tidak berniat untuk listing di bursa. Namun karena pada waktu itu ada peraturan yang mengharuskan perusahaan yang berdiri minimal 15 tahun harus listing minimal 25 persen sahamnya, maka Sara Lee akhirnya listing pertama di BES kala itu. “Kini peraturan tersebut sudah tidak ada saham kita sekarang kan banyak diperjualbelikan di bawah tangan saja” kata Johnson.

CAPEX PAN BROTHERS TEMBUS US$ 50 JUTA

JAKARTA - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) menganggarkan capex USD 50 juta sampai dengan tahun 2012. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan usahanya. Dana itu sendiri dialokasikan sebanyak 20 juta untuk PBRX dan 30 juta untuk PT Pancaprima Ekabrothers. PT Pancaprima Ekabrothers adalah anak perusahaan dari PBRX yang sama sama bergerak di bidang industri pakaian jadi. Namun PT Pancaprima Ekabrothers lebih mengkhususkan diri dalam produksi jaket.


Rencananya PBRX akan menggunakan 60 persen dari dana tersebut untuk pengembangan pabrik baru di daerah Solo. Sebelumnya PBRX juga telah memiliki pabrik yang berlokasi di Solo dan Tangerang. Pabrik baru ini sudah beroperasi namun masih terus akan dikembangkan. "Sampai saat ini pengembangannya sudah mencapai 40 persen"demikian yang disampaikan Fitri Ratnasari Hartono, Finance Director PBRX, Jumat (5/12). Komitmen dana 20 juta itu sendiri menurut Fitri belum dicairkan sama sekali. Ia mengakui bahwa perusahaan masih akan wait and see khususnya pada pos sales, untuk rencana pengembangan selanjutnya.

Capex tersebut didanai dari pinjaman oleh Bank HSBC dan Standard Chartered Bank dengan jaminan tanah, gedung dan peralatan yang dibeli. Untuk PT Pancaprima Ekabrothers rencananya akan menggunakan dana capex sebesar 30 juta yang didanai dari fasilitas pinjaman dari Citibank. Pada periode 2007-2008 ini capex yang telah direalisasikan adalah sebesar USD 18 juta.

Selama ini penjualan PBRX dikhususkan ke pasar ekspor. Dengan 70 persen untuk pasar Amerika, 25 persen pasar Eropa dan sisanya dipasarkan diberbagai negara. Tahun 2009 sendiri buyers asal Amerika diperkirakana akan menurunkan permintaan pada produk garmen sebesar 20 persen. Namun PBRX tidak terlalu khawatir akan masalah ini karena PBRX saat ini termasuk top produsen. Ludijanto Setijo, Vice President PBRX mengatakan bahwa biasanya buyers hanya akan memotong permintaan dari produsen-produsen kecil. Sehingga PBRX sama sekali tidak akan terpengaruh seandainya kondisi tersebut terjadi. "Kita proyeksikan penjualan kita ke depan tidak akan turun" katanya. Untuk sistem transaksi sendiri PBRX menerapkan pembayaran diterima 6 bulan dimuka. Saat ini PBRX juga telah menerima komitmen tersebut. "Sampai juni 2009 penjualan kita masih aman"jelas Ludijanto.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan riset guna menghasilkan produk yang lebih kompetitif. "Tahun depan cost making akan naik sekitar 8-9 persen, namun FOB tetap"katanya. Total produksi dari PBRX rata-rata adalah 2 juta pieces per bulan. Besarnya produksi sendiri sangat tergantung dari permintaan pasar, karena di Eropa dan Amerika ada 4 musim yang berbeda.

Selama 9 bulan tahun ini penjualan PBRX telah mencapai Rp 1.393,025 miliar. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2007 untuk periode yang sama. Pada 9 bulan pertama tahun 2007 penjualan PBRX adalah Rp 1.239,630 milar. PBRX memproyeksikan penjualan sampai akhir tahun 2008 ini sebesar Rp 1.802,03 miliar. Pada pos laba bersih selama 6 bulan pertama 2008 adalah sebesar Rp 18,947 miliar. Sedikit mengalami kenaikan dari 2007 sebesar Rp 18,319 untuk periode yang sama. PBRX mengakui bahwa kinerjanya akan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena produknya untuk tujuan ekspor. Hal ini pula yang mendorong PBRX melakukan outsourcing untuk produk baru dengan perusahaan yang terkena dampak pemotongan oleh buyers. "Ini agar produk range kita menjadi banyak, namun tetap pada range yang aman"jelas Ludijanto. Selain itu guna meningkatkan pelayanan kepda konsumen, PBRX telah membuka representative office di Hongkong dan Singapura. Ke depan representative office ini akan melayani seperti jika buyers membeli dari importir namun dengan jumlah yang lebih sedikit.

Analis : Ketut Tri Bayuna Bali Securities
Industri garmen ke depan sepertinya kurang menjanjikan. Apalagi untuk ekspor Amerika dan Eropa. Karena banyak yang mengatakan bahwa resesi yang terjadi di amerika dan eropa akan berjalan dalam jangka waktu yang agak lama. Pertumbuhannya akan seperti Jepang saat ini yang masih di bawah 1 persen. Perusahaan seharusnya bisa melakukan diversifikasi pasar disamping me maintain pasar yang sudah ada. Langkah-langkah pengamanan juga harus ditempuh antara lain dengan menekan fixed cost. Karena pos ini akan langsung berhubungan dengan earnings disamping penjualan. Menjaga pasar dan penjualan akan menjadi tugas utama dari perusahaan. Industri garmen hampir sama dengan property. Adanya penurunan demand akan mempengaruhi pada harga sahamnya. Rekomendasi SELL.

Thursday, December 4, 2008

POLYSINDO CARI PINJAMAN ASING


JAKARTA – Guna menambah modal usaha, PT Polysindo Eka Perkasa Tbk (POLY) akan mencari pinjaman uang dari lembaga luar negeri. Saat ini hal tersebut masih dalam tahap pembicaraan dan kelak POLY hanya tinggal melakukan finalisasinya saja. “Semuanya sedang dibicarakan oleh Damiano Investments BV yang menjadi pemegang saham mayoritas POLY” demikian yang disampaikan oleh Corporate Secretary POLY, Tunaryo, Kamis (4/12).

Sejak 2005 sampai saat ini Damiano Investment BV, telah mengucurkan dana sebesar USD 77,68 juta dimana USD 25,68 juta sebagai fasilitas modal kerja dan USD 52 juta dalam bentuk letter of credit. Damiano Investement BV sendiri mulai mengakuisisi saham POLY sejak tahun 2005 lalu ketika POLY tengah diambang kebangkrutan. Perusahaan asal Belanda itu kini memegang 59,05 persen saham POLY.


Triwulan III tahun ini POLY belum bisa mencatatkan laba laporan keuangannya. Pada Q3 tahun ini rugi bersih yang dibukukan oleh POLY adalah Rp 402.561.144.788. Jumlah tersebut sedikit mengalami penurunan 19,6 persen dari tahun 2007 yaitu Rp 500.567.464.427. Menurut Tunaryo, hal ini banyak dipengaruhi oleh naiknya utang dalam bentuk valas. Fluktuasi nilai tukar telah membuat nilai utang POLY dalam bentuk valas menjadi membengkak. Namun Tunaryo meyakini bahwa sampai dengan akhir tahun ini EBITDA POLY akan mengalami peningkatan. EBITDA POLY sampai dengan September 2008 ini mencapai Rp 109,61 miliar. “Saya berharap walau pos laba kita masih minus, tapi EBITDA ke depan akan positif” jelas Tunaryo.


Selama ini bisnis POLY tergolong bisnis yang permintaannya cukup stabil. Harga bahan baku industrinya sendiri juga akan menunjukkan tren penurunan. Industri kimia POLY sangat bergantung pada bahan baku berupa purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG). Keduanya adalah raw material produk derivative dari minyak yang harganya ke depan diprediksi masih akan mengalami penurunan. “Bahan baku itu kan semua impor, kalau harga turun tentu kita dapat menekan pengeluaran”kata Tunaryo. Selama ini pembelian bahan baku inilah yang membuat beban harga pokok penjualan POLY mengalami kenaikan. Pada triwulan III tahun ini, beban HPP POLY mencapai Rp 3.152.463.303.122. Jumlah tersebut naik 15,5 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 2.730.562.115.753.


POLY adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kimia dan tekstil. Untuk industri kimia POLY memiliki pabrik di Karawang, Jawa Barat, sedang untuk industri tekstil pabrik POLY berada di Kendal, Jawa Tengah. Kedua pabrik POLY tersebut saling melengkapi, karena produk-produk dari industri kimia akhirnya juga akan digunakan untuk industri tekstil. Sampai saat ini POLY masih fokus pada pasar dalam negeri. Hal ini terbukti dengan pemasaran produk POLY 70 persen di pasar domestik. Untuk mengantisipasi risiko currency, POLY menerapkan pembayaran dengan menggunakan Dollar. “Semua kita pakai dollar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri” kata Tunaryo.


Kinerja keuanga POLY sampai dengan triwulan III tahun 2008 menunjukkan sedikit perbaikan. Pada pos aktiva lancar, tahun ini adalah sebesar Rp 1.608.425.030.036. Sedikit mengalami kenaikan dari tahun 2007 yakni Rp 1.434.052.716.195. Jumlah kewajiban dan ekuitas Q3 2008 adalah Rp 5.249.713.660.929. Sebelumnya di tahun 2007 pos ini terisi sebesar Rp 5.557.020.192.896. Pendapatan usaha yang diterima Q3 tahun ini mengalami kenaikan sebesar 17,6 persen. Tahun 2007 pendapatan usaha adalah Rp 2.586.774.867.684, sedang tahun 2008 adalah Rp 3.042.219.895.257.


POLY nampaknya akan terus memperkuat struktur permodalan mereka. Tunaryo mengakui bahwa sampai saat ini POLY tidak memiliki kewajiban hutang pada bank manapun. Dengan adanya rencana komitmen pinjaman pada lembaga keuangan luar negeri tentu merupakan indikasi bahwa POLY akan melakukan ekspansi usaha. Namun Tunaryo justru tidak berani mentargetkan pertumbuhan tahun depan. “Kita akan fokus pada maintaincapex tahun 2009. Posisi utang usaha POLY sampai Q3 tahun ini adalah, jumlah hutang kepada kreditur tidak terjamin setelah restrukturisasi sebesar US$ 18.670.630 ditambah hutang bunga yang dikapitalisasi per tanggal 30 September 2008 dan 2007 masing-masing sebesar US$ 771,844 dan US$ 381,487. Total jumlah utang usaha POLY per 30 September adalah sebesar US$ 19,442,474. operasional dengan pertumbuhan sedikit di atas tahun lalu” jelasnya. Hal ini dikarenakan pada RUPSLB POLY Februari lalu, telah disetujui tidak ada alokasi capex tahun 2009. Posisi utang usaha POLY sampai Q3 tahun ini adalah, jumlah hutang kepada kreditur tidak terjamin setelah restrukturisasi sebesar US$ 18.670.630 ditambah hutang bunga yang dikapitalisasi per tanggal 30 September 2008 dan 2007 masing-masing sebesar US$ 771,844 dan US$ 381,487. Total jumlah utang usaha POLY per 30 September adalah sebesar US$ 19,442,474.


Pada perdagangan di lantai bursa kemarin, saham POLY berada pada level Rp 50 per lembar saham. Pada Februari lalu, RUPSLB POLY telah sepakat melakukan reverse stock dengan rasio 20 berbanding 1. Hal itu berarti bahwa tiap 20 saham lama, akan menjadi 1 saham baru. Tunaryo mengatakan bahwa kebijakan tersebut ditempuh guna meningkatkan likuiditas sahamnya. “Jumlah saham kita kan terlalu banyak saat itu, jadi kita lakukan reverse stock agar sesuai dengan kinerja perusahaan”jelasnya. Kala itu modal saham POLY adalah sebesar Rp 16 triliun yang terbagi atas 12.357.255.040.